Now Reading
Semangat Kakek 81 Tahun di Tengah Wabah Corona

Semangat Kakek 81 Tahun di Tengah Wabah Corona

MAUMERE- Kisah kakek Antonius Bili dari Sikka, Nusa Tenggara Timur, mewakili semangat berjuang di tengah wabah Covid-19. Meskipun kini telah berusia 81 tahun, warga RT 010/002, Sinde Kabor, Kelurahan Kota Uneng, tetap bekerja keras dan tetap menaati anjuran untuk terhindar dari wabah.

Sehari-hari, sang kakek bekerja dengan gerobak terbuat dari kayu seadanya. Ia mencari kardus-kardus bekas, dan menjualnya untuk tetap mengasapi dapur. 

Melansir Florespedia.com, dikisahkan, sang kakek ini tetap update atas isu terkait Covid-19. Maka itu, meskipun setiap hari tetap mendorong gerobak, namun ia tidak ketinggalan untuk mengenakan masker, mencuci tangan dengan hand sanitizer. 

Ia berterus terang tak memiliki banyak pilihan. “Saya takut–terhadap Corona–tapi kalau saya takut, saya punya makanan siapa yang bantu. Tidak ada yang bantu saya,” katanya, Sabtu (17 April 2020).

Makanya meskipun telah berusia senja, Kakek Bili tetap bekerja dengan menarik gerobak berukuran tiga kali ukuran badannya. 

“Jadi, saya berani–tetap bekerja–mau cari makan. Kalau Tuhan kasih saya–kena penyakit–ya, terima saja (apa boleh buat). Karena makan dalam rumah itu tiap hari kita makan,” katanya.

Ia juga menegaskan, bahwa anjuran pemerintah tetap ia ikuti, makanya ia selalu mengenakan masker dan hand sanitizer yang ia dapatkan dari para relawan. 

“Sekarang saya kerja dorong gerobak setiap hari. Biasanya di pantai, kalau sudah selesai muat ikan baru saya naik pergi cari dos (kardus), untuk saya jual buat cari makan. 

Meskipun tubuhnya sudah renta, beban di gerobak yang dimuat dan ditarik olehnya setiap hari melebihi satu zak semen.

“Satu kali dorong biasanya 50-an kilo, saya masih bisa,” kata Kakek Anton. “Kalau dos, biasanya saya kumpul dulu. Abis kumpul, kalau saya lihat sudah mau satu gerobak, saya ikat, dos juga saya susun di karung, baru pergi jual. 

See Also

Menurut ceritanya kepada Florespedia, Kakek Anton bisa mendapatkan 200 ribu. Itu juga biasanya dijualnya per tiga minggu. 

Sementara dari pencaharian lain, ia biasa mengantarkan ikan, dan dari sana dia mendapat Rp 50-60 ribu. Hanya di saat sekarang, pendapatannya dari mengangkut ikan berkurang, karena cuma bisa mendapatkan Rp 25-30 ribu.

Istrinya, Theresia Inggi mengaku takut saat suaminya harus pergi mencari nafkah daari pagi hingga siang hari. Sebab, ia baru tiba di rumah sekitar pukul 14.00-15.00 WITA.

“Takut. Itu juga saya sudah hati dug dag. Saya pikir mungkin barang terlalu berat–untuk usia dan tenaganya yang berkurang,” kata Theresia. “Kita sudah larang, tapi dia bilang nanti kita makan apa.”

Sekarang, meskipun mereka harus tetap bekerja, namun Theresia pun selalu mengingatkan suaminya agar setiap kali selesai menarik gerobak, mengumpulkan kardus, agar segera mandi. Ini menjadi caranya dan suami agar kebutuhan dapur tetap terpenuhi, dan keselamatan sang suami tetap terjaga dari wabah corona.***

What's Your Reaction?
Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0
View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 Bersama Lawan Covid19 | Didukung oleh Cipendawa Rent Bus

Scroll To Top