Now Reading
Penyakit Infeksi dalam Tinjauan Sejarah

Penyakit Infeksi dalam Tinjauan Sejarah

Kenapa manusia selalu heboh dan panik ketika ada isu penyakit infeksi menular? Krn selama perjalanan sejarah manusia dalam ratusan ribu tahun, penyakit infeksi menjadi acaman eksistensi kehidupan ini, disamping ancaman perang dan kelaparan. Meskipun secara factual, sejak paruh kedua abad 20 infeksi bukan lagi ancaman kepunahan bagi kehidupan manusia.

Wabah penyakit infeksi yg paling terkenal dalam perjalanan kehidupan manusia adalah “black death”, yang muncul di Asia tengah dan timur pada sekitar tahun 1330an. Diawali bakteri Yersinia pestis yg menempel pada kutu tikus dan menginfeksi manusia yang terkena gigitan kutu ini. Lalu dimulailah horor mengerikan pandemi penyakit ini (dikenal dengan penyakit pes) yang menelan korban lebih dari 100 juta orang meninggal

Dari Asia Tengah, wabah ini dengan cepat menyebar ke seluruh Asia, Eropa dan Afrika Utara dan hanya kurang dari 2 tahun, epidemi pes ini sudah mencapai seluruh pesisir samudera atlantik dengan lebih dari seperempat populasi Eurasia saat itu meninggal karena wabah ini.

Mimpi buruk di Eropa dimulai bulan Oktober 1347 ketika 12 kapal bersandar di pelabuhan Messina Sisilia Terjadi kehebohan, saat itu karena hampir semua awak kapalnya meninggal, dan yang masih hidup pun mengalami kondisi yg mengerikan, dimana darah merembes di sekujur tubuhnya dan bernanah, dan akhirnya meninggal. Pihak otoritas Sisilia segera memerintahkan “death ship” segera keluar meninggalkan pelabuhan. Namun sudah terlambat karena dalam 5 tahun berikutnya “Black Death” membunuh lebih dari 20 juta penduduk di Eropa. Di Inggris, 4 dari 10 penduduk meninggal sehingga populasi susut dari 3,7 juta sebelum wabah menjadi 2,2 juta setelah wabah tahun 1352. Di Florensia kehilangan 50.000 dari 100.000 penduduknya. Pejabat pejabat setempat dibuat bingung dan tidak mampu  menghadapi bencana ini, selain menyelenggarakan doa-doa dan prosesi masal.

Dokter yg paling canggih saat itupun tidak akan mengerti apa penyebab wabah ini, karena mereka belum mengenal apa itu bakteri.  Antony Van Leeuwenhoek baru bisa melihat bakteri di tahun 1676. Saat wabah “Black Death”, mereka tidak bisa membayangkan adanya jasad renik mematikan. Bahkan Sampai era milenial inipun, kadangkala masih ada manusia yang lebih mudah menyebut penyakit wabah itu sebagai akibat cuaca buruk, santet, setan jahat, atau Tuhan yg marah, dan tidak mencurigai keberadaan bakteri dan virus. Kerajaan Maya, Aztec dan Inca musnah bukan karena perang melawan orang- orang Eropa tapi terutama karena wabah cacar, flu, pes, sifilis, tipes dan tuberkulosis. Epidemi ini terus berlangsung dan membunuh puluhan juta manusi hingga paruh pertama abad 20.

Kejadian atau dampak dari epidemi menurun drastis dalam beberapa dasawarsa. Secara khusus, angka kematian anak anak global ada pada tingkat paling rendah dalam sejarah, kurang dari 5% anak mati sebelum memasuki usia dewasa, padahal sebelumnya sepertiga anak gagal mencapai usia remaja. Keajaiban di atas adalah berkat pencapaian ilmu kedokteran abad ke-20, yg belum pernah terjadi sebelumnya dimana mulai tersedia vaksinasi, antibiotik, tranfusi darah, ilmu kesehatan yg memadai, dan infrastruktur yg lebih baik.

