Now Reading
Membangun konstruksi pikiran positif dalam pandemi

Membangun konstruksi pikiran positif dalam pandemi

Ada orang yang melemparkan pertanyaan, Kenapa postingan di social media saat pandemi justru sekarang sangat provokatif dan cenderung memberikan vibe negatif. Sementara ada yang bilang itu merupakan kritik dan opini, bukan hasutan kebencian. Tapi akhirnya kita melihat pandangan skeptis dengan usaha Pemerintah yang selalu dianggap gagal. Bahkan ada narasi negara sengaja membunuh dokter dengan alasan langkanya APD. Padahal belum tentu semua dokter yang gugur itu karena berada di lini depan menghadapi pasien. Ada yang memang terpapar karena perjalanan dari luar negeri.  Ada yang memang menderita sakit kanker dan covid19 menjadi pemicunya. Ada juga dokter gigi yang tidak tahu kalau pasiennya sebagai carrier.

Akhirnya melihat keseharian Indonesia melalui social media menjadikan pikiran pesimis tentang negeri ini. Kematian membuat semuanya terasa apatis. Ini mungkin bentuk kegelisahan orang yang merasa bahwa kanal kanal social media telah berevolusi dari media utuk social networking menjadi media perang dalam arti sesungguhnya. Masing masing orang, kelompok berusaha menjadikan akunnya sebagai tempat menyampaikan gagasan, ide dan yang berujung pada bagaimana cara memaksakan gagasan dan ide tersebut.

Rym Benarous, jurnalis dari Tunisa menggambarkan demam social media dalam beberapa tahun terakhir, setelah revolusi tahun 2011. Kondisi politik yang keruh membuat media sosial, terutama facebook dibanjiri ujaran kebencian.

55 % penduduk di Tunisia terkoneksi social media membuat kini semua orang bisa berbicara apa saja. Mulailah kebebasan berbicara menjadi ujaran kebencian. Dua tahun setelah rejim Ben Ali tumbang karena revolusi media sosial, kini Tunisia pecah dalam kubu relijius dan kubu sekuler. Ini juga terlihat di internet. Tidak hanya kelompok pro-demokrasi yang menggunakan jaringan sosial seperti Facebook dan Twitter, melainkan juga kelompok radikal seperti Salafi. Mereka mengorganisasi aksi kekerasan menentang politisi yang menurut mereka terlalu liberal.

Ada teori ‘ Groundswell ‘ sebuah trend sosial dimana orang untuk mendapatkan kebutuhannya, lebih memilih dari orang lain ketimbang dari produsen. Ini bisa juga mencari informasi apapun melalui teman atau komunitasnya. Sehingga secara tidak sadar, manusia akan terus cenderung berada dalam kelompok kelompoknya dan menganggap informasi resmi dari Pemerintah sebagai hal yang meragukan.

Walau diakui masih ada kritik yang konstruktif dan negara membutuhkan masukan seperti itu. Namun ada perbedaan pandangan terhadap Pemerintahan Jokowi telah membuat media sosial tidak menjadi ruang ekspresi yang yang mengedepankan rasionalitas kritis, tapi sudah menjadi ruang ekspresi hanya untuk saling cela. Bahkan mencaci maki, menyerang dengan ungkapan kasar. Penilaian bukan lagi pada logika, tapi berdasarkan suka atau tidak.

Pada akhirnya merujuk pada kecenderungan seseorang untuk mencari informasi yang sesuai dengan pandangan mereka. Media sosial menyediakan kemungkinan itu dengan adanya fitur fitur untuk mengikuti orang-orang yang disukai sekaligus membuang mereka yang berbeda pandangan. Lama-kelamaan, seseorang semakin terisolasi dalam kelompok masing-masing di dunia maya sehingga memunculkan pandangan yang semakin ekstrem.

Peter Dahlgren (2009) dalam Media and Political Engagement menyebut polarisasi itu adalah “cyberghettos” atau bermakna perkampungan terisolasi dalam dunia maya. Anatoliy Grudz dan Jeffrey Roy (2014) dalam Investigating Political Polarization on Twitter: A Canadian Perspective menggunakan istilah “ Echo Chamber “ ( ruang gema ), karena internet menciptakan ruang gema yang berputar di situ situ saja mengelilingi sebuah kelompok pengguna.

Dalam bukunya Filter Bubble ( 2011 ), Eli Pariser menulis tentang bagaimana mesin pencari dan jejaring sosial menyaring perbedaan pendapat dan akhirnya hanya memunculkan dalam gelembung filter yang diinginkan penggunanya. Dari penelusuran acak terhadap kicauan antar netizen tampak ada kecenderungan akun yang kontra pemerintah lebih banyak terhubung dengan akun yang juga sering menyuarakan opini yang sama. Mereka juga menuduh akun yang yang bertentangan dengan mereka sebagai akun buzzer bayaran dari Pemerintah.

Komitmen kebersamaan ini barang kali yang membuat negara negara tetangga kita membuang semua perbedaan dan bersama sama menyingsingkan lengan.  Warga secara sukarela menjadi volunteer kemanusiaan. Konten video atau kampanye memperlihatkan betapa heroiknya para tenaga medis bekerja tanpa pamrih. Sementara disini kita melihat beberapa dokter dokter terus mempolitisir situasi, sehingga kita jadi bertanya bagaimana mereka bisa bekerja kalau sering sekali memposting di social medianya.

See Also

Beberapa negara juga mengalami kelangkaan APD, atau memiliki Pemerintah yang gagap dan lambat. Tak ada negara yang siap menghadapi bencana ini. Amerika yang tergolong negara maju dan fasilitas kesehatannya nomor satu tetap saja kolaps. Negeri itu tak bisa menahan laju kematian yang jumlahnya luar biasa.  Tapi narasi kekesalan ini tidak terlalu mendominasi ruang percakapan. Caci maki terhadap Trump yang dianggap tidak kompeten atau tudingan kepada Perdana Menteri Conte sebagai Mussolini karena menerapkan darurat militer, sayup sayup tergerus dengan kesadaran kolektif untuk memenangkan perang melawan Covid 19.

Kita tidak bisa menganggap remeh tentang kebencian ini. Peradaban bisa hancur ketika perlahan lahan kebencian mengubah pola pikir sebuah bangsa. Daripada terus terusan nyinyir, membangun konflik di time line. Lebih baik kita mengkonstruksi pikiran positif untuk bisa mensiasati bagaimana bisa hidup diantara pandemi. Seorang dokter baru baru juga menuliskan pemikirannya soal ini. Kenapa tidak ?

Iman Brotoseno ( Chairman Pesta Blogger – 2009, ASEAN Blogger President – 2011 dan Alumni Internasional Visitor Leadership Program USA – 2013 )

foto : Daniel Xie

What's Your Reaction?
Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0
View Comment (1)

Leave a Reply

© 2020 Bersama Lawan Covid19 | Didukung oleh Cipendawa Rent Bus

Scroll To Top