Now Reading
Perjuangan Ollie, Mahasiswa Indonesia di Tengah Covid-19 di Azerbaijan

Perjuangan Ollie, Mahasiswa Indonesia di Tengah Covid-19 di Azerbaijan

Di tengah wabah Covid-19, Kholidah Tamami “terperangkap” di negeri nun jauh di sana. Di Baku, Azerbaijan, tempatnya menimba ilmu Program Doktor Fakultas Ekonomi dan Hubungan Internasional. Jurusan Hubungan Internasional di Baku State University/Bakı Dövlət Universiteti. Jauh dari putri tercintanya, Freeda Alleysha. Ditambah lagi rekeningnya dibekukan, sehingga tak bisa mengambil uang sama sekali. Tak kurang akal, Ollie, begitu panggilan akrabnya, punya ide untuk berniaga online. Berjualan pastel, tahu, dan tempe. Bagaimana serunya perjuangan orang Indonesia pertama yang mendapatkan beasiswa dari Azerbaijan International Development Agency (AIDA) ini? Berikut obrolan ringan melalui WhatsApp dengan perempuan yang hobi main gitar ini.

Bagaimana saat pertama mendengar ada pandemi Corona di sana?

Kaget dan ingin segera pulang ke Indonesia, tapi penerbangan sudah dibatasi. Namun saya tahan dan segera saya mencari flat untuk hidup sendiri. Karena selama ini saya tinggal dengan keluarga Azerbaijan di mana dalam satu keluarga itu anggota keluarga beraliran muslim Sunni, Syiah dan atheis serta agnostik. Padahal saya sudah cukup nyaman. Namun demi keamanan kesehatan, saya mencari tempat tinggal baru. Kebetulan suami dari ibu kost saya adalah seorang dokter yang setiap hari berjumpa pasien.

Apakah di Azerbaijan juga diberlakukan lockdown atau semacam PSBB?

Ya, diberlakukan lockdown atau PSBB. Di sini disebut dengan sebutan Rezim Karantina.

Bagaimana warga Azerbaijan menyikapi pandemi ini? Cukup tertib dan disiplinkah?

Warga Azerbaijan cukup tertib dan mengikuti anjuran pemerintah. Mereka tetap survive dan tidak menuntut bantuan pangan. Jika pemerintah memberi diterima, jika tidak mereka tidak protes dan berusaha hidup survive.

Di Baku, Ollie bersama dengan sejumlah mahasiswa Indonesia sempat berjumpa dengan Walikota Bogor, Bima Arya. Seperti kita tahu, Bima Arya dinyatakan positif Covid-19 dan akhirnya dirawat, hingga kini pulih. Akibatnya, semua mahasiswa yang bersua Bima harus menjalani karantina mandiri 14 hari untuk memastikan dirinya tidak tertular Covid-19. Selama itu pula Ollie dilanda deg-degan, sempat semacam berwasiat kepada keluarga di tanah air. Dia sama sekali tidak ke luar rumah, kecuali ke apotek dan belanja sayuran, hanya 5 menit ke luar rumah. “Dan ke KBRI untuk mengambil bantuan vitamin dan obat-obatan yang diberikan oleh Bapak Duta Besar dan jajarannya dengan menggunakan taksi. Setelah itu hanya bertemu 1 orang yang mengantar bantuan makanan, selimut dan bantal yang diberikan oleh dewan pembina fatayat NU Azerbaijan. Saya tetap memperpanjang masa karantina mandiri sebagai self protection. Ini sudah berlangsung sejak Maret. Jadi 2 bulan lebih saya tidak keluar rumah,” ungkap Ollie.

Apa saja yang dilakukan Ollie selama karantina?

Selama di rumah semua belajar apapun yg bermanfaat untuk diri saya, yaitu membuat konten positif untuk Instagram dan Facebook, membuat konten edukasi belajar bahasa Azerbaijan, konten religi, konten lucu baik meme gambar maupun video parodi. Selain untuk menghibur diri saya juga untuk menghibur warganet yang memiliki duka yang sama.

Bagaimana dengan aktivitas kuliah saat ini?

Mulanya kuliah dihentikan dengan 3 kali masa perpanjang libur. Namun sekarang diberlakukan kelas online.

Kalau ngga salah, rekening BCA terblokir? Kenapa bisa begitu?