Sebut saja kampanye vaksinasi cacar yang sangat sukses, sehingga di tahun 1979 WHO mendeklarasikan manusia telah menang melawan cacar, dan bahwa cacar (smallpox) telah dilenyapkan sepenuhnya. Ini adalah epidemi pertama yg pernah dienyahkan oleh orang dari muka bumi. Padahal di tahun1967, cacar masih menginfeksi 15 juta manusia dan membunuh 2 juta di antaranya Tapi di tahun 2020, tak ada lagi manusia terinfeksi atau terbunuh oleh cacar. Kemenangan yg sangat sempurna, sehingga WHO menghentikan vaksinasi cacar

Selepas abad ke 20, beberapa kali kita dicemaskan ledakan potensial wabah baru seperti SARS tahun 2002, flu burung tahun 2005, flu babi tahun 2009, ebola tahun 2014 Tapi berkat langkah-langkah penanggulangan yang efektif, insiden penyakit tersebut sejauh ini bisa dibilang sedikit menimbulkan korban meninggal. SARS awalnya menimbulkan ketakutan manusia sebagai “new black death”, tapi ternyata hanya mengakibatkan kematian kurang dari 1000 manusia di seluruh dunia yang masih kalah jauh dibandingkan dengan “black death” yg menelan korban lebih dadi 100 juta orang. Wabah ebola di afrika awalnya juga tampak menakutkan dan tak terkendali, bahkan WHO 26 september 2014 menyebut sebagai “darurat kesehatan publik terburuk yg pernah ada di era modern”. Namun, pada awal  tahun 2015, epidemi ebola berhasil dijinakkan.

Ebola menginfeksi 30.000 orang dan menewaskan 11.000 di antaranya, menyebabkan kerugian ekonomi di Afrika Barat. Tapi korban tewasnya tidak ada apa apanya jika dibandingkan dengan epidemi cacar yg hanya menyisakan kurang dari 1 juta penduduk Aztec dari yg awalnya 22 juta orang. Demikian juga dengan flu burung yg membuat heboh manusia pada umumnya, pun akhirnya angka kematian yg diakibatkan juga relatif kecil.

See Also

Nah sekarang isu corona virus menjangkiti dunia, bukan virus corona yg jadi epidemi, tapi isunya yg bikin heboh. Kenapa heboh? Padahal data- data terakhir menunjukkan kita tidak perlu heboh meskipun perlu waspada? Kalau melihat fakta- fakta 50 tahun terakhir seharusnya kita tidak perlu ketakutan dalam menyikapi isu infeksi baru, Padahal tidak ada yang baru karena SARS, flu burung dan MERS juga disebabkan varian- varian corona virus.

Memang kalau dilihat secara global berdasar www.woldometer.com  pada  15 april 2020, corona telah menginfeksi 210 negara dengan kasus sebanyak 1.997.358 dan kematian 125.565 dengan pasien yang sudah membaik 478.326. Berdasarkan data ini, angka mortalitas sebesar 6,28 % dan angka kesembuhan 23.94%, artinya angka kesembuhan pasien corona virus ini tinggi. Saat ini pandemic virus corona masih berjalan sehingga angka-angka diatas masih bisa berubah, namun yang terpenting adalah jangan panik dan ikuti semua instruksi yang sudah dijelaskan oleh pemerintah dan IDI. Tetap optimis dan yakin kita mampu memadamkan corona asalkan saling bergotong royong. Indonesia Bisa!!!

dr. Andrianto Purnawan SpBS

( S1 – Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Pendidikan spesialis bedah syaraf FK Universitas Airlangga, Dokter bedah syaraf RSUP Soeradji Tirtonegoro Klaten, Anggota IDI bidang hubungan lembaga Pemerintahan dan media massa 2019 – 2021, Ketua tim percepatan partisipasi masyarakat penanggulangan Pandemi Covid 19 PB IDI 2020 )

What's Your Reaction?
Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0
View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 Bersama Lawan Covid19 | Didukung oleh Cipendawa Rent Bus

Scroll To Top