Now Reading
Menang Melawan Covid-19

Menang Melawan Covid-19

Pandemi adalah bagian dari sejarah. Sebelum Masehi (430 BC), pandemi demam tipoid terjadi di Yunani, menewaskan dua pertiga dari populasi. Saat itu juga sedang terjadi perang Peloponnesian, dan berakhir dengan kekalahan tentara Athena dari Sparta. Pandemi telah menyelamatkan muka Athena, menjadi alasan kekalahan.

Ada pula wabah Antonine (Antonine Plague) pada awal abad Masehi dengan simtom seperti cacar atau campak. Nama wabah diambil dari nama salah satu penguasa Kerajaan Romawi, Marcus Aurelius Antonius, yang meninggal tahun 169 karena terserang wabah. Sepertiga penduduk Kerajaan Romawi tewas, dan melemahkan kekuatan tentara Romawi di wilayah-wilayah yang dikuasainya, termasuk Britania.

Ketika wabah Cyprian pada tahun 444 Masehi menyerang masyarakat Kepulauan Britania, saat itu mereka sedang bertikai melawan bangsa Pikti (Pict) dan Skotlandia. Karena wabah telah melemahkan kekuatan bangsa Britania, mereka meminta bantuan dari bangsa Anglo-Saxon, untuk pindah ke Kepulauan Britania Raya. Peristiwa ini memberikan kesempatan kepada keturunan Anglo-Saxon memerintah Britania sejak 600-an Masehi hingga 1066 Masehi.

Laskar Covid-19

Kalau sebelumnya pandemi hadir pada bangsa yang sedang berperang, Covid-19 datang dengan fenomena berbeda. Kehadirannya justru menimbulkan perang yang kompleks, yakni melawan Covid-19 sekaligus perang dengan dua laskar sosial aliansinya, coronavirus-infodemic dan ”hiper-realitas Covid-19”.

Kalau sebelumnya pandemi hadir pada bangsa yang sedang berperang, Covid-19 datang dengan fenomena berbeda.

Kita optimistis menang jika melihat upaya kerja maksimal kolaborasi pemerintah-sipil-TNI/Polri-tim medis-akademisi-bisnis-media. Diasumsikan Covid- 19 di Indonesia akan masuk tahap kurva landai mengacu pada melambatnya kenaikan pasien dalam pengawasan dan meningkatnya pasien yang sembuh. Inovasi dan vaksin juga dalam proses jadi.

Namun, melawan laskar sosial Covid-19, coronavirus-infodemic, sangat problematik. Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengingatkan, melawan Covid-19 akan berat jika tidak membasmi dulu coronavirus-infodemic, yaitu mis-informasi tentang Covid-19 dan ketidakpercayaan kepada pemerintah dalam penanganannya.

Tak mudah melawan coronavirus-infodemic karena kita sedang berada di era post-truth society, era di mana melalui informasi yang beredar bisa menjadikan kebohongan sebagai kebenaran, dan sebaliknya suatu kebenaran dinisbikan. Dalam post-truth society, informasi mudah membangkitkan emosi masyarakat, acapkali mengabaikan fakta dan data, dan mendramatisasi realitas.

Covid-19 mudah sekali bermutasi sosial secara endemik menjadi coronavirus-infodemic. Simtomnya adalah tingkat kecemasan masyarakat naik dan ketakutan kolektif meluas. Bagian dari simtom adalah fenomena saling menyalahkan dalam penanganan Covid-19.

Pemerintah menyalahkan masyarakat tidak disiplin mengikuti protokol kesehatan. Sebaliknya, masyarakat/sipil mengambinghitamkan pemerintah karena lambat dan kebingungan menangani Covid-19.

Memang, ada momen keterlambatan pemerintah mendeteksi, yaitu saat Kementerian Kesehatan pada akhir Februari 2020 berkukuh bahwa Covid-19 belum masuk di Indonesia. Padahal, para ahli epidemiologi dan biostatistik telah mengingatkan bahwa korona telah beredar di Indonesia tanpa terdeteksi.

Pada awal Covid-19 terjangkit di Wuhan, Pemerintah China juga sempat dikambinghitamkan oleh masyarakat. Pemerintah dinilai mengabaikan pernyataan terbuka dokter mata, Li Wenliang, tentang adanya virus yang mirip SARS. Bahkan, Pemerintah China menjatuhkan hukuman pada Wenliang karena dinilai mengeluarkan berita bohong. Ketika dr Wenliang meninggal karena komplikasi virus pada 7 Februari 2020, warga memprotes cara Pemerintah China yang mengabaikan dan lambat menghadapi Covid-19.

Untunglah Pemerintah China sigap mengantisipasi meluasnya coronavirus- infodemic dengan sistem sensor ketat terhadap semua informasi di media, terutama medsos. Hingga Februari, setidaknya 250 orang telah dihukum karena menyebarkan berita salah tentang virus korona. Pemerintah China mengerahkan militer ikut menyetop coronavirus-infodemic dan mengimbangi dengan informasi tentang totalitas pemerintah dalam melayani dan membangun infrastruktur untuk menangani Covid-19.

