Now Reading
Spirit Bioinformatika dalam Pengembangan Obat Covid-19

Spirit Bioinformatika dalam Pengembangan Obat Covid-19

Selalu ada obat bagi semua penyakit. Kalaupun belum berhasil ditemukan, maka selalu ada cara untuk menangkal atau membendung kinerja suatu virus. Termasuk virus Corona atau Covid-19. Pengembangan suatu obat memerlukan waktu, di sinilah kita harus sabar. Mengapa? Sebab pengembangan obat  terdiri dari beberapa tahap yang harus dilakukan secara teliti, bukan main-main.

Tahap-tahap itu sebagai berikut:

  • Tahap pertama adalah in silico. Tahap ini menggunakan metoda komputasi untuk mendesain cetak biru obat (lead compound). Metode ini berpusat pada kurasi basis data biologis, dan analisis data kurasi tersebut. Tahap in silico adalah domain para ahli bioinformatika.
  • Tahap kedua adalah tahapin vitro. Di tahap in vitro, desain obat yang ditemukan oleh bioinformatisi akan disintesis oleh pakar biomedis, farmasi, dan bioteknologi kedokteran, untuk kemudian diuji pada sel. 
  • Tahap ketiga adalah tahap in vivo, dimana kandidat obat tersebut akan diuji coba pada hewan, seperti mencit, kelinci, atau bahkan pada monyet makaka. Tahap in vivo biasanya dilakukan orang farmasi, kedokteran, dan biomedis. 
  • Tahap terakhir adalah uji klinis, yang paling menentukan. Di tahap ini, dokter merupakan person in charge yang sangat menentukan, karena mereka menguji obat pada pasien, dan mengkaji respon pasien terhadap obat tersebut. 

Untuk memasuki tahap uji klinis juga tidak mudah, karena kita harus mempresentasikan desain eksperimen kepada Komisi Etik Kedokteran di Fakultas Kedokteran yang bereputasi. Komisi etik ini beranggotakan pakar farmakologi, virologi, internis, maupun spesialisasi yang terkait dengan pengujian obat. Setelah lolos uji klinis, baru disiapkan perizinannya ke badan POM, maupun marketing obatnya. 

Keseluruhan tahapan ini bisa dilalui minimal dalam 18 bulan, dan dalam banyak kasus akan lebih lama dari rentang waktu tersebut. Investasi yang disiapkan juga tidaklah kecil. 

Dari keempat tahap tersebut, bioinformatika fokus terutama pada tahap pertama, bukan pada tahap lainnya. Mengapa bioinformatika akhirnya digunakan sebagai awal dari tahap-tahap lainnya? Karena bioinformatika berperan sangat penting dalam efisiensi dana, waktu, dan SDM untuk keseluruhan eksperimen tersebut. Jika cetak biru di tahap pertama sudah bagus, diharapkan di tahap-tahap selanjutnya sudah menjadi semakin baik. 

Strategi Efisien

Ada dua strategi utama pengembangan obat COVID-19, yaitu pengembangan obat yang digunakan kembali (drug repurposing), dan pengembangan obat herbal. Dalam konteks drug repurposing, pemerintah Indonesia memilih untuk menggunakan Avigan dan Kloroquin, yang aslinya merupakan obat influenza dan infeksi parasitik. Mengapa strategi drug repurposingdigunakan, karena strategi ini yang paling efisien dibanding yang lain. Terutama karena informasi mengenai adsorpsi, distribusi, metabolisme, dan toksisitas (ADME-TOX) obatnya pada hewan dan manusia sudah ada, sehingga akan lebih mudah untuk desain eksperimentalnya dari tahap awal, sampai dengan tahap akhir pengembangan obat itu sendiri. 

Namun strategi pengembangan obat herbal juga penting, karena ini terkait pemanfaatan kearifan lokal bangsa kita, dan ini penting untuk prestise kebangsaan kita. Strategi ini dipilih, karena salah satunya terinspirasi dengan China yang sangat berhasil dengan pengembangan obat berbasis herbal mereka. Namun perlu melakukan uji ADME-TOX yang sangat komprehensif untuk mengkaji kandidat obat dari sumber herbal tersebut, karena selama ini mereka diformulasikan sebagai jamu, yang banyak campurannya. 

Optimisme

Ilmuwan Indonesia sudah punya konsorsium keilmuan, yaitu masyarakat bioinformatika dan biodiversitas Indonesia (MABBI). Kedua strategi tersebut kami kembangkan, dan Indonesia International Institute for Life Sciences (I3L) terlibat aktif dalam konsorsium tersebut. 

See Also

Avigan dan Kloroquin sudah memberikan indikasi kesembuhan di beberapa negara. Namun ini adalah repurposed drug, atau obat penyakit lain yang digunakan kembali untuk COVID, sehingga memang tidak dioptimalkan untuk penyakit tersebut. Specialized drug atau obat yang secara khusus dikembangkan untuk Covid-19 memang belum ada, atau masih dalam tahap uji klinis. 

Tenang, ilmuwan kini sedang bekerja keras untuk mengembangkannya. Selalu ada titik cerah di kegelapan, seperti halnya selalu ada obat untuk semua penyakit. Masalahnya adalah waktu, ketersediaan bahan baku, teknologi, sumber daya manusia yang dibekali keahlian. Dan tentu saja itu semua memerlukan biaya tidak sedikit. Inilah kenapa masalah ekonomi ikut menjadi prioritas yang sangat penting dalam dunia kesehatan. 

Di luar itu semua, saya yakin kita pasti bisa bangkit kembali. Sejak dulu manusia selalu unggul dalam menaklukan berbagai wabah penyakit, kali ini pun kita pasti bisa. Optimisme adalah segalanya.

*Dr.rer.nat.Arli Aditya Parikesit, Dosen Departemen Bioinformatika, Fakultas Biosains, Indonesia International Institute for Life Sciences (I3L). Alumni Fakultas Matematika dan Informatika, University of Leipzig, Jerman.

Foto: BioSpace

What's Your Reaction?
Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0
View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 Bersama Lawan Covid19 | Didukung oleh Cipendawa Rent Bus

Scroll To Top