Now Reading
Tunaikan Rindumu di Ruang Virtual

Tunaikan Rindumu di Ruang Virtual

Pandemi Covid-19 memorak-porandakan tatanan kehidupan, menyeret kita ke ruang virtual lebih dalam. Dunia bagai menjadi bayangan distopia yang dilantunkan band funk Jamiroquai hampir seperempat abad lalu lewat lagu ”Virtual Insanity” dari albumnya, Travelling Without Moving (1996). Kini, kita kian menyadari betapa interaksi fisik (pernah) begitu berarti.

Pada masa pandemi ini, jagat virtual menjadi kanal tumpuan untuk menggapai keterhubungan dalam berinteraksi. Kita merindukan relasi fisik yang dulu mungkin kerap kita abaikan karena keasyikan menatap gawai.

Sekarang, pandemi membawa era kenormalan baru dalam menggunakan teknologi komunikasi. Istilah new normal, yang kini riuh diperbincangkan, diartikan bebas sebagai tatanan norma atau tata kehidupan baru yang menjadi standar arus utama.

Dunia virtual memang bukan hal baru dalam kehidupan kita. Namun, sebelum pandemi, hal itu masih bisa bersifat pilihan, seperti lakon bekerja di rumah, sekolah daring, dan berkomunikasi melalui panggilan video. Pada era ketika kontak fisik dihindari, kanal virtual menjadi ”kutukan” yang harus kita pilih. Ruang virtual mampu meretas, tetapi sekaligus memenjarakan kita.

Meretas rindu

Interaksi sosial yang lazimnya dulu berlangsung secara fisik, seperti buka puasa bersama, ibadah, yoga, berwisata, reuni, dan ber-dugem bersama DJ, kini diseret ke dimensi virtual. Kita berusaha tetap mencecap indahnya berinteraksi meski hanya melalui layar. Yang penting, utang rindu dibayar tunai.

Seperti kerinduan penyanyi Rossa kepada penggemarnya, yang ditumpahkan dengan berbuka bersama secara daring alias bukber online. Acara yang sudah digelar dua kali selama dua pekan terakhir ini tetap menonjolkan kentalnya rasa kebersamaan, yakni dengan menghadirkan menu berbuka puasa yang sama persis.

Sebelum bukber daring digelar, peserta dikirimi paket makanan berbuka ke rumah masing-masing. Pada jam yang ditentukan, Rossa dan para penggemarnya lantas bersama-sama mengakses konferensi panggilan video. Rossa lalu menyapa dan mengajak ngobrol satu per satu para penggemar dan koleganya itu.

”Jadi, seru banget, tuh. Kita barengan makan apa dulu gitu. Misalnya, ayo kita nyobain satenya dulu, yuk. Enak kaaan.. Terus kolaknya dicicipin bareng-bareng. Pokoknya seru banget deh. Ada bagi-bagi hadiah juga. Senang, deh,” cerita Teh Oca, begitu dia akrab disapa, dengan tawa khasnya yang berderai, Kamis (14/5/2020).

Kebersamaan seperti saat buka puasa bareng, menurut Rossa, sangat dia rindukan. Walaupun bisa sedikit terobati lewat kumpul-kumpul daring, dia merasa tak semeriah dan sehangat seperti pertemuan langsung secara fisik. Kumpul-kumpul daring sekaligus menjadi caranya untuk menghibur diri dan mengurangi stres akibat terlalu lama di rumah.

Demi mengusir stres dan kejenuhan pula, para party goers rela ber-dugem di ruang virtual. Para penggemar musik ajeb- ajeb atau electronic music dance (EDM) selama dua bulan terakhir ini bisa ber-dugem daring bersama DJ Dhipa Barus yang tampil lewat tayangan langsung di akun Instagram-nya.

Seperti pada Sabtu (9/5) malam, akun Instagram DJ Dipha diserbu ratusan penonton. Dengan senyam-senyum jenaka, tanpa banyak bicara, DJ Dipha memutar musik yang bikin tubuh mau tak mau berjoget.

”Ketika pandemi dimulai dan beberapa festival dan klub banyak yang ditunda dan batal, gue jadi putar otak gimana caranya melakukan livestream gigs sekaligus menggalang dana untuk membantu pembuatan APD yang layak bagi petugas medis, juga mengobati kerinduan gue nge-DJ,” ujar Dhipa.

DJ Dipha meramu musik dengan alat elektronik DJ Gears. Atmosfer ruangan di rumahnya yang tampak di layar Instagram tampil serupa kelab malam. Mulai dari kepulan asap dari dupa yang ia taruh di atas perangkat DJ Gears hingga cahaya lampu ruangan yang remang-remang keunguan. DJ Dipha menggelar dugem daring itu di sekitar waktu menjelang tengah malam. Celoteh teks dari penggemarnya yang masuk di layar pun amat riuh. Mulai dari ”kangen banget sumpah”, ”kangen keributan ya Tuhan”, hingga ”traktir es teh dong”. Mereka seperti bersahut-sahutan saling terhubung.

