Now Reading
Meluruskan informasi para dokter yang gugur saat pandemi

Meluruskan informasi para dokter yang gugur saat pandemi

Meluruskan informasi para dokter yang gugur saat pandemi 15

Pemberitaan media soal kematian para dokter dalam masa pandemi secara tidak sadar telah telah mengubah cara pandang publik terhadap peran negara. Ditambah dengan pernyataan dokter dokter di sosial media yang menganggap Pemerintah gagal memenuhi kebutuhan APD dan kesimpang siuran berita valid soal kematian dokter akhirnya mengakumulasi narasi pengkritik di social media bahwa negara menjadikan dokter di garis depan sebagai tumbal.

Judul berita seperti “ Ya Allah, 2 dokter meninggal saat tangani pasien Corona di Jakarta “ memang mengugah rasa kemanusiaan pembaca.  IDI juga kerap mengunggah berita duka cita kepada anggotanya yang meninggal dunia.  Tempo juga mengangkat cover story para dokter yang meninggal dengan mengutip keterangan IDI, bahwa dokter dokter itu tertular virus corona dari pasien yang mereka tangani.  

Beberapa kasus, IDI juga terkesan terburu buru memberikan pernyataan soal dokter yang meninggal terpapar virus karena merawat pasiden covid secara langsung. Ternyata pernyataan ini kemudian dibantah keluarga atau otoritas Rumah Sakit tempat dokter itu bekerja.

Tak salah dengan pemilihan angle yang heroik, dimana tenaga kesehatan tetap melayani pasien penderita covid dengan APD yang tidak layak. Kita tetap berduka dan menyesalkan kematian para dokter. Bagaimanapun dokter adalah aset SDM nasional yang berharga.

Pertanyaannya apakah benar dokter yang meninggal tersebut benar benar di garis depan menolong pasien Covid19.  .

Pertama tama ada pernyataan Ketua umum Ikatan Dokter Indonesia ( IDI ) dr. Daeng Fakih dalam sebuah diskusi Sabtu 18 April 2020 sebagaimana dikutip dari IDN Times, mengatakan jumlah dokter yang meninggal berjumlah 44 orang. Sementara Kompas menulis berdasarkan data yang diterima sampai tanggal 19 April 2020 jam 12.00, jumlah dokter yang meninggal 29 orang dan perawat 15 orang.

Meluruskan informasi para dokter yang gugur saat pandemi 18

Kedua saya mencoba mendata berdasarkan sumber pemberitaan sampai Selasa 19 Mei jam 12.00 siang, ada 39 dokter yang meninggal dimana 6 diantaranya bukan karena Covid19.

Data data yang saya kumpulkan mungkin tidak bisa terlalu detail, karena saya tidak bisa mendapatkan akses yang lebih dalam seperti ke rumah sakit atau otoritas IDI.

Akhirnya pengumpulan data lebih pada archive pemberitaan soal kematian dokter yang tercatat di mesin pencari. Dari situ kita bisa lebih mengerucutkan mana dokter yang menangani pasien covid secara langsung, dan mana yang tidak. Sampai minggu pertama April, sebelum IDI menginisiasi Gerakan Dokter Semesta Melawan Covid 19, yang menangani pasien covid hanya dokter spesialis paru, dokter spesialis anastesi dan dokter umum pranata lab.

Menyusul semakin banyaknya pasien yang terinfeksi virus Corona di Indonesia. IDI baru menyerukan kepada seluruh dokter Indonesia, baik dokter umum maupun seluruh spesialis untuk mempersiapkan diri dan bergabung menangani pasien Corona, termasuk memberikan kewenangan kepada seluruh dokter serta mengikuti pelatihan Corona.

Berikut nama nama dokter yang meninggal dunia pada masa pandemi ini.

