Now Reading
Selamatkan Lebih Banyak Nyawa dengan Tidak Mudik

Selamatkan Lebih Banyak Nyawa dengan Tidak Mudik

Selamatkan Lebih Banyak Nyawa dengan Tidak Mudik 1

Lebaran sebentar lagi. Sementara pandemi corona masih belum pasti akan hilang sebentar lagi atau lebih lama lagi. Satu hal yang pasti, banyak hal akhirnya harus hilang, semoga hanya sementara, termasuk tradisi berlebaran itu sendiri. 

Di saat-saat begini, memasuki 10 hari terakhir bulan Ramadan, biasanya Jakarta sepi karena penghuninya lebih memilih pulang ke kampung asal mereka. Kali ini, Jakarta sedikit sepi hanya karena adanya pembatasan sosial berskala besar, alias pe-es-be-be. Namun sepi kali ini tentu saja tidak sesepi tahun-tahun biasanya.

Bagaimana di tahun-tahun biasanya? Jakarta ibarat ibu yang setia membagi-bagi susu kepada siapa saja yang datang ke pelukannya, namun di hari sesakral Lebaran, sang ibu ini seperti dilupakan begitu saja. Biasanya begitu. 

Lebaran di Jakarta, biasanya, hanya dijalani mereka yang sejak lahir sudah di sini, atau orang-orang seperti saya yang memiliki kampung asal terbilang lumayan jauh. Gambarannya, ongkos pesawat ke luar negeri seperti ke Singapura hingga Thailand terkadang jauh lebih murah dibandingkan ongkos ke kampung saya sendiri. 

Selebihnya, di banyak ruas jalanan Jakarta menjelang Lebaran biasanya memang kerap sepi, seperti hati mereka yang menyimpan elegi ditinggal pergi kekasih hati. Eh, ini kok malah maksa mau dibuat-buat berbau puisi lagi.

Mau saya bilang begini, Lebaran terkadang bikin banyak orang tenggelam dalam banyak drama. Tak sedikit yang terkesan meratapi ketika Lebaran datang namun tak dapat kesempatan untuk pulang ke kampung halaman sendiri.

Ada kesan, bahwa saat paling tepat untuk pulang ke kampung halaman hanyalah di saat Lebaran. Di luar itu dianggap tidak memiliki sensasi selayaknya saat lebaran. Hambar. 

Tidak keliru pula sih jika akhirnya tetap menjadikan Lebaran sebagai saat sakral, dan mengimaninya sebagai momen paling tepat untuk kembali ke kampung halaman. Sebab, bisa jadi bagi sebagian orang, inilah kesempatan bagi mereka untuk memuliakan tempat asal; mesti di hari yang sakral. 

Berada di kampung ketika Lebaran, bagi sebagian orang, seperti kembali berada di dalam rahim yang memberikan mereka ketenangan, kedamaian, dan semacamnya. Seperti di rahim ibu, kata sebuah lagu.

Sementara bagi yang “ngasal” semacam saya, meskipun rahim sendiri adalah tempat asal semua manusia, namun realitas hidup tidak mengharuskan manusia kembali ke sana. Siapa pula yang setelah lahir bisa kembali ke rahim, kan? Adanya berujung ke kuburan, jika mati. 

Begitu juga soal pulang kampung halaman. Saya saja hanya pulang sebanyak tiga kali sepanjang sepuluh tahun terakhir. Apakah dengan begini lantas saya melupakan tempat asal? Tentu saja tidak. 

Namun tentu juga tidak bisa saya sok-sokan bahwa inilah jalan yang jauh lebih baik. Namun paling tidak, cara ini bisa mengurangi beban pikiran pada kewajiban untuk mudik. 

Ini juga yang saya pikir juga memungkinkan untuk diterapkan siapa saja terlebih di masa pandemi Covid-19 seperti saat ini. Artinya, tidak perlu melebih-lebihkan sebuah tradisi, terlepas itu selama ini dipandang terlalu sakral.

Toh, secara ibadah, yang paling penting dari Ramadan adalah memastikan puasa berjalan maksimal, disusul berbagai ibadah seperti tarawih hingga witir, berikut zakat fitrah. 

Sementara tradisi lebaran yang identik dengan mudik, walaupun ini juga memang baik, namun tidak apa-apalah sesekali ditinggalkan. Setidaknya, kita tidak menjadi carrier atau pembawa virus yang menghantui tersebut ke kampung halaman. Sebab, dengan imun Anda yang kuat, mungkin saja virus itu tidak membunuh Anda, namun ia bisa saja membunuh lebih banyak orang. 

Ini menjadi catatan khusus dari saya pribadi, lantaran berangkat dari perasaan masygul setelah mendapatkan kabar, bagaimana ketika menjelang pembatasan sosial berskala besar diterapkan, mereka yang mendapatkan info lebih dulu berduyun-duyun mudik lebih cepat. 

See Also
Memahami konteks usia dibawah 45 tahun bisa bekerja 3

Sebut saja salah satu berita dilansir Kompas.com pada 16 April 2020, di berita bertajuk Survei: 3 Juta Diprediksi Tetap Akan Mudik Tahun Ini. 

Dari reportase Kompas.com tersebut, disebutkan bahwa mereka yang sudah mudik lebih dulu ini mulai mudik pada periode 1-5 Maret 2020 dan mencapai puncaknya pada periode 16-20 Maret 2020 saat Presiden Joko Widodo mengeluarkan seruan untuk belajar, bekerja dan beribadah di rumah. 

Selain mahasiswa dan karyawan swasta, cukup banyak pedagang kecil atau kaki lima, karyawan toko, warung makan, dan buruh pabrik yang sudah mudik lebih awal. 

Selain itu juga dicatat bahwa dari yang tetap ingin mudik pada masa Lebaran nanti, kelompok terbanyak adalah pegawai swasta sebesar 35,6 persen, PNS/ASN 23,4 persen dan pelajar/mahasiswa 11 persen. 

Hampir semua (96,1 persen) dari responden yang akan mudik menyatakan akan menemui kerabat di kampung halaman yang berusia di atas 45 tahun. Usia tersebut merupakan kelompok rentan di Indonesia jika tertular virus corona.

Hasilnya, sekarang semakin terlihat banyak pemerintah daerah dan penduduk di berbagai daerah blingsatan dengan orang-orang yang masih sempat membandel di tengah situasi sekarang.

Jadi, saya pikir, sekarang bolehlah kita mengalah untuk tidak memaksa diri mudik, apalagi sampai dengan mencuri-curi dengan berbagai cara. Sebab, untuk sekarang, tidak mudik adalah pilihan baik untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa.

Penulis: Zulfikar Akbar

What's Your Reaction?
Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0
View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 Bersama Lawan Covid19 | Didukung oleh Cipendawa Rent Bus

Scroll To Top