”Jelas ada perbedaan feel. Ketika tampil langsung (secara fisik), gue bisa merasakan energi penonton dari set gue, begitu pun sebaliknya,” ujar Dipha.

Kepekaan spiritual

Merawat energi spiritual selama bulan Ramadan pada masa pandemi melalui ruang virtual juga menjadi siasat yang kini banyak ditempuh umat. Aktris Marcella Zalianty, misalnya, memilih mengikuti pengajian serta tadarus Al Quran secara daring. Sebelumnya, tadarus yang sudah empat tahun dilaksanakan ini selalu digelar di rumah istri Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Ibu Ayu Rosan Roeslani. Selain tadarus, acara tersebut juga diisi dengan ceramah yang dipimpin Imam Besar Masjid Istiqlal KH Nasaruddin Umar.

Pengajian dan kajian Al Quran di masjid, seperti di Masjid Cut Meutia, Jakarta, turut bergeser ke ruang virtual. Menurut Ketua Remaja Islam Masjid Cut Meutia (Ricma) Muhammad Husein, salah satunya adalah gelaran Ketemu Ustad Yuk (KUY), yang tayang di IG Live setiap Jumat, Sabtu, dan Minggu dengan durasi 30-45 menit.

Alumni SMA Negeri 70 Jakarta juga menggelar Siraman Rohani Online pada Jumat (8/5). Kajian dengan tema ”Bertahan Saat Pandemi dengan Berniaga ala Rasulullah” itu berlangsung satu jam dengan peminat membeludak.

Selain lewat ibadah keagamaan, sebagian orang berusaha terkoneksi dengan energi spiritual melalui latihan pernapasan yoga secara daring. Latihan itu dipercaya bisa menuntun pada kepekaan spiritual. Pada masa krisis ini, keterhubungan secara berkesadaran dengan diri sendiri tidak kalah krusial dengan keterhubungan dengan orang lain.

Latihan yoga daring lewat tayangan langsung di Instagram antara lain disuguhkan oleh Komunitas Yoga Gembira. Berlatih yoga sebagai bagian dari melatih kondisi mental berkesadaran bisa menunaikan kerinduan kita pada diri sendiri, yang pada masa sebelum pandemi terpasung berbagai kesibukan.

”Tubuh perlu dibaca lagi dan lagi. Bacalah tubuh ini, lingkungan, dan alam semesta agar kita lebih mengenali diri sendiri,” ucap Yudhi Widdyantoro, pendiri Komunitas Yoga Gembira.

Ah, di tengah ”penjara” virtual ini, bukankah kita semua pun juga tengah dilanda wabah rindu?

Upaya mengenali diri, terkoneksi dengan batin, juga bisa tersalur dalam komunitas curhat alias curahan hati. Dalam komunitas kecil yang lebih privat, penulis buku Maeya Zee, misalnya, mengundang anggota komunitasnya untuk curhat dan belajar tentang hubungan cinta yang sehat lewat pelantar Zoom pada Minggu (10/5) malam. Dengan drescode baju tidur, mereka saling menguatkan dalam reuni bertajuk ”Feminine Energy Reunion”.

Tak hanya reuni daring, seperti tajuk album Jamiroquai, Travelling Without Moving, jalan-jalan virtual pun menjadi niscaya kini. Bagi mereka yang rindu berwisata, banyak pilihan wisata virtual, seperti yang ditawarkan oleh Sea World Ancol dan Wisata Kreatif Jakarta.

Sea World Ancol rutin menggelar liburan virtual gratis dengan tayangan langsung dari akuarium air lautnya. Sementara Wisata Kreatif Jakarta memberikan sedikit rasa wisata dengan paparan virtual oleh pemandu wisata dari rumah. Menurut pendiri Wisata Kreatif Jakarta, Ira Latief, program wisata virtual ini sekaligus merupakan upaya para pemandu wisata untuk tetap bertahan pada masa pandemi.

Salah satu peserta wisata virtual, Winny Soendaroe, mengaku, kerinduannya untuk pelesiran sudah tak tertahankan. Ia terbiasa rutin jalan-jalan untuk menyalurkan hobi mencicipi masakan Nusantara. ”Kangen banget jalan-jalan. Dengan jalan kaki, kita bisa bereksplorasi menemukan tempat baru, seperti makanan pedagang kaki lima. Akhir pekan saya biasanya diisi mencari tempat makan unik,” ujar Winny.

Ah, di tengah ”penjara” virtual ini, bukankah kita semua pun juga tengah dilanda wabah rindu?

Sumber : Kompas Cetak
Foto : P Raditya Mahendra Yasa/Kompas

What's Your Reaction?
Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0
View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 Bersama Lawan Covid19 | Didukung oleh Cipendawa Rent Bus

Scroll To Top