Now Reading
Merawat Impian Anak-anak di Tengah Ancaman Corona

Merawat Impian Anak-anak di Tengah Ancaman Corona

Pagi ini saya dibuat trenyuh oleh salah satu video yang beredar di media sosial. Seorang anak terlihat berusaha tegar, masuk ke dalam mobil ambulans, berpelukan dengan ibunya. Terlihat keduanya berusaha untuk bisa saling menguatkan. Sang anak dinyatakan positif Covid-19 (corona) dan harus menjalani perawatan khusus.

Saat itu juga saya membayangkan berada di posisi orang tua anak tersebut. Sungguh-sungguh tidak mudah. Saat anak-anak mungkin masih tetap bisa bergembira selayaknya seorang anak, karena ia tidak tahu seberapa berbahaya virus ini terhadapnya, namun bagi orang tua bisa dipastikan ini terasa sebagai pukulan serius.

Pastinya akan ada perasaan bersalah dan juga dihantui ketakutan. Merasa bersalah karena merasa tidak berhasil menjaga anak-anak dengan sebaik-baiknya di tengah ancaman sangat buruk di mana-mana.

Mungkin perasaan serba salah itu juga sudah terasakan jauh sebelum anak-anak itu dipastikan positif corona. Sebab sepanjang wabah corona diumumkan melanda Indonesia, orang-orang dewasa mungkin lebih leluasa untuk menghindar termasuk dengan cara tidak keluar. Berbeda jauh dengan anak-anak, yang pastinya sangat sulit untuk diajak berdiam hanya di dalam rumah saja.

Dalam kasus teranyar anak yang dinyatakan positif corona, rasanya, perasaan serba salah itulah yang sempat menghinggapinya. Melarang keras seorang anak untuk keluar rumah sama sekali tidak mudah. Juga sangat sulit memastikan ia terhindar dari tangan-tangan “carrier” atau pembawa virus, entah karena menyentuh pipi sang anak atau bahkan menciumnya.

Dilema. Rasanya semua orang tua, terutama di kawasan yang sudah dinyatakan sebagai kawasan merah wabah corona, mengalami dilema ini. Sebab memaksa anak untuk berdiam saja di rumah, hampir tidak mungkin. Memberikan pemahaman kepada anak pun tidaklah mudah.

Sebab, mengingat psikologi anak, kesenangan mereka untuk bisa bermain, jauh lebih besar dibandingkan kemungkinan mereka bisa memahami dan meyakini setiap pesan diberi.

Atau, kalaupun dijaga ketat, rasanya anak-anak pun terkadang cukup cerdas untuk menyiasati agar mereka tetap dapat keluar rumah, menghirup udara segar, dan bermain dengan teman-teman seusianya.

Dilema semacam inilah sehingga memantik terjadinya kasus-kasus di mana anak-anak akhirnya menjadi korban Covid-19. Walaupun ada kabar melegakan, bahwa peluang anak-anak untuk sembuh jauh lebih besar. Semoga saja inilah yang akan menjadi kabar baik setelah sederet anak dinyatakan positif mengalami Covid-19.

Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, per tanggal 22 April 2020, mencatat ada 26 anak-anak yang positif terpapar virus corona di 21 provinsi di Indonesia.

Dari 21 provinsi ini sendiri, selain ada 26 anak dinyatakan positif, masih ada lagi 6.744 berstatus ODP, 991 anak berstatus PDP.

Sementara angka kesembuhan, masih tetap bisa dibilang lebih melegakan karena mencapai sembilan orang, atau lebih tinggi dibandingkan anak yang meninggal dunia (mencapai enam anak).

Ada yang masih patut disyukuri juga, pemerintah pun terlihat memberikan perhatian khusus terhadap anak, selain juga untuk wanita, kelompok lanjut usia, hingga kelompok difabel. Salah satunya adalah program berjarak (bersama menjaga keluarga kita), yang digagas Kementerian Perempuan dan Anak.

Setidaknya telah ada 28 provinsi dan 378 kabupaten dan kota yang menunjukkan dukungan serius atas langkah diambil kementerian itu.