Ya. Rekening di blok oleh pihak BCA sejak masuk masa lockdown di Azerbaijan. Teman-teman dari negara-negra Afrika juga mengalami hal yang sama. Sebetulnya saya pakai Bank BNI juga tapi ATM saya hilang 3 bulan lalu. Sehingga saya mentransfer melalui M-banking ke rekeninbg BCA saya dengan harapan dapat diambil cash. Ternyata uang saya terkunci di BCA. Awal cara saya mengakalinya dengan iseng menarik tunai dengan kartu kredit BNI, ternyata bisa. Namun uang tunai tersebut hanya cukup untuk membayar flat saya selama sebulan dan untuk belanja kebutuhan pokok di supermarket sebesar sekitar Rp 500.000 untuk sebulan makan.

Jauh dari keluarga, dalam kondisi pandemi, dan rekening bank diblokir. Padahal Ollie perlu uang tunai untuk bertahan hidup. Bagaimana mengakalinya?

Dengan berjualan online. Karena kecintaan saya terhadap pastel dan kerinduan saya makan pastel, saya beranikan diri melalukan eksperimen membuat kue pastel. Dan setelah saya rasa cukup enak, saya belajar desain melalui aplikasi Canva. Lalu saya promosikan melalui akun instagram dagang saya yang baru saya buat dengan nama @ambyarmarket. Besoknya saya langsung ditelpon dapat orderan pastel sebanyak 35 buah. Orang pertama yang order adalah Ibu Duta Besar.  Hari esoknya disusul WNI. Saya juga melakukan jasa titip tahu tempe setelah saya order tahu di salah satu pengusaha restoran yang tutup dan sepi order selama lockdown. Saya bantu pasarkan tahunya. Juga saya bantu memasarkan masakan WNI yang selama lockdown pemasukan tidak ada. Ternyata ini menarik minat WNI lain, bahkan orang-orang Asia seperti Malaysia. Mereka mulai order ke saya. Jadi kita saling bantu selama lockdown. Bagi saya cukup solutif karena untuk mengantisipasi saat uang beasiswa telat masuk ke rekening.

See Also

Jauh dari keluarga pasti rindu sekali, bagaimana menyiasatinya?

Ya. Sangat rindu sekali. Saya melakukan video call hampir setiap hari dengan durasi 3 menit.

Agar bisa menahan rindu, Ollie berusaha terus menyibukkan diri. Dia juga belajar main gitar, menyanyi, menulis puisi, membuat lirik lagu, menulis apa aja. Apapun dilakukan demi bisa mengusir jenuh, seperti memasak, menjahit pakain yang robek, memodifikasi baju secara manual, mencuci sepatu-sepatu yang kotor, yoga, ikut seminar online, rapat online. Tapi yang paling sering adalah nonton YouTube masakan Indonesia. Sekarang ini, kecil kemungkinan bisa pulang ke Indonesia. Bahkan mungkin tidak bisa. Kalaupun bisa, Ollie tidak ingin, sebab bisa berisiko menjadi carrier Covid-19. Perjalanan ke Tanah Air akan membuatnya berjumpa dengan banyak orang, dan harus transir berkali-kali karena rutenya cukup panjang. Hanya ada penerbangan ke Moscow dan London. Jika ingin ke Indonesia harus banyak transit dan kemungkinan ditolak jika di negara transit tidak memiliki visa. Rutenya Baku-London-Amsterdam-Dubai atau Doha-Jakarta.

Bagaimana kondisi mahasiswa Indonesia lain di Baku?

Kondisi mahasiswa disini kurang lebih sama dengan saya. Mereka berniaga untuk menyambung hidup. Kecuali di asrama tidak bisa, karena tidak bisa masak. KBRI memberikan bantuan pangan untuk semua mahasiswa dan WNI terdampak.

Saat ini Ollie yang berpenampilan ceria ini berharap wabah cepat berlalu, sehingga dapat beraktivitas kembali dengan normal sehingga perekonomian dapat pulih kembali. “Dan semoga masyarakat bisa tertib dan patuh kepada pemerintah. Karena apapun keputusan pemerintah adalah yg terbaik untuk warganya. Tidak mungkin pemerintah mencelakakan warganya sendiri,” pesan Ollie.

Foto: Dokumen pribadi Kholidah Tamami

What's Your Reaction?
Excited
3
Happy
4
In Love
3
Not Sure
0
Silly
0
View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 Bersama Lawan Covid19 | Didukung oleh Cipendawa Rent Bus

Scroll To Top