Now Reading
Memulai New Normal dengan Semangat Baru

Memulai New Normal dengan Semangat Baru

Memulai New Normal dengan Semangat Baru 1

“Sampai kapan semua ini akan berakhir?”

“Kapan kehidupan kembali normal?”

“Kapan bisa ke luar rumah menghirup udara segar tanpa masker?”

Pertanyaan-pertanyaan itu bergayut di benak banyak orang belakangan ini. Sudah pasti. Siapa yang tidak merindukan dapat bercengkerama lagi di kafe bersama teman-teman, diiringi musik ringan dan aroma kopi nan menggoda? Atau pergi ke konser musik, bersama-sama menikmati alunan lagu dari musisi idola? Kesenangan-kesenangan yang sulit digantikan dengan menonton secara live streaming atau bercakap-cakap melalui Zoom atau Google Meeting.

Pasalnya, tak seorang pun dapat menjawab kapan pandemi Corona akan berlalu. Ilmuwan memprediksi, vaksin baru dapat ditemukan dan dipakai setidaknya tahun 2021. Itu pun setelah melalui tahapan eksperimen panjang, dan belum tentu jua sukses. Jika benar, maka semua umat manusia di muka bumi harus menjalani gaya hidup seperti sekarang hingga setahun ke depan. Gaya hidup yang akhirnya populer dengan sebutan The New Normal, sebuah normal baru.

Apa ini berarti kita harus terus memakai masker tiap keluar rumah? Menjalani physical distancing alias jaga jarak selamanya? Membawa hand sanitizer, rajin cuci tangan, berhati-hati setiap kali menyentuh sesuatu? Ini juga berarti mengurangi tatap muka dengan orang lain. Bekerja dari rumah sebisa mungkin. Bedanya, ada sedikit kelonggaran. Tidak harus 100 persen bekerja dari rumah, melainkan dapat mulai masuk kantor, dengan aturan baru. Pertokoan kembali dibuka, rumah ibadah bisa kembali dipakai, juga sekolah dan area publik lain, namun dengan protokol kesehatan. Sebuah gaya hidup baru yang diharap dapat membuat kita lebih disiplin, waspada, dan serba teratur. Tidak menyenangkan? Mungkin, di awal.

Hidup kita harus mengalami perubahan sedemikian rupa hanya karena virus yang baru kita kenal tiga bulan terakhir ini? Tidak, semua tetap dapat berjalan dengan normal, dalam makna baru. Normal baru adalah normal yang mengutamakan protokol kesehatan, bukan “normal lama” yang kita kenal dulu.

Seperti apakah New Normal itu? Belum lama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merilis protokol New Normal. Direktur Regional WHO untuk Eropa Henri P. Kluge. Setiap negara wajib membuat panduan bagi warganya untuk semua aktivitas di tempat publik, demi meminimalkan risiko penularan. Ini merupakan tahap transisi sebelum memasuki New Normal. “Setiap langkah transisi menuju the New Normal harus dipandu oleh prinsip kesehatan masyarakat, bersama dengan pertimbangan ekonomi dan sosial. Saya menyerukan solidaritas antar negara, inilah saatnya untuk meningkatkan dan menunjukkan kepemimpinan yang responsif dan bertanggung jawab untuk mengarahkan kita melewati badai ini,” kata Kluge.

Indonesia sudah mulai mensosialisasikan gaya hidup ini, hanya memang tak semudah membalik telapak tangan. Ini terbukti dengan beredarnya sejumlah video dan foto yang menunjukkan situasi pasar yang berdesakkan, pertokoan yang diserbu pengunjung tanpa masker, tak mengindahkan konsep jaga jarak. Atau para fans McD Sarinah yang berbondong-bondong bernostalgia ke sana sebelum tempat itu ditutup. Semua terjadi di tengah pandemi yang masih menelan banyak korban.

Agaknya masih banyak yang belum paham apa itu New Normal. Mungkin istilah ini terlalu tinggi dan keinggris-inggrisan? Kita perlu membuat padanan kata yang lebih mudah dimengerti semua kalangan. Barangkali menjadi “Normal Baru”, alih-alih The New Normal? Atau “Kondisi Baru”? Kita serahkan ini ke para pakar bahasa Indonesia. Yang menjadi konsen kita adalah bagaimana menyampaikan ke orang-orang di sekitar kita tentang apa sesungguhnya makna New Normal alias Normal Baru ini. Tapi ini bukan masalah Indonesia saja. Negara-negara maju seperti Amerika Serikat pun kewalahan mengatur warganya. Mereka yang terbiasa dengan pola hidup liberal nan bebas, mendadak harus patuh pada protokol kesehatan.

See Also
Tetap Berisi Walau di Rumah 3

Berdamai dengan pandemi bukan berarti virus Corona sudah tidak berbahaya lagi. Berdamai di sini artinya kita harus dapat terus beraktivitas seperti semula, namun dengan mengindahkan protokol kesehatan. Sulit? Pasti sulit untuk memulai suatu kebiasaan baru. Tapi tidak lagi apabila sudah terbiasa, dan menjadi suatu kebiasaan yang baik. Menjaga kesehatan itu merupakan hal yang sangat bagus, bukan?

Saya berusaha menarik hal-hal positif dari New Normal ini. Dengan rajin cuci tangan dan memakai masker, saya otomatis jadi orang yang lebih bersih dari masa sebelum Corona. Lebih peduli kesehatan. Konsep jaga jarak juga membuat saya jadi lebih waspada dengan orang-orang tak dikenal. Menghindari keramaian, setidaknya menjauhkan kita dari risiko kecopetan, bukan?

Yuk, kita mulai The New Normal dengan senyuman 🙂

Foto: MetaLab

What's Your Reaction?
Excited
2
Happy
1
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0
View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 Bersama Lawan Covid19 | Didukung oleh Cipendawa Rent Bus

Scroll To Top