Kemampuan big data mengatur alur manusia dan logistik telah mengurangi kecemasan warga. Ada 10.000 personel militer aktif, 4.000 di antaranya adalah tenaga medis militer yang langsung terlibat penanganan Covid-19. Situasi ini menghadirkan energi positif bagi warga untuk menghentikan coronavirus-infodemic, dan taat mengikuti kebijakan pemerintah, terutama soal pembatasan sosial dan penggunaan masker.

Coronavirus-infodemic yang berkepanjangan akan mengancam keamanan nasional. Ia juga bisa menyerang keamanan internasional jika hadir antarnegara. Ini hampir terjadi ketika Pemerintah China dan AS saling mencari kambing hitam.

Pemerintah China mencurigai Covid-19 bagian dari konspirasi AS yang menyusupkan virus tersebut ke China. Sebaliknya, AS menuduh Pemerintah China sengaja menciptakan virus korona dan rekayasa genetik Covid-19 untuk mendapatkan vaksinnya sehingga menguntungkan perekonomian China.
Untunglah Trump dan Xi Jinping cooling-down, saling berkomunikasi dan sepakat menyatukan kekuatan untuk melawan Covid-19.

Hiper-realitas Covid-19

Laskar sosial Covid-19 lainnya yang juga berbahaya adalah ”hiper-realitas Covid-19”. Merujuk pada perspektif tentang hyper-reality dari Berger dan Luckman (1967), hiper-realitas Covid-19 bisa diartikan sebagai imajinasi super-ideal yang dituntut dari pemerintah dalam penanganan Covid-19.

Idenya berbaur antara opini obyektif dan subyektif. Yang berbahaya, jika dilandasi benturan berbagai perbedaan kepentingan politik yang telah ada dengan tujuan menciptakan instabilitas kekuatan politik pemerintah.

Adanya hiper-realitas Covid-19 menggiring terbentuknya persepsi masyarakat bahwa akan terjadi instabilitas sosial ekonomi politik di Indonesia akibat kegagalan menangani Covid-19. Ini menjadi sumber kecemasan dan ketakutan yang lebih meluas.

See Also

Hiper-realitas mendorong masyarakat melakukan hal-hal yang irasional, salah satunya belanja panik. Atau, meningkatkan social-unrest bagi pekerja/buruh dan kelompok masyarakat miskin karena memikirkan nasibnya.

Untuk mendapatkan gambaran suasana kecemasan masyarakat bisa melihat hasil survei Kompas, bahwa 43 persen responden mengaku sangat khawatir dan 55 persen khawatir, sisanya menjawab tidak khawatir dan tidak tahu (6 April 2020). Jika tingkat khawatir makin tinggi, tentu akan memicu stres dan mengganggu imunitas kolektif.

Menyingkirkan hiper-realitas Covid-19 memerlukan sinergi yang proporsional antara pemerintah, masyarakat, swasta, TNI, Polri, tim medis, akademisi, dan media. Masing-masing perlu aktif mengantarkan opini obyektif dan optimistis kepada masyarakat bahwa pemerintah dan bangsa Indonesia akan mampu menuntaskan virus korona seperti negara-negara lain yang berhasil mengatasinya.

Upaya pemerintah membangun health- good governance menghadapi pandemi semakin baik. Ada panduan pelaksanaan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Sudah ada pula Perppu No 1/2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara untuk mengatur langkah strategis mengatasi guncangan ekonomi masyarakat dan pemulihannya. Alat pelindung diri bagi tim medis makin tersedia. Ini semua berita baik dan bisa mengurangi kecemasan masyarakat.

Ibaratnya sedang bermain game, untuk menang melawan Covid-19 dan laskar sosial coronavirus-infodemic dan hiper-realitas Covid-19, diperlukan strategi AALD (selalu bersatu) dan ALLC (terus menyerang) ke satu arah, yakni menghentikan mata rantai penularan Covid-19. Bukannya saling mencari kambing hitam.

Strategi TFT (Tit for Tat) dipakai untuk keluar dari dilema tentang siapa yang menjadi garda terdepan. Semua pihak harus menjadi garda terdepan, khususnya masyarakat luas, bukan semata tim medis.

Jika ada anggota masyarakat tak mengikuti arahan pemerintah (pembatasan sosial, memakai masker, dan lain-lain), atau meneruskan informasi salah, maka klik Tit for Tat. Beri sanksi tegas. Indonesia pasti menang!

(Dwia Aries Tina Pulubuhu, Guru Besar Sosiologi dan Rektor Universitas Hasanuddin)

Sumber : Kompas Cetak (20 April 2020)

What's Your Reaction?
Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0
View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 Bersama Lawan Covid19 | Didukung oleh Cipendawa Rent Bus

Scroll To Top