Now Reading
Ojol dan Semangat di Tengah Darurat

Ojol dan Semangat di Tengah Darurat

Semangat Ojol

Di stasiun kereta Kebayoran Lama, sekelompok tukang ojek online (ojol) beristirahat di pojok parkiran. Persis di halaman salah satu swalayan yang berada di area parkiran, mereka melepas penat sambil menunggu orderan.

“Beginilah kami sehari-hari di sini. Istirahat sebentar, sambil nunggu orderan, Bang,” kata Kapin, 35 tahun, Sabtu 4 April 2020.

Dia berterus terang wabah Corona memang bikin pendapatannya jauh berkurang. “Tapi, keluarga tetap butuh makan. Anak dan istri tetap harus dihidupin,” katanya lagi.

Kapin memang mengandalkan hidup dari profesi ojol. Terlepas pendapatannya berkurang, namun ia mengaku berusaha tetap berpikir positif.

“Namanya kita hidup dari sini, mau gimana lagi, ya, kan? Berusaha keras, teuteup, supaya dapur bisa tetap berasap,” dia menambahkan.

Namun dia mengaku bersyukur dalam kondisi begini masih banyak orang baik. Terkadang, kata dia, ada saja pelanggan yang tetap memberikan tips lebih banyak.

“Rata-rata, kalau ada sepuluh pelanggan, adalah tiga atau empat orang yang tetap ngasih tips,” ceritanya, yang dibenarkan rekannya, Taufik (45 tahun).

Taufik yang juga mengandalkan ojol sebagai profesi, mengakui bahwa tips dari pelanggan menjadi sangat berharga dalam kondisi sekarang.

“Bukan ngarep sih, tapi bikin kita yakin kalau orang baik itu masih banyak. Ini bikin kami sangat bersyukur, apalagi di saat orderan tidak seramai di masa-masa Corona ini,” kata bapak tiga anak tersebut.

Itu yang bikin dia merasa sangat terbantu, karena masih ada tambahan dari pendapatan utama. Terlebih ada anaknya yang sudah kuliah, berapa saja penghasilan didapat, entah ada tips dari pelanggan atau tidak, terasa sangat berharga sekali.

Menurut cerita Taufik, di rumah memang ia juga membuka warung kelontong. Namun terkadang barang dagangan banyak juga yang harus dikonsumsi sendiri.

“Sesekali memang ada bantuan dari dermawan, tapi itu kan kadang-kadang. Kita juga nggak mau bergantung dari itu, tapi tetap berusaha,” katanya lagi. “Kondisi sekarang ini bikin pendapatan berkurang, dan barang di warung pun terpaksa sesekali dipakai sendiri. Tapi, kita berusaha bersyukur saja, setidaknya masih bisa bekerja. Soal penghasilan, kita yakin saja sudah ada yang mengaturnya.”

Di sisi lain, walaupun tetap harus bekerja di luar rumah, Taufik mengaku tetap mengikuti anjuran pemerintah. Dari bagaimana tetap menggunakan hand sanitizer, sampai dengan tidak menyentuh anak saat pulang.

“Anjuran pemerintah tetap kita ikuti, sih. Sebab itu juga buat kebaikan keluarga juga,” katanya lagi. “Walaupun kita kerja ojol begini, apa saja imbauan pemerintah tetap kita ikuti. Cuma anjuran tetap di rumah yang belum bisa kita ikuti karena pekerjaan andalan cuma dari sini (sebagai ojol).”

See Also

Sementara ojol lainnya, Deni (32 tahun), juga meminta pelanggan juga memaklumi jika kondisi sekarang serba menyulitkan.

“Maksudnya gini, terkadang kita mau jemput pelanggan atau ngantar pesanan, mestinya dekat jadi jauh karena banyak kompleks dipasangi portal,” katanya.

Dia menyayangkan juga ada banyak kompleks yang memasang portal, walaupun berusaha maklum bahwa kondisi sekarang bikin banyak orang panik.

“Semestinya tidak perlu sepanik itu. Toh, kami ojol ini kalaupun ke mana-mana tapi tetap menjaga diri dan juga menjaga pelanggan, rajin pakai hand sanitizer dan sebagainya,” kata dia lagi.

“Sekarang kondisi emang lagi begini, satu sisi sulit, tapi dengan saling bantu dan saling memahami keadaan, mudah-mudahan tak jadi masalah lebih serius,” Deni menambahkan.

Menurutnya, dia dan teman-temannya akan tetap bekerja. Namun dia berharap pelanggan dan masyarakat umumnya tidak menjauhkan mereka. “Sebab kami harus tetap menghidupi keluarga dan cuma bisa bergantung penghasilan dari sini,” kata Deni lagi.

Satu lagi, katanya, semoga jangan ada pelanggan yang serampangan memberikan bintang satu karena itu sangat menyusahkan mereka. “Semua sedang susah, apalagi kami, dan jika diberi bintang satu cuma karena kami harus muter-muter akibat banyak jalan ditutup, pastinya kami akan semakin kesusahan. Tapi jika bisa dimaklumi, kami merasa itu juga jadi bantuan berharga sekali.”***

Para ojol di salah satu swalayan di Stasiun Kebayoran Lama
What's Your Reaction?
Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0
View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 Bersama Lawan Covid19 | Didukung oleh Cipendawa Rent Bus

Scroll To Top