  1. Dokter Hadio Ali Khazatsin Sp. S salah satu dokter spesialis syaraf, menghembuskan napas terakhirnya di RSUP Persahabatan, pada Sabtu ( 21/3). Saat mengetahui dr Hadio mengalami gejala Corona, pihak RSP Bintaro langsung merujuknya ke RS Persahabatan agar cepat mendapatkan pertolongan medis. Terkait kabar yang beredar, bahwa dr Hadio merawat sejumlah pasien Corona, Manager Marketing RS Premier Bintaro, M. Pringgondani menegaskan bahwa dr. Hadio tidak pernah merawat pasien positif Corona.
  2. Dokter Djoko Judodjoko, Sp B sebagai spesialis bedah ini meninggal dunia Sabtu (21/3) akibat terinfeksi Covid-19 yang disampaikan dr Pandu Riono melalui akun Twitter pribadi. Menurutnya, dr Djoko terinfeksi corona akibat minimnya APD di rumah sakit tempat dia bertugas. Diketahui dokter Djoko bekerja di RS BMC Mayapada Bogor. Ia sempat dirawat di RS BMC sebelum dipindahkan ke RSPAD Gatot Soebroto. Sebagai dokter bedah, dokter Djoko juga tidak menangani pasien Covid19. Pernyataan dr Pandu soal minimnya APD dibenarkan oleh ketua IDI Bogor, dokter Zainal Arifin yang mengatakan” Sekarang mengenai APD tenaga medis, sebenarnya mau jujur sih kurang optimal ya, kalau kita lihat itu perlengkapan untuk alat perlindungan diri memang kurang memadai. Tapi kita bilang kekurangan tidak juga, maksudnya, mungkin faktor lain frekuensi kunjungan pasien, komplitlah masalah. Kalau dibilang kurang APD enggak juga,”
  3. Dokter Laurentius Panggabean Sp.Kj yang meninggal di RS Mitra Keluarga Cibubur, Kamis ( 12 /3). Sehari hari ia menjadi Direktur utama RSJ Dr Soeharto Heerdjan Jakarta. Dulu lebih dikenal sebagai Rumah Sakit Jiwa Grogol.
  4. Dokter. Adi Mirsa Putra, Sp. THT merupakan spesialis THT yang meninggal dunia di RSU Persahabatan sebagaimana keterangan Kepala Humas RSUP Persahabatan Eryuni Yanti, Minggu ( 22/3 ). Almarhum diketahui mempunyai jadwal praktik di RS Ananda, Bekasi dan RS. Mitra Keluarga Bekasi Barat.
  5. Dokter Ucok Martin Sp P meninggal Selasa ( 17/3) di RSU Adam Malik. Walaupun spesialis paru tapi dia tidak sempat merawat pasien Covid19 karena dia langsung dirawat sejak 14 Maret setelah sebelumnya mempunyai riwayat perjalanan ke Jerusalem, Italia dan Turki pada 19 Februari hingga 1 Maret 2020.
  6. Guru Besar Epidemiologi Universitas Indonesia Prof. Dr. dr. Bambang Sutrisna, MHSc meninggal dunia senin ( 23/3 ) karena tak mengetahui jika pasiennya seorang suspek Covid19. Sang Anak membagikan cerita memilukan tentang sang ayah sebelum meninggal. “Hari ini makna #DiRumahAja yang sebagian dari kalian abaikan dan jadikan lelucon menjadi air mata bagi keluarga kami. Ya memang, ayah saya bisa dibilang bandel. Disuruh jangan praktek bilangnya kasian orang dari jauh. Ternyata pasien yang dibilang kasian itu adalah suspek COVID-19 dengan rontgen paru-paru udah putih semua. Pasien tersebut yang pulang paksa dari RS Bintaro dari ini dan itu. Lalu apa efeknya? Ayah saya demam, sesak. Fyi, ayah saya adalah orang yang nggak pernah ngeluh. Patah kaki aja masih jalan, batuk-batuk masih ngajar dari rumah. Jadi ketika mengeluh sesak, itu nggak main-main. Dibawa ke RS, sesak nggak membaik. Saturasi terus turun, RJP, intubasi, dan meninggal. Saya tulis ini cuma mau minta tolong, please untuk yang punya pilihan, jangan bandel, #DiRumahAja dan yang udah di RS jangan bandel sampai pulang paksa,”
  7. Guru Besar UGM Prof Iwan Dwiprahasto bin Oetomo Moestidjo tutup usia dalam usia 58 tahun pada Selasa (24/3 ) pukul 00.04 WIB di RS Sardjito Yogyakarta. Beliau tidak berpraktek dan tidak memiliki catatan perjalanan dari luar negeri.
