Now Reading
Sepak Terjang Sukarelawan Muda

Sepak Terjang Sukarelawan Muda

Di tengah perang melawan   Covid-19, sejumlah  mahasiswa terpanggil untuk menjadi  sukarelawan. Ada yang bertugas di garis belakang, ada yang bekerja keras mendukung dari belakang. Semua dilakukan demi kemanusiaan.

Sofina Izzah, mahasiswa profesi ners  Fakultas Keperawatan Universitas Indonesia (UI) bahagia bisa ikut berperang melawan Covid-19 di garis depan. Ia ditempatkan di bagian HCU Rumah Sakit Universitas (RSUI), Depok, Jawa Barat. Di situ, ada ruang isolasi bagi penderita Covid-19.

“Tidak ada perasaan takut atau bagaimana. Soalnya, setiap petugas  dilengkapi  alat pelindung diri yang baik. Saya ikut merawat pasien Covid-19 seperti pasien biasa saja,” ujar  Sofina dari mes UI di Depok, Senin (13/4/2020) malam.

Gadis asal Madura itu bertugas hingga akhir Mei. Namun, ia tidak keberatan jika masa tugasnya diperpanjang. Ia bertugas dengan alat pelindung diri (APD) selama empat jam sehari.  Setelah itu, ia melepas  APD dan bertugas di ruangan lain untuk membantu  pekerjaan administrasi selama empat jam.


Banyak pengalaman yang diperoleh Safina selama merawat pasien Covid-19. Selain merawat, ia juga mesti bisa memotivasi pasien agar mau makan,  tetap semangat dan gembira. “Bahagia rasanya kalau melihat pasien bisa ceria lagi,” kata Sofina yang lulus S1 Keperawatan UI dan kini sedang melanjutkan kuliah untuk profesi ners (keperawatan) dengan biaya dari pemerintah.

Ia mengaku terpanggil menjadi sukarelawan karena tersentuh rasa  kemanusiaannya melihat banyaknya pasien Covid-19. Inilah saatnya ia mengabdi pada pemerintah yang telah membiayai kuliahnya.    “Mungkin klise ya. Kalau pahlawan di masa lalu mau beperang dan mengorbankan nyawa, ya sekarang giliran generasi muda,” katanya.

Namun, di balik semangat pengabdian Sofina, terselip rasa sedih atas perlakuan sebagian kecil warga terhadap tenaga kesehatan dan sukarelawan. “Ada teman relawan yang diusir dari kosnya. Itu sedih banget. Untuk saat ini semua relawan RSUI ditampung di mes UI, disediakan semua kebutuhan kami,” kata Sofina.



Panggilan untuk menjadi sukarelawan Covid-19 juga ditangkap Reynardi Larope Sutanto, mahasiswa angkatan 2017 Fakultas Kedokteran UI. Ketua BEM FKUI telah mengikuti  pelatihan secara webiner soal penanganan Covid-19.

“Saya mau ikut jadi relawan karena merasa tuntutan moral sih. Sebagai mahasiswa bidang kesehatan, ini saat yang tepat untuk beraksi yang nyata, mengamalkan materi kuliah kedokteran yang dipelajari selama ini,” ujar pria yang disapa Ardi ini.

Saat ini, ia masih difokuskan untuk membantu mengedukasi masyarakat untuk menghadapi Covid-19. Namun, ia siap ditugaskan di garis depan kapan saja jika dibutuhkan.

Ardi juga menggerakkan mahasiswa FKUI lainnya untuk membuat APD seperti pelindung wajah (face shiled), masker yang memenusi standar kesehatan, dan apron (celemek) untuk tenaga medis.  “Kami sepakat membuat face shield di rumah masing-masing. Ada teman yang buat youtube tutorialnya,” tambahnya.

Saat ini, ada 21 mahasiswa FKUI angkatan 2017 yang terlibat dalam pembuatan pelindung wajah dan masker. Untuk tahap pertama, Ardi menargetkan bias memproduksi 630 pelindung wajah untuk dibagikan  ke enam rumah sakit di Jabodetabek.

