Now Reading
Ojo Gumunan

Ojo Gumunan

Ojo Gumunan

Fenomena pandemi Covid-19 yang sedang mencekam masyarakat dunia saat ini sebenarnya tak perlu membuat kita terkaget-kaget dan tergagap-gagap. Ojo gumunan.

Pelajaran yang dapat dipetik dari heboh internasional ini adalah dampak perilaku umat manusia sendiri terhadap Alam dan Lingkungan. Seolah Alam membalas dendam. Nyatanya memang ada benarnya. Ini adalah konsekuensi falsafah Man AND Nature (Manusia menjadi penakluk/penguasa Alam) yang menafikan dan menegasikan falsafah Man IN Nature (Manusia yang hidup selaras dengan Alam, karena Manusia adalah bagian dari Alam).

Boleh saja kita menyebutnya kita menanggung “Karma” tindakan kita sendiri. (Saya pernah posting gambar manusia dikerangkeng dan satwa-satwa liar mengawasi kita di luar kerangkeng. Dan saya pun dicibir. Ya tak apa-apa)

Video “The Most Dangerous Species on Earth” di bawah ini mungkin lebih bisa berbicara.

Juga infografis pada tulisan saya “Memberi Wajah Manusia pada Pandemi Covid-19” yang dimuat di majalah Intisari Maret 2020. Saya mengutipnya dari tulisan jurnalis sains Laurie Garrett dalam chapter “The Next Epidemic” yang ditulisnya dan dimuat di buku “AIDS in the World” terbitan Harvard University tahun 1992. Ia sudah meramalkan, jangan kaget jika tahun 2000an ini makin banyak virus-virus patogen baru yang bakal membahayakan jiwa manusia.

Tahun 1992 kita belum mengenal tiga genus virus BetaCorona pemicu wabah SARS dan MERS serta pandemi Covid-19. Laurie Garrett magang sebagai Research Fellow selama dua tahun (1992-1994) di Harvard School of Public Health Boston, fakultas tempat saya studi dan memperoleh MPH tahun 1997. Tahun 1994 Garrett menerbitkan buku “The Coming Plague: Newly Emerging Diseases in a World Out of Balance” setebal 750 halaman. Garrett menerima Hadiah Jurnalistik Pulitzer untuk liputannya soal wabah virus Ebola.

See Also

Pada kesempatan ini tak ada salahnya saya mengadvokasi konsep One Health yang pertama kali saya dengar di Seminar Awam Covid-19 yang diadakan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, 12 Maret lalu. Virolog tulen dan dokter hewan DR drh Joko PamunGkas MSc dari Pusat Studi Satea Primata (PSSP) IPB membukakan mata saya, bahwa pemantauan Kesehatan Manusia tak boleh dilepaskan dari surveilans terhadap Kesehatan Hewan Ternak/Peliharaan dan Kesehatan Satwa Liar di alam bebas. Ketiganya berhubungan.

Survei lapangan PSSP IPB di lapangan/alam bebas dalam Proyek PREDICT menemukan adanya aneka jenis virus baru, termasuk spesies-spesies virus Corona di dalam tubuh satwa liar seperti kelelawar, rodensia dan lain-lain. Mereka menjadi inang aneka virus yang sebagian patogen bagi manusia. Kebiasaan memakan daging kelelawar dan satwa liar lain dapat membahayakan kesehatan kita.

Jadi, sekali lagi: Ojo Gumunan….

What's Your Reaction?
Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0
View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 Bersama Lawan Covid19 | Didukung oleh Cipendawa Rent Bus

Scroll To Top