  8. Dokter Bartholomeus Bayu Satrio Kukuh Wibowo meninggal dunia setelah ditetapkan sebagai orang dalam pemantauan (ODP) terkait Corona. Dokter Bayu meninggal pada Kamis ( 26/3) di RSUD Bekasi. Ia tidak menangani pasien Corona, karena sehari hari praktek di klinik 24 jam tempat dia bertugas, demikian Ida Evelyn Sitorus istrinya memberikan keterangan. Bayu, sempat dibawa ke RS Persahabatan, RS Sulianti Saroso, juga RSPAD Gatot Soebroto, tetapi penuh. Wisma Atlet juga sudah didatanginya, tapi Bayu tidak bisa dirawat di Wisma Atlet lantaran di sana tidak tersedia ventilator. Akhirnya ia dibawa kembali ke RSUD Bekasi
  9. Dokter Exsenveny Lalopua MKes meninggal Kamis ( 26/3). Ia juga tidak menangani pasien Covid19, sebagai PNS kariernya lebih ke birokrasi di Dinas Kesehatan Bandung. Ia pernah menjabat kepala RSUD Kota Bandung.
  10. Dokter. H. Efrizal Syamsudin, M. M yang merupakan Direktur RSUD Prabumulih, Sumatera Selatan, meninggal Senin ( 23/3 ). Dokter Efrizal memiliki riwayat perjalanan ke Batam Kepulauan Riau sebelum jatuh sakit. Sempat berstatus pasien dalam pantauan (PDP) dan dirawat di RSMH Palembang. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes ) setempat, dr H Happy Tedjo TS MPH, menjelaskan dr Efrizal memiliki riwayat sakit lamanya yakni diabetes dan hipertensi. Terakhir, sempat didiagnosa DBD.
  11. Dokter Ratih Purwarini meninggal dalam status pasien dalam pengawasan (PDP) Selasa ( 31/3 ). Ia sebagai dokter umum dan tidak merawat pasien Covid19. Selain menjadi Dirut RS Duta Indah Jakarta Utara,  Ratih juga aktif sebagai koordinator Unit Pengaduan untuk Rujukan (UPR) Komnas Perempuan.
  12. Dokter Laksma TNI (Purn) dr. Jeane P. M. R. Winaktu, Sp. BS meninggal Kamis ( 2/4 ) Sebagai dokter bedah syaraf juga tidak menangani pasien Covid19. Direktur Utama RSAL Mintohardjo, Kolonel Wiweka, saat dikonfirmasi menjelaskan dr. Jeane tidak merawat pasien Covid19. Ia meninggal karena mengalami gangguan saluran pernapasan dalam status PDP.  Pihak rumah sakit masih menunggu hasil pemeriksaan terkait COVID-19.
  13. Prof. Dr. dr. Nasrin Kodim, MPH meninggal Jum’at (3/4 ).di RSCM Jakarta. Ia seorang guru besar Departemen Epidemiologi FKM Ul. Beliau dipastikan berstatus sebagai Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dan tidak dalam merawat pasien Covid19.
  14. Dokter Bernadette Albertine Francisca T., Sp. THT-KL. Dokter spesialis THT ini sebelumnya meninggal dunia setelah dinyatakan berstatus Pasien Dalam Pengawasan (PDP) Covid-19. Sebelum dinyatakan sebagai PDP, Albertine memang aktif melakukan praktik di rumah sakit tempat kerjanya. Menurut dr Wahyudi Muchsin humas IDI Makassar, Sabtu ( 4/4), dr Bernadette Albertine Fransisca diduga dua minggu sebelumnya terpapar Covid-19 saat praktik di  RS Awal Bros Makasar dan RS Bhayangkara. Pasien yang diperiksa tak menyampaikan riwayat perjalanan dan gejala corona ke dokter yang memeriksanya.
  15. Dokter Ketty Herawati Sultana merupakan bagian dari tim dokter di RS Medistra yang ikut merawat Menhub Budi Karya Sumadi sebelum dirujuk ke RSPAD.  Demikian keterangan Humas PB IDI Abdul Halik Malik, Minggu ( 5/4).  Dokter Ketty sempat dirawat selama 7 hari di RS Medistra, Jakarta.
  16. Dokter Lukman Shebubakar, Sp. OT (K), Ph. D Dokter yang berpraktik di Rumah Sakit Premier Bintaro dan Bethsaida Hospital ini meninggal di RS Persahabatan, Jakarta. Demikian keterangan Humas IDI Halik Malik, Sabtu ( 4/4).  Ia seorang dokter spesialis tulang dan meninggal dalam status PDP. dr. Lukman adalah pegawai negeri sipil di RSUP Fatmawati.
