Now Reading
Normal Baru dan Ketergantungan Digital

Normal Baru dan Ketergantungan Digital

Pandemi Covid-19 telah memaksa masyarakat beradaptasi dengan gaya hidup baru yang belakangan disebut normal baru. Kebijakan pembatasan sosial yang membatasi aktivitas di dunia nyata membuat dunia digital makin diandalkan untuk mengisi keseharian.

Uli Rahmawati (27), seorang karyawan swasta di Jakarta yang kini banyak menghabiskan waktu di rumah, mengatakan, dirinya telah mencoba keseharian baru yang ia tata sebulan setengah terakhir. Selain bekerja, aktivitas lain yang biasa dilakukan di luar ia bawa ke dalam rumah.

Contohnya, aktivitas kebugaran. Jika sebelumnya ia berlatih dengan pelatih kebugaran dalam komunitas, kini ia mengandalkan media video jarak jauh untuk berkomunikasi dengan pelatih. Aktivitas itu juga didukung penggunaan aplikasi kesehatan dan kebugaran.

”Awalnya aneh, ya, latihan bersama-sama, tetapi lewat video. Namun, lama-kelamaan jadi mulai terbiasa,” ujarnya saat dihubungi Kompas di Jakarta, Jumat (1/5/2020).

Normal baru yang kini dijalani Rahmah (59) adalah berbelanja daring melalui aplikasi e-dagang. Padahal, sebelum pandemi membuatnya mengurangi aktivitas ke luar rumah, ia sama sekali belum pernah berbelanja daring. Oleh sang anak, ia kemudian diajarkan cara memilih barang, mengecek harga, dan menyimak ulasan toko untuk memastikan belanja dengan tepat.

”Dulu, pikirnya malas coba belanja daring karena enggak peduli ketinggalan zaman. Namun, baru sadar ternyata hal seperti ini perlu dikuasai juga,” tutur ibu rumah tangga tersebut.

Pembentukan normal baru bagi sebagian masyarakat nyatanya tidak selalu produktif.

Hal ini dirasakan karyawan swasta, Dannial (24). Ia mengaku masih bingung menghabiskan waktu yang tidak lagi diisi interaksi langsung dengan banyak orang. Akibatnya, ia mencoba menghibur diri dengan mengunduh gim di gawainya.

”Padahal, sebelumnya saya tidak pernah mengunduh gim. Namun, sekarang, jadi kecanduan, sampai hampir setiap jam saya buka aplikasi gim,” kata warga Jakarta tersebut.

Selain bermain gim, belakangan ia juga suka mengakses aplikasi peta dan akun traveler untuk melihat destinasi liburan yang belum pernah ia datangi. Kebiasaan tersebut ia lakukan untuk menghilangkan kepenatan karena tidak bisa liburan, sebagaimana yang biasa ia lakukan beberapa bulan sekali.

Beda reaksi

Ahli data dari perusahaan analisis data dan kecerdasan buatan, ADA, yang menganalisis 400.000 aplikasi digital di Asia, menemukan adanya perubahan drastis pada rutinitas harian masyarakat. Perubahan drastis itu menghasilkan perilaku konsumen baru yang disebut sebagai krisis persona.

Perubahan itu juga terjadi di Indonesia, berdasarkan catatan peningkatan penggunaan aplikasi produktivitas yang naik lebih dari 150 persen pada pertengahan Maret.

Krisis persona yang ditemukan adalah pembelanja yang adaptif (870.000 pengguna baru), pekerja garda terdepan (2 juta), pemantau pasar dan keuangan (130.000), masyarakat yang butuh hiburan (13,3 juta), masyarakat yang prioritaskan kesehatan (130.000), dan pemimpi liburan (125.000).

Managing Director ADA di Indonesia, Kirill Mankovski, menjelaskan, mereka mengidentifikasi berbagai karakter pengguna aplikasi berdasarkan reaksi mereka terhadap krisis, melalui analisis penggunaan beberapa aplikasi, serta perubahan gerakan fisik.

”Ada beberapa yang secara dramatis menggunakan aplikasi keuangan mereka, ada yang semakin giat menggunakan aplikasi hiburan. Adapula juga beberapa yang terus bepergian ke tempat kerja dan tidak mengubah perilaku online-nya karena tidak semua bisnis berhenti beroperasi, terutama industri-industri vital,” tutur Mankovski.

Saat menelaah penggunaan aplikasi belanja dan produktivitas (seperti aplikasi pertemuan virtual dan pembelajaran elektronik), ADA mencatat, dua jenis aplikasi tersebut paling banyak digunakan oleh kalangan menengah dan atas Indonesia.

Sejak diberlakukannya social distancing, penggunaan aplikasi belanja oleh pembelanja adaptif meningkat hingga 300 persen. Penggunaan aplikasi produktivitas untuk komunikasi dan pertemuan jarak jauh juga meningkat sejak sebagian besar pekerja profesional Indonesia telah menjalankan kerja dari rumah.

Ramadhan

Ketergantungan pada pemanfaatan media digital juga mengubah kebiasaan masyarakat di Ramadhan tahun ini. Riset terbaru SurveySensum melaporkan, banyak aktivitas yang tidak lagi bisa dilakukan di Ramadhan, terkait pandemi Covid-19, dikompensasi dengan penggunaan aplikasi digital.

Aktivitas masyarakat yang dilaporkan akan berkurang di Ramadhan kali ini adalah buka bersama dengan teman atau keluarga (turun 44 persen), sahur di jalan (turun 43 persen), ngabuburit (43 persen). Lalu, menyiapkan makanan spesial untuk puasa (25 persen) kemudian memperbaiki dan mendekorasi rumah (25 persen).

Selain itu, pengeluaran untuk aktivitas spesial lainnya di bulan suci Ramadhan adalah liburan (turun 37 persen), aktivitas olahraga dan kebugaran (30 persen), memberi THR kepada sopir atau pembantu rumah tangga (21 persen), dan belanja untuk diri sendiri atau keluarga (20 persen).

Sebagai gantinya, aktivitas itu akan diganti dengan merencanakan aktivitas berbagi momen dengan membagi foto keluarga atau anak (66 persen), foto masakan buatan sendiri (45 persen), membagi foto makanan yang dibeli (28 persen), dan memulai pertemuan virtual (19 persen).

Ada juga yang memilih mengikut tantangan di media sosial (17 persen), membuat video di aplikasi TikTok (14 persen), blog (12 persen), siaran langsung di Instagram (12 persen), atau membuat video Youtube (10 persen). Survei itu dilakukan pada 500 responden di 10 kota di Indonesia.

CEO SurveySensum Rajiv Lamba dalam keterangan tertulis mengatakan, Ramadhan kali ini akan diisi dengan kebiasaan digital sebagai bagian dari normal baru. Alat digital digunakan untuk melancarkan dan meningkatkan pengalaman.

”Kebanyakan ritual Ramadhan akan diciptakan ulang dalam mode digital. Aktivitas yang akan menjadi trending adalah berbagi menu di sosial media, termasuk buka puasa dan sahur,” katanya.

Sumber : Kompas.id/Shutterstock

What's Your Reaction?
Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0
View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 Bersama Lawan Covid19 | Didukung oleh Cipendawa Rent Bus

Scroll To Top