Pembuatan APD itu menggunakan dana dari program  donasi  dari FKUI yang diberi nama Pelita alias Pelindung Tenaga Kesehatan.  Hingga Senin kemarin telah terkumpul  donasi sekitar Rp 22,5 juta melalui aplikasi Kitabisa.com.

“Kita tak menyangka ada pandemi Covid-19. Ini kesempatan bagi mahasiswa untuk menerapka  ilmu yang dipelajari. Sekecil apapun kontribusi mahasiswa sekarang ini sangat berarti,” tegas Ardi.

Konsultasi psikologis

Selain mahasiswa sukarelawan yang ikut menangani pasien Covid-19, banyak pula mahasiswa yang menjadi volunter untuk  mengatasi dampak pandemi Covid-19.  Di Yogyakarta,  Khusnul Fatikhah (21), mahasiswa jurusan psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), bergabung bersama tim psikologi UGM yang  mendampingi masyarakat yang terdampak Covid-19. Tugasnya menerima telepon dari civitas akademika dan masyarakat yang merasa  cemas, takut, dan khawatir karena Covid-19.

“Sebenarnya, bantuan kami berikan untuk civitas akademika seperti mahasiswa, dosen, atau staf kampus. Tetapi, ada juga masyarakat umum yang menghubungi,” katanya, Minggu (12/4/2020).

Menurut Khusnul, ada  250 mahasiswa UGM yang terlibat menangani masalah psikososial ini. Tujuh di antaranya bertugas menerima telepon di call centre dukungan psikososial Covid-19 civitas akademika UGM  yang buka setiap hari  pukul 06.00–22.00 WIB. Selebihnya membantu masyarakat di daerah masing-masing, seperti menanyakan kabar dan memberi dukungan  kepada teman-teman mahasiswa agar kuat menghadapi wabah ini. Mereka didampingi oleh dosen dan psikolog profesional.

Sejauh ini, lanjut Khusnul, kebanyakan klien yang menghubungi call centre adalah mahasiswa yang masih bertahan di Yogyakarta. Mereka umumnya cemas tidak bisa kembali ke daerah masing-masing atau takut  anggota keluarganya di kampung terpapar virus korona baru penyebab Covid-19. Saking cemasnya, ada klien yang menelepon call centre 18 kali sehari.

“Kami menyarankan agar ia menarik nafas  panjang saat rasa khawatir datang, dan olahraga untuk mengalihkan pikiran. Tapi, satu jam kemudian, dia menelepon lagi,” cerita khusnul.

Dyah Andriani dan teman-temannya sesama mahasiswa Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta memilih jadi sukarelawan yang membagikan sembako untuk 1.000-an mahasiswa yang kesulitan bahan pangan akibat pandemi. “Saya senang bisa membantu. Banyak mahasiwa yang dalam situasi sulit seperti sekarang tidak bisa membeli makanan karena warung tutup, akses jalan ditutup, atau karena uang sakunya tidak seberapa. Padahal harga-harga kebutuhan pokok naik,” ujar Dyah.

Berdasarkan data dari Universitas Sanata Dharma, dari 11.000-an mahasiswa di kampus itu, 1.500 di antaranya berasal dari keluarga tidak mampu. Dalam kondisi normal saja mereka sering kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, apalagi dalam situasi pandemi seperti sekarang. 

Hal yang sama dilakukan sejumlah mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta  yang tergabung dalam Forum Mahasiswa Madura (Formad). Rabu (4/4/2020) lalu, mereka membantu menyalurkan bantuan 140 paket sembako untuk mahasiswa perantau yang kesulitan pangan di wilayah Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. Bantuan sembako tersebut berasal dari pembaca Kompas yang disalurkan melalui Yayasan Dana Kemanusiaan Kompas.