Sepuluh langkah yang digerakkan lewat program itu sendiri mencakup: 1, tetap di rumah; 2 hak perempuan dan anak terpenuhi; 3 alat perlindungan diri tersedia; 4 jaga diri, keluarga, dan lingkungan; 5 membuat tanda peringatan; 6 menjaga jarak fisik; 7 mengawasi keluar masuk orang dan barang; 8 menyebarkan informasi yang benar; 9 aktivasi media komunikasi online; 10 aktivasi rumah rujukan.

Jika menyimak penjelasan Menteri Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga, gerakan digagas tersebut memiliki dua fokus mencakup pencegahan dan penanganan.

Dalam hal pencegahan, pihaknya akan melakukan penyusunan materi edukasi dan disebarkan dengan sosialisasi di media cetak, elektronik, dan media sosial, di samping juga lewat mobil dan motor perlindungan (Molin dan Torlin).

Sedangkan yang menjadi target adalah lokasi yang banyak diisi kelompok perempuan dan anak; pasar tradisional, lapas perempuan, lapas anak, panti anak, sampai dengan panti jompo.

Di luar itu, untuk pencegahan, hal lain yang dilakukan Kementerian PPPA adalah menyusun aturan yang terintegrasi dengan substansi perempuan dan anak. Salah satu bentuknya adalah pedoman umum perlindungan anak, yang dikembangkan dengan semangat prinsip hak anak, non-diskriminatif, kepentingan terbaik bagi anak, hak untuk hidup, kelangsungan dan perkembangan, di samping penghargaan terhadap pendapat anak.

Itu juga yang dikabarkan akan menjadi masukan bagi regulasi yang disusun oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.

See Also

Dari penuturan Menteri Bintang di awal digulirkannya gagasan tersebut, ditegaskan bahwa pihaknya sudah mengintegrasikan dengan kebutuhan khusus perempuan, terutama bagi keluarga miskin dan sangat miskin.

Tentu saja, ini menjadi sebuah kabar gembira yang dinanti-nanti kelompok ini, namun tentunya kita berharap kementerian ini bisa memastikan bahwa kelompok ini benar-benar tersentuh.

Tak terkecuali juga untuk perempuan pekerja di sektor informal sampai dengan yang tinggal di pedesaan, tempat terpencil dan tertinggal. Jika ini bisa didelegasikan dengan baik, dan dilaksanakan dengan semaksimal mungkin, terlebih karena di sini juga melibatkan peran perempuan, maka ada harapan besar akan dapat meminimalisasi kemungkinan Covid-19 menyasar anak-anak.

Apalagi pihak kementerian ini sempat menegaskan bahwa akan melibatkan berbagai jaringan yang ada di lingkaran mereka, dari Forum Anak hingga Fasilitator Sekolah Ramah Anak, dlsb, tentu saja memberikan harapan yang jauh lebih besar. Hanya saja, di sini, pihak kementerian ini perlu memastikan secepatnya bahwa kelompok-kelompok potensial mendukung gerakan tersebut sudah digerakkan dengan maksimal.

Sebab, di saat-saat begini, terobosan-terobosan yang mengakar dan menjangkau masyarakat sejauh-jauhnya akan punya andil sangat besar. Terutama, tentu saja untuk memastikan agar semakin sedikit anak yang terancam oleh virus ini.

Kelak, perhatian serius dan langkah tepat dari pihak terkait, pasti akan tercatat sebagai sesuatu yang berharga, tak hanya dalam sejarah namun juga di hati masyarakat luas, tentunya.

Lalu kenapa anak-anak? Mengutip John F. Kennedy, children are the world’s most valuable resource and its best hope for the future.

Ya, anak-anak jualah yang menjadi sumber daya paling berharga, sekaligus harapan terbaik untuk masa depan.***

Zulfikar Akbar; jurnalis yang juga pernah bergiat di organisasi pendampingan anak di Aceh.

What's Your Reaction?
Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0
View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 Bersama Lawan Covid19 | Didukung oleh Cipendawa Rent Bus

Scroll To Top