  17. Dokter Wahyu Hidayat, Sp. THT-KL juga dokter spesialis THT meninggal Senin ( 6/4 ) di RS Pelni. Ia tidak menangani pasien Covid19, hanya melayani pasien umum sehari-harinya. Hal ini juga bisa dilihat wawancara putra almarhum dr Hidayat dengan CNN Indonesia.
  18. Dokter Heru Sutantyo yang meninggal di RSPP, demikian penjelasan Humas IDI Halik Malik, minggu (5/4). Dokter Heru melayani pasien umum sehari-harinya dan bukan pasien Covid.
  19. Dokter jiwa sekaligus pakar seksologi Dr Naek L Tobing, SpKJ meninggal dunia karena Covid19 pada Senin (6/4) di Rumah Sakit Pusat Pertamina Jakarta justru mempunyai riwayat Kanker lambung stadium empat.
  20. Dokter Karnely Herelena meninggal dunia dalam status pasien dalam pengawasan (PDP) Selasa ( 7/4) di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Fatmawati Jakarta Selatan. Ia merupakan anggota IDI cabang Depok yang menjabat Kepala Seksi Kesehatan Jiwa Lanjut Usia, Kementerian Kesehatan. Oleh sebab itu, dr Karnely diketahui bukan dokter yang menangani langsung pasien Covid-19 di rumah sakit.
  21. Dokter Surdadi Hirawan , M. S., Sp. Ok tidak dijelaskan bagaimana ia tertular, karena ia tidak merawat pasien Covid19. Sebelum meninggal Minggu (12/4) di RS Persahabatan, ia sempat dirawat di RS Pondok Indah. Spesialisasi beliau pada identifikasi dan pengelolaan risiko ilmu kesehatan kerja, memang tidak menangani pasien covid19.
  22. Dokter Soekotjo Soerodiwirio, Sp. Rad merupakan salah satu tenaga pengajar senior di Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran. dr Soekotjo meninggal Jum’at ( 10/4 ) di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS). Ia juga tidak menangani pasien Covid19.
  23. Dokter Hasan Zain Sp P yang merupakan spesialis paru di Kalimantan Selatan meninggal Rabu ( 15/4) di RS Ulin Banjarmasin setelah seminggu dirawat di ruang isolasi. Beliau sudah pensiun dari RS Ulin Banjarmasin dan selama ini hanya praktek di RS Islam Banjarmasin dan RS Suaka Insan Banjarmasin yang bukan merupakan rumah sakit rujukan Covid19, sehingga jelas ia tidak melakukan penanganan terhadap pasien Covid-19.
  24. Drg. Amutavia Pancasari Artsianti Putri, Sp. Ort (RSUD Jati Sampurna, Bekasi ).
  25. Drg. Yuniarto Budi Santosa, M.Kes (Dinkes Kota Bogor).
  26. Drg. Roselani Odang, Sp. Pros
  27. Drg. Gunawan Oentaryo (PDGI Banjarmasin)
  28. Drg. Umi Susana Widjaja, Sp. PM
  29. Drg. Anna Herlina Ratnasari
  30. Dokter Michael Robert Marampe, meninggal dunia pada usia 28 tahun di Rumah Sakit Bhayangkara Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, pada Sabtu 25 April 2020 sekitar pukul 22.00 WIB. Alumni FK UKI angkatan 2009 ini bekerja di bagian dokter 24 jam RS Permata Bunda Cibitung, sehingga ia tidak menangani pasien covid19. Diduga terpapar pasiennya yang membawa virus. Ia sempat dirawat selama 8 hari di RS Persahabatan. Hasil swab / PCR negatif sehingga dipulangkan karena keadaan membaik. Namun baru di rumah selama 2 hari, ia mengalami nafas sesak sehingga dibawa ke RS Polri. Setelah dicek kembali, ternyata positif covid dengan paru paru penuh peradangan khas covid19. Beliau juga menderita diabetes melitus tipe 1 ( sejak bawaan kecil ).
  31. Dokter Berkatnu Indrawan Janguk , berusia 28 tahun dan sehari hari bertugas di IGD Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Soewandