Now Reading
Virus Corona dan Kita

Virus Corona dan Kita

Dalam kehidupan kita sudah pasti pernah mengalami sakit flu seperti pilek, demam, pusing, lemah, lesu, batuk, linu-linu sekujur tubuh. Gejala dapat menjadi berat bila ada infeksi bakteri yang menyertai disebut infeksi sekunder.

Bila tidak diobati anti biotik infeksi bakteri akan memperberat gejala flu misal sampai sesak napas dan dapat menjadi penyebab kematian. Gejala flu biasa itu sudah menjadi kebiasaan di masyarakat dimana dilakukan pengobatan sendiri apakah itu minum air hangat, istirahat, makan banyak buah-buahan, minum obat penurun panas atau obat flu, minum vitamin C.

Ada juga yang minum jamu empon-empon seperti jahe, kunyit, temulawak dst seperti yang diminum Pak Jokowi setiap hari yang dipercaya dapat meningkatkan stamina tubuh. Dengan begitu sakit flu berangsur-angsur menghilang.

Semua penyakit flu dalam manifestasinya berbeda-beda pada penderitanya, menurut umur dan penyakit yang menyertainya. Misal pandemi flu 1918 kematian banyak pada anak di bawah 5 tahun, kemudian usia 20-40 tahun, dan lebih dari 65 tahun. Karena saat itu belum ada vaksin maupun obat anti bakteri yang dapat mematikan infeksi sekunder bakteri, maka kontrol pandemi dilakukan sebagai intervensi non pharmasi yang meliputi isolasi, karantina, kebersihan diri, penggunaan desinfektan, pembatasan kumpul-kumpul di tempat umum, yang sayangnya dilaksanakan tidak konsisten.

Pandemi flu berikutnya 1957 korban terbanyak adalah usia sekolah dan kaum muda, angka kematiannya lebih kecil dari pandemi flu 1918. Pandemi berikutnya 1968, korban terbanyak pada usia 65 ke atas.

Pada pandemi 2009, kali ini yang terbanyak korbannya adalah usia di bawah 65 tahun. Hampir sepertiga yang berusia 65 th ke atas telah memiliki kekebalan karena pandemi flu sebelumnya, sehingga anak mudalah yang banyak menjadi korban. Mulai pandemi 2009 ini vaksin flu dibuat dan digunakan untuk menghentikan penularan dan tujuh bulan setelah itu pandemi dinyatakan berakhir.

Covid-19 (Coronavirus disease-19 atau penyakit viruscorona-19) yang sekarang melanda dunia juga memiliki gejala seperti flu pada umumnya tetapi ditambah dengan kepala pusing yang sangat, gangguan saluran pencernaan dapat berupa diare, atau malah kembung, mual, batuk dan sesak napas yang hebat sampai gagal napas, dan bila tanpa bantuan alat napas dapat menjadi penyebab kematian, meski tidak semuanya berhasil.

Namun gejala tersebut bisa juga tidak muncul meski penderitanya positip kena Covid-19. Jadi belajar dari pengalaman pandemi flu sebelum-sebelumnya, maka faktor usia menjadi faktor risiko tinggi kematian. Untuk Covid-19 yaitu usia di atas 60 th, faktor risiko tinggi lainnya adalah penyakit yang menyertai seperti Gula darah, takanan darah tinggi, jantung, paru, ginjal, dan otak seperti stroke.

Sebelum ditemukan vaksin untuk mencegah penularan viruscorona, pemutusan rantai penularan dilakukan dengan isolasi, karantina, kebersihan diri, pembatasan kumpul-kumpul di ruang umum, dan jaga jarak dengan orang lain. Oleh sebab itu bagi mereka yang memiliki risiko tinggi tertular Covid-19 perlu disiplin melakukannya. Bagaimana dengan kaum muda? Lakukan upaya pencegahan itu juga untuk tidak menularkan Covid-19 terutama kepada orang berisiko tinggi (usia di atas 60 th, dan yang menderita penyakit kronis).

Beruntung pemerintah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar, bukan lockdown, karena kaum muda masih dapat melakukan aktifitas ekonominya. Artinya dua hal dapat diraih dalam sekali rengkuh yaitu secara tidak langsung melindungi mereka yang berisiko tinggi dan juga memberi kesempatan kepada kaum muda tetap melakukan aktifitas ekonominya.

