Now Reading
Wajah Eropa dan Corona di Mata Gana dari Perbatasan Jerman (2)

Wajah Eropa dan Corona di Mata Gana dari Perbatasan Jerman (2)

Gaganawati Stegmann menjadi salah satu warga Jerman asal Indonesia yang melihat langsung bagaimana negara maju menghadapi Corona. Di catatan sebelumnya (di sini), dia bercerita tentang bagaimana kepanikan melanda negara itu akibat Covid-19. Kali ini, dia bercerita lebih jauh tentang bagaimana orang Indonesia sendiri di sana, hingga langkah-langkah diambil pemerintah setempat.

Menurut Gana, sejak Maret sudah ada larangan di Jerman untuk keluar. Bahkan di sana ada denda berkisar Rp 3 juta bagi yang melanggarnya.

Dia mengakui, banyak juga daerah yang tidak memberlakukan hukuman denda tersebut. Dari 16 negara bagian Jerman mungkin hanya 1-3 saja–yang menerapkan langkah itu.

“Daerah kami Baden-Wuerttemberg nggak ketat. Wong belanja saja dari orang 5 pembeli yang pakai cuma kami,” kata dia.

Soal kepanikan hingga kebingungan yang terjadi di Jerman, pun tak jauh berbeda dengan yang sempat muncul di Indonesia.

“Menariknya negara sekelas Jerman pun bisa kekurangan masker,” ia memberikan contoh. “Menteri kesehatannya bilang sudah diantisipasi pesen ke Afrika 6 juta pcs
tapi belum juga sampai hari ini.”

Sepengamatan Gana, sejauh ini sudah ada sekitar 100 ribu orang terpapar virus dan per hari tambahannya 2000 orang.

“Untung masker belum dibayar. Akhirnya tugas pembelian diberikan dari Menkes ke Menperindag oleh bundes kanselir Angela Merkel,” tuturnya lagi.

Kemarahan rakyat di tengah situasi itu juga sempat mencuat. Terlebih lagi ada kabar bahwa Angela Merkel, kanselir Jerman, dicurigai terpapar corona karena diimunisasi oleh dokter pribadinya yang ternyata positif Covid-19.

Menariknya lagi, dalam banyak kebutuhan mendesak di tengah corona, ternyata Jerman juga sangat terbantu oleh negara-negara Asia. Banyak barang kebutuhan Jerman yang didatangkan dari Cina.

“Memang selain murah dan mudah, membeli barang dari Cina ‘kan nggak menggunakan human resource orang Jerman,” katanya. “Kalau bikin masker dan semacamnya di Jerman cenderung mahal dan sulit, karena ada aturan wealth-nya.”

Gana juga menambahkan, penjualan masker kain buatan sendiri dari rumah ke rumah mahal, satunya minimal 5 euro atau sekitar 75 ribu rupiah. “Makanya kami bikin sendiri. Pesen dari China selain untuk sendiri, amal dan bisnis sudah dari Februari nggak dateng2. Memang sedang kacau pengiriman barang sedunia,” kata dia.

Ia bercerita, ada teman dari Jakarta dan tinggal di Jerman dan pulang ke Jakarta di bulan Februari. Menlu sudah wanti-wanti supaya siapa saja yang akan terbang segera saja dilakukan sebelum 20 maret (?) karena bandara semua tutup. 

“Benarlah, ia kelabakan nggak bisa pulang tanggal 24 nya. beli Singapore airlines dicancel. Beli Thai airways dicancel. Beli Etihad airways dicancel. Akhirnya kami sarankan beli Qatar airways yang masih melayani, ia berhasil pulang sampai Jerman.
Anehnya di bandara nggak reseh pengecekan ini itu masker lah disinfektan lah … nggaaaakkk. Heran kan?”