Dapur umum

Banyak cara lain ditempuh mahasiswa untuk membantu sesama di saat pandemi Covid-19 melanda. Di Jatinangor, Sumedang  Ketua BEM Kema Universitas Padjadjaran (Unpad) Riezal Ilham Pratama  bersama Palawa Unpad membantu pihak kampus mendata mahasiswa Unpad yang “terdampar” di  rumah kontrakan dan indekos dan perlu bantuan makanan.

‘’Sasaran kami terutama mahasiswa yang secara ekonomi mengalami kesulitan,’’ ujar Riezal, mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan Fisip Unpad, Jumat (10/4/2020). Data yang mereka kumpulkan digunakan kampus untuk keperluan penyaluran bantuan.

Dari gerakan itu, mereka menemukan antara lain Asep Supriyatna (20), mahasiswa Program Studi Hubungan Masyarakat Fikom Unpad yang bertahan  sendirian di rumah kontrakan temannya. “Tiap hari saya hanya makan mi instan dan telur. Saya kemudian diminta pindah ke asrama agar mudah menerima bantuan,” ujar Asep mahasiswa penerima beasiswa Bidik Misi.

Selain Asep, ada puluhan mahasiswa yang “terdampar” di indekos atau rumah kontrakan dengan bekal makanan yang minim. Mereka semua diminta pindah sementara ke asrama mahasiswa Unpad. Setidaknya, di asrama ada dapur umum yang bisa menjamin kebutuhan makan mereka.

Asep tidak mau hanya menerima bantuan. Ia kemudian bergabung menjadi sukarelawan di dapur umum asrama  yang  dibuka para alumni, dosen, dan pihak kampus. Tugas Asep antara lain mencuci peralatan memasak. “Yang bisa saya bantu mencuci ya saya lakukan itu,’’ kata Asep.

Ningsih Lado (19), mahasiswa Fikom Unpad yang juga mendapat bantuan makanan, terdorong untuk ikut menjadi sukarelawan. Seusai mengikuti kuliah daring dan mengerjakan tugas, mahasiswa asal Kabupaten Nagekeo, NTT ini segera bergabung ke dapur umum di asrama. Tugasnya mencuci peralatan masak di dapur yang setiap hari memproduksi 300-an porsi makanan siap santap.

Aksi sosial serupa digerakkan sejumlah mahasiswa dan anak muda di Ciputat, Tangerang Selatan. Mereka membuka dapur umum sejak 7 April lalu yang dipusatkan di Kafe Selasar. Salah satu pendiri dapur umum yang diberi nama Dapur untuk Rakyat, Ahmad Bintang Nabil, menceritakan, ia dan teman-temannya awalnya gerah dengan  saling kecam, saling kritik antar netizen soal penanganan Covid-19.

“Tapi mereka nggak melakukan apa-apa. Nah, kami tidak mau cuma bisa mengkritik. Kami juga mau membantu sesama,” ujar Nabil, salah seorang pemilik Kafe Selasar yang lulus dari Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Jakarta, Februari lalu.

Sehari, dapur tersebut menyediakan 200-400 paket makanan siap santap untuk warga yang membutuhkan. Dapur tersebut dijalankan oleh 90 orang mahasiswa dari berbagai kampus di Jakarta dan Tangerang Selatan.

Nabil sebenarnya ikut terpukul pandemi. Kafe Selasar yang baru dibuka dua minggu harus ditutup untuk menghindari kerumunan orang. “Saya dan teman-teman sudah mengeluarkan uang banyak, tapi belum ada pemasukan,” katanya.

Alih-alih memikirkan nasib kafenya, ia memilih fokus membantu sesama. “Soal kafe nanti dipikir belakangan deh, karena di luar sana banyak orang perlu bantuan,” tegas Nabil. (TRI/BSW)

See Also

Sumber : Kompas Cetak (15 April 2020)
Penulis : Ester Lince Napitupulu dan Denty Piawai Nastitie
Foto : Daniel Xi & Budi Suwarna – Kompas

What's Your Reaction?
Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0
View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 Bersama Lawan Covid19 | Didukung oleh Cipendawa Rent Bus

Scroll To Top