Namun untuk mencapai tujuan ini pertama harus dipahami bahwa penularan yang paling banyak adalah justru di dalam rumah sendiri. Bukan di masyarakat. Demikian hasil penelitian WHO di Wuhan selama 8 minggu sejak Covid-19 mulai merebak di sana (Maria Van Kerkhove, WHO, 2020). Artinya mereka yang berisiko tinggi meskipun tinggal di rumah harus tetap menjaga jarak dengan mereka yang serumah tetapi berisiko rendah (muda, sehat).

Di rumah anak muda harus disiplin menjaga kebersihan diri dengan menyesuaikan protokol masuk rumah dari luar rumah untuk mencegah penularan kepada yang tua. Kedua kalau ada anggota keluarga dengan risiko tinggi harusnya membuka aplikasi telemedicine seperti halodok: “ cek risiko covid-19 dan penanganannya dari rumah ” di aplikasi HP. Sehingga kalau ada gejala awal terkena Covid-19 segera dapat pertolongan. Ketiga harus disiplin menjaga kebugaran tubuh dengan cukup istirahat, makan makanan sehat di sini berarti lebih banyak konsumsi sayur dan buah, sering-sering minum air hangat, serta melakukan olah raga ringan dan berjemur di pagi hari selama 15 menit.

See Also

Menurut hasil penelitian tentang manfaat vitamin E dalam mencegah dampak iyang membahayakan akibat respons meningkatnya kekebalan tubuh yaitu terjadinya pembengkakan. Maka vitamin E merupakan vitamin yang paling manjur untuk mengatasi pembengkakan tersebut (Milka Mileva and Angel S. Galabov, Vitamin E and Virus Influenza Infection). Meski hasil penelitian itu bukan untuk covid-19 ini tapi untuk virus corona pada umumnya, namun mekanismenya akan sama saja, karena prosesnya ada pada proses di peningkatan kekebalan tubuh. Bahkan dampak ikutan sebagai pembengkakan itu menjadi serius bila terjadi di paru yang dapat menyebebkan gagal pernapasan.

Melihat fakta dari Covid-19 ini, maka bagi siapa saja yang tidak berisiko tinggi maupun yang berisiko tinggi dan mendapatkan gejala terkena Covid-19 segeralah melakukan isolasi diri dan melakukan konsultasi melalui aplikasi telemedicine. Apakah isolasi diri perlu ke rumahsakit? Berkonsultasilah dengan dokter yang bertugas di telemedicine. Dokter akan menentukan yang terbaik. Namun sebaiknya kalau tidak ada kendala berarti untuk isolasi diri di rumah sebaiknya lakukan saja di rumah. Bantulah tim medis dengan mengurangi beban mereka yang besar dalam merawat dan mengobati pasien Covid-19 di rumahsakit.

Apakah aktifitas ekonomi masih dapat dilakukan oleh kaum muda? Sepanjang sesuai regulasi PSBB bagi kaum muda tetap tidak bermasalah. Bagaimana dengan risiko tertular Covid-19?  Bila sampai tertular Covid-19 patuhilah petunjuk dokter di telemedicine, manfaatkan sebaik-baiknya konsultasi ini. Pedoman umum menghadapi Covid-19 yang sudah kita ketahui bersama dalam tulisan ini pasti bermanfaat. Jangan lupa minum vitamin E satu butir per hari dan vitamin C. Kasus kaum muda yang tertular Covid-19 dan sembuh sudah banyak dan malah yang usia di atas 60 tahunpun juga ada. Dan yang lebih penting menjadi kebal. Maka jangan khawatir amatlah hidup bersama covid-19.

Semarang, 12 April 2020

Dr. dr. Sudiro Soedarso MPH ( Dokter umum di FK Universitas Diponegoro, Master of Public Health – The Johns Hopkins University, Doctor of Public Health – University of Pittsburgh, Dosen luar biasa MKM FKM Universitas Diponegoro )

What's Your Reaction?
Excited
1
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0
View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 Bersama Lawan Covid19 | Didukung oleh Cipendawa Rent Bus

Scroll To Top