Now Reading
Wajah Eropa dan Corona di Mata Gana dari Perbatasan Jerman

Wajah Eropa dan Corona di Mata Gana dari Perbatasan Jerman

Gaganawati Stegmann menjadi satu nama yang pantas dicatat di tengah lautan berita seputar Covid-19. Sekalipun kini ia berdiam di Jerman, di Baden-Wuerttemberg, lebih dari satu dekade, namun hati dan pikirannya masih “Indonesia banget.” 

Ia antusias berbicara tentang Jerman, namun jauh lebih antusias setiap kali berbicara tentang Indonesia.

Maka itu, saat ia mendapatkan kabar wabah yang dikenal dengan corona itu juga melanda Indonesia, ada ekspresi sedih dan rindu atas Tanah Air darinya. Perasaannya benar-benar campur aduk.

Tinggal di selatan Jerman, berbatasan dengan Swiss, ia mengikuti berbagai berita tentang Indonesia dan corona. Di antara doa paling banyak ia lantunkan adalah kesempatan untuk merambah tiap sudut Tanah Air, terlepas itu baru sempat dilakukan di masa liburan.

Padahal, di Eropa, ia bisa leluasa merambah berbagai negara. Terlebih tempat tinggalnya sendiri berjarak dekat dengan negara Swiss. Hanya setengah jam bisa sampai Schaffhausen, Swiss. Begitu juga untuk ke Zurich ibu kota Swiss, pun hanya membutuhkan satu jam.

Bahkan kalaupun ia ingin ke Prancis, Italia, Belanda, tentu saja dengan leluasa bisa ditempuhnya. Namun baginya, Indonesia tak bisa tergantikan. Inilah kenapa ia selalu berusaha dapat terus terhubung dengan Tanah Air. Ia aktif menulis di media berbasis jurnalisme warga Kompasiana, selain juga acap memperkenalkan tari-tarian Indonesia di Eropa.

Sekarang, sebagaimana umumnya masyarakat dunia yang sedang berhadapan dengan Covid-19, ia pun hanya bisa berdiam di rumahnya.

“Kalau dulu kan boleh wara-wiri sesukanya ke Swiss, sekarang nggak boleh,” kata Gana. “Perbatasan ke Swiss kan banyak, sekarang ditutup. Hanya ada satu yang besar di Tyngen itu kontrolnya diperketat kalau dulu cuma kita dilihat pakai mata memandang si petugas, sekarang ribet cek ini cek itu. Berhentinya lama.”

Ia sendiri pun sempat digelisahkan dengan corona, terlebih ia merasa sempat mengalami kondisi mengarah ke gejala Covid-19.

“Aku ingat banget waktu ke Milan kan sudah tanggal 21 Februari aku sudah batuk kering,” kata Gana. “Aku ingat itu 1-2 minggu setelah ketemu anak dari Vietnam yang batuk dan pulang dari negaranya ke Jerman tapi nggak jelas apa ia kena corona? Ia hanya bilang ia harus ke dokter di Jerman dan Vietnam.”

Ia mengaku sempat dipusingkan dengan kondisi itu. “Serem. Sudah lapor sekolah tapi nggak diindahkan lalu karena takut Gana langsung sakit batuk parah seminggu. Tanggal 21 Februari itu hari kematian pertama orang di Italia yang kena corona, kami baru tahu tanggal 24.”

Gana juga bercerita bahwa di Milan tidak banyak orang yang pakai masker. “Hanya satu dua orang Cina yang pakai dan kami juga hanya bawa syal dari rumah. Dua minggu kemudian setiap hari ratusan orang mati di Italia, yang angkut saja truk militer saking banyaknya, kuburannya penuh.”

Tanggal 24 Februari ia dan keluarganya balik ke Jerman dari Ascona, Swiss, namun ditutup.

See Also

“Artinya Swiss sudah tahu ini bakal bahaya dan ancang-ancang dari jauh hari. Belum ada pasien di sana, sama juga di Jerman juga belum heboh dibicarakan meskipun pasien pertama corona dari negara bagian Bayern sudah didiagnosis corona ketularan rekan dari Cina,” ia bercerita lebih jauh. “Baru tanggal 15 Maret diumumkan bahwa semua harus Ausgangssperre atau nggak boleh keluar rumah per 17 Maret.”

Gana juga bercerita sebelum Franken mata uang Swiss naik, orang Jerman gemar berbelanja mie dan BBM di sana karena lebih murah. “Sekarang gantian, banyak orang Swiss yang berbondong-bondong belanja ke Jerman karena murah. Itu dulu, sekarang sepi juga sih karena corona.”

Menurutnya, terkait dampak coronan terhadap harga-harga barang di sana hampir tidak ada masalah. “Harga nggak masalah, tapi barang seperti tepung terigu, kertas toilet, sabun tangan jadi langka alias kosong.”

Ia berterus terang itulah yang terasa bak anekdot di matanya.

“Sebenarnya heran juga kertas toilet bisa langka dan diborong orang. Gambarannya dalam seminggu, kami berempat habis satu rol,” ceritanya lagi. “Kalau sekali beli satu plastik isinya 8-10 roll, sudah cukup untuk sebulan bahkan lebih. Ada lho orang Jerman yang memborong kertas toilet cukup untuk 12 tahun hidup, alias sekamar isinya toilet paper semua, dan itu pernah diberitakan di koran di sini.” (Bersambung)

Sumber foto: Gaganawati Stegmann

What's Your Reaction?
Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0
View Comment (1)

Leave a Reply

© 2020 Bersama Lawan Covid19 | Didukung oleh Cipendawa Rent Bus

Scroll To Top