Now Reading
Susan, Perawat COVID-19 yang Ditolak Ibu Kost

Susan, Perawat COVID-19 yang Ditolak Ibu Kost

Susan Eka Putri merupakan salah satu tenaga medis yang bertugas sebagai garda terdepan dalam penanganan COVID-19 di Indonesia. Ia bekerja sebagai perawat di RS Hermina Karawang, Jawa Barat.

Susan, sapaan akrabnya, membagikan kisah perjuangannya dalam membantu menangani pasien COVID-19 yang baru pertama kali ia hadapi. Simak kisah inspiratifnya berikut ini!

Ketika COVID-19 masuk ke Indonesia, Susan merupakan perawat yang baru saja diterima bekerja di Rumah Sakit Hermina Karawang. Ia mengatakan, pertama kali melamar kerja di rumah sakit tersebut, ia tidak mengetahui jika RS Hermina dijadikan sebagai rumah sakit rujukan bagi pasien COVID-19.

Pengalaman Baru

“Awalnya, saya itu tidak tahu kalau rumah sakit yang saya lamar, akan menjadi pusat rujukan COVID-19. Ini karena rumah sakit yang saya lamar tersebut, terbilang rumah sakit baru di daerah Karawang,” katanya.

Setelah mulai bekerja dan mengetahui hal tersebut, ia berpendapat bahwa bekerja di rumah sakit rujukan COVID-19 dapat memberikan banyak ilmu dan pelajaran baru.

“Jadi, ya bekerja di rumah sakit khusus rujukan COVID-19 cukup seru sekaligus menantang. Selain itu, banyak ilmu baru, pelajaran baru, dan hikmah yang bisa didapat dari pandemik ini,” tambahnya.

Sama halnya dengan perawat lain pada umumnya, Susan juga merasa takut ketika harus menghadapi pasien yang berstatus positif COVID-19. Namun, ia selalu memotivasi dirinya dengan selalu mengingat sumpah perawat yang ia pegang. 

“Takut, cemas, deg-degan, itu pasti dirasakan. Pokoknya campur aduk. Akan tetapi, sebagai perawat, saya sudah disumpah dan saya yakin saya bisa menghadapi situasi itu. Untuk itu, saya terus berdoa kepada Allah SWT,” ucap Susan.

Untuk mengurangi ketakutan dalam dirinya, Susan juga kerap menganggap pasien-pasien yang ada sebagai keluarga yang sakit dan harus ia rawat.

“Saya selalu berpikir, ‘Bagaimana kalau yang menjadi pasien itu keluarga saya sendiri?’ Oleh karena itu, semua pasien yang ada, saya anggap sebagai keluarga saya yang harus saya rawat sampai sembuh. Namun, di sisi lain, memang cita-cita saya dari kecil selalu ingin membantu dan berguna untuk orang lain, terutama orang-orang yang membutuhkan bantuan saya,” jelas perempuan kelahiran 1995 itu.

Ditolak Karena ODP

Sebagai perawat yang menangani pasien COVID-19, Susan pun pernah merasakan momen pahit. Ia sempat ditolak ketika sedang mencari kost untuk tempat tinggal karena berstatus ODP (Orang Dalam Pemantauan). Penolakan tersebut bahkan ia terima hingga tiga kali.

“Karena saya harus bekerja jauh dari rumah, jadi saya harus mencari kost untuk tempat tinggal. Namun, selama saya di Karawang ini, saya sudah tiga kali ditolak oleh pemilik kost karena tahu saya karyawan RS Hermina Karawang dan takut dengan status ODP,” ungkapnya.

Pada akhirnya, Susan menemukan tempat tinggal berkat anjuran dari para seniornya. Lingkungan kostnya saat ini pun, menerima dirinya meskipun berstatus ODP.

“Pas ditolak, saya cari lagi di lingkungan kakak senior saya. Mereka kan juga banyak yang tinggal di kost, yang pemiliknya tidak keberatan akan hal itu. Lingkungannya pun di sini sangat baik dan menerima saya dan semua rekan saya,” imbuhnya.

See Also

Sebagai orang yang selalu berhadapan dengan pasien COVID-19, Susan juga takut untuk bertemu keluarga dan teman-temannya. Bahkan, ia sempat berpamitan, meminta maaf, dan memberikan pengertian untuk ikhlas jika suatu saat nanti ada hal buruk yang menimpanya.

“Aku juga takut untuk bertemu keluarga dan teman. Itu karena aku takut mereka terpapar dan justru menjadi pasien penderita COVID-19. Jadi, mau tidak mau, aku harus menahan rindu buat pulang ke rumah dan bertemu dengan teman-teman. Bahkan, saking dramanya, aku sudah pamit dan minta maaf ke semua orang rumah dan kekasih hati, sehingga kalau ada apa apa, nanti mereka semua harus ikhlas,” terangnya.

Aktif di Medsos

Dengan manis pahit pengalaman yang ia dapat, Susan pun aktif di media sosial untuk membagikan kisahnya dalam menangani pasien COVID-19. Ia juga acap kali mengajak teman-teman di media sosialnya untuk menjalani physical distancing agar mata rantai COVID-19 segera terputus.

“Waktu itu, saya live di media sosial, menceritakan bagaimana sedih dan sakit hatinya kalau pasien COVID-19 itu meninggal. Gak disalatin, gak dimandiin, langsung saja dibungkus dengan pakaian terakhirnya. Bayangkan, bagaimana kalau itu menimpa kita atau kerabat kita! Saya cerita seperti itu sambil mengajak teman-teman yang ada di media sosial saya untuk memutus mata rantai COVID-19 ini, dengan benar-benar menjalankan anjuran physical distancing,” tegas Susan.

Itu dia kisah perjuangan Susan Eka Putri sebagai seorang perawat yang bertugas untuk membantu menangani pasien COVID-19. Semoga dengan cerita Susan di atas, bisa memberikan motivasi agar tetap semangat menjalani physical distancing dan berdiam di rumah. Tetap jaga kesehatan, ya!

Sumber: IDNTimes

What's Your Reaction?
Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0
View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 Bersama Lawan Covid19 | Didukung oleh Cipendawa Rent Bus

Scroll To Top