Now Reading
Obat Remdesivir Disebut Efektif Bantu Pemulihan Pasien Corona

Obat Remdesivir Disebut Efektif Bantu Pemulihan Pasien Corona

Uji coba obat remdesivir untuk infeksi virus corona selangkah lebih maju. Hasil uji coba menemukan, obat tersebut membuat pasien Covid-19 pulih 30 persen lebih cepat daripada lainnya.

The US National Institute of Allergy and Infectious Disease (NIAID) mengatakan, pasien yang menggunakan obat buatan Gilead Sciences itu memiliki kurun waktu pemulihan yang lebih cepat daripada pasien yang hanya mendapatkan plasebo.

Waktu rata-rata pemulihan untuk pasien dengan remdesivir adalah 11 hari. Sementara pasien yang hanya diobati dengan plasebo membutuhkan waktu pemulihan hingga 15 hari.

“Data menunjukkan bahwa remdesivir memiliki dampak positif yang jelas dan signifikan terhadap waktu pemulihan,” ujar Pemimpin NIAID, Anthony Fauci, mengutip AFP. Hal ini menjadi bukti bahwa obat dapat bekerja dengan memblokir virus.

Tak hanya itu, uji klinis juga memperlihatkan bahwa tingkat kematian dari pasien yang diobati dengan remdesivir juga cenderung lebih kecil sebanyak 8 persen. Sementara pada pasien yang diobati dengan plasebo, tingkat kematian mencapai 11,6 persen.

Uji coba klinis ini dimulai sejak 21 Februari lalu. Uji coba melibatkan sebanyak 1.063 pasien di 68 lokasi yang tersebar di Amerika Serikat, Eropa, dan Asia.

Remdesivir sebelumnya sempat gagal dalam uji coba untuk menangani Ebola, Remdesivir termasuk golongan obat yang bekerja pada virus secara langsung dengan mengendalikan tanggapan autoimun yang abnormal.

Fauci mengatakan bahwa keberhasilan uji coba ini dapat membuka jalan bagi obat-obatan yang lebih baik dengan mengadopsi model yang sama.

Kendati memberikan kabar baik, namun para ilmuwan lain mengingatkan bahwa hasil uji coba sepenuhnya masih perlu dilihat dengan saksama.

Peneliti dari Tsinghua University School of Medicine, Beijing, China, Babak Javid mengatakan bahwa hasil uji coba ini bisa mengarah pada persetujuan terhadap remdesivir sebagai obat infeksi virus corona. Namun, dia mengingatkan bahwa remdesivir tak bisa menjadi ‘peluru tunggal’ untuk mengatasi Covid-19.

“Harus diingat pula bahwa remdesivir bukan ‘magic bullet‘ dalam konteks ini,” kata Javid. ‘Magic bullet‘ merujuk pada istilah pengobatan paling sempurna dan terbaik untuk mengatasi suatu penyakit tanpa memberikan efek samping.

Selain remdesivir, para ilmuwan juga mempelajari obat antimalaria Hydrochloroquine dan terapi plasma darah sebagai metode pengobatan Covid-19.

Hingga saat ini, Food and Drug Administration (FDA) belum menyetujui satu pun obat untuk menangani Covid-19. Namun, FDA berencana untuk mengeluarkan pengumuman soal penggunaan remdesivir sebagai obat darurat Covid-19.

“Sebagai bagian dari komitmen FDA untuk mempercepat pengembangan pengobatan Covid-19, kami telah berdiskusi dengan Gilead Sciences agar mempersiapkan ketersediaan remdesivir untuk pasien secepat mungkin,” ujar Juru Bicara FDA, Michael Felberbaum, mengutip CNN.

Kendati dunia tengah bersorak ramai atas hasil baik tersebut, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa masih terlalu dini untuk mengomentari hasil uji coba redemsivir.

Untuk meninjau dan mengkritisi penggunaan obat, WHO sendiri umumnya akan mengumpulkan bukti-bukti dari sejumlah penelitian yang telah ada. “Terkadang dibutuhkan sejumlah publikasi untuk menentukan [apa] dampak utama dari suatu obat,” uajr Direktur Eksekutif Program Kedaruratan Kesehatan WHO, Mike Ryan.

See Also

Sumber: CNN

What's Your Reaction?
Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0
View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 Bersama Lawan Covid19 | Didukung oleh Cipendawa Rent Bus

Scroll To Top