Kesadaran pakai masker juga kurang, di pesawat waktu ia berangkat dari Jerman dan ke Jerman, hanya teman saya saja yang pakai. Atau orang Indonesia saja
yang pake heheheh …

Satu minggu sebelum pelarangan keluar rumah (17 maret), saya sudah tanya murid-murid saya yang lansia (kelas selasa 11 orang, kelas kamis 7 orang),
semua menyatakan nggak takut sama corona dan bersedia terus belajar bahasa Inggris sama saya, nggak perlu di rumah. 

“Saya yang takut kalau-kalau saya ini the carrier dan mereka yang sudah umuran 60 70 80 kena … dan meninggal. Serem kan. Kan saya dari bepergian di Italia. Mereka nggak peduli. Untung pemerintah yang ngatur bahwa mereka harus di rumah saja,” dia berkisah.

Menurut dia, di kawasan tempat tinggalnya jarang terdapat orang Indonesia. Jadi, tidak banyak tahu kondisi sebenarnya, bagaimana warga asal Indonesia di sana.

“Di tempat saya jarang (ada orang Indonesia). Sebab saya tinggal di hutan dan gunung,” katanya seraya tertawa. “Kalau teman-teman Indonesia mayoritas tinggal di kota besar sepertiBerlin, Stuttgart, Frankfurt, Freiburg dan lainnya.”

Reaksi warga

Gana menyebut bahwa Jerman adalah negara yang penduduknya suka jalan-jalan. Satu sisi inilah yang juga sempat menyulitkan pemerintah mereka.

“Mereka (pemerintah) sudah menjemput paling tidak 120.000 turis Jerman dari negara-negara seperti Maroko dll, syaratnya harus dalam jumlah banyak kalau cuma satu-dua sulit ya. Berat di ongkos dan manajemen,” tuturnya lagi.

See Also
Pengusaha Bus Wisata Ubah Mobil Jadi Pangangkut Barang

Sementara di dalam negeri, dalam kondisi wabah corona memang masih ada juga yang membandel. Ia tak menampik bahwa ada saja warga yang keras kepala hingga sulit diatur.

“Kan orang Jerman ada yang keras kepala, namun mayoritas tinggal di rumah tapi ada juga yang ke hutan bikin pesta corona, itu pesta dengan minum bir bermerk
Corona,” katanya. 

Selain itu, ia juga mengamati ada juga warga berbelanja ke daerah perbatasan di Belanda-Jerman. Ada juga yang jalan-jalan dan kumpul lebih dari 2 orang yang bukan keluarganya (teman atau kenalan).

“Orang Jerman asli cenderung disiplin, namun pendatang ada juga yang tetap dengan kebiasaan dari negara asal mereka,” pungkasnya.

Music from balcony

Salah satu yang menarik perhatian Gana sepanjang masa karantina akibat corona, ada-ada saja cara warga Jerman untuk menghadapinya.

Mereka melakukan berbagai cara untuk dapat membunuh perasaan jenuh. “Lucu, ada gerakan music from balcony tiap hari minggu bagi mereka yang tinggal di kota dan ngga bisa ke mana-mana kecuali di rumah,” ceritanya. “Jadi, dari balkon mereka bisa menghibur orang dengan musik. Ada juga yang menyalakan lilin sebagai tanda prihatin.”

Di kota besar seperti Berlin dan Leipzig, banyak orang menggantungkan makanan dan sejenisnya di pagar pusat kota supaya mereka yang homeless (tunawisma) bisa makan dan minum selain juga tetap berpakaian.

Homeless shelter atau rumah penampungan tunawisma terpaksa ditutup karena sempat ada yang tertular.

Tak jauh berbeda halnya dengan rumah lansia atau panti jompo, pun ditutup untuk pengunjung sampai tahun depan.

“Baru-baru ini ada lagi kasus 19 manula mati di panti jompo karena corona. Temen saya 30 tahun yang kerja di panti jompo dan hamil, sudah dirumahkan supaya tidak terpapar,” ia berkisah.***

What's Your Reaction?
Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0
View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 Bersama Lawan Covid19 | Didukung oleh Cipendawa Rent Bus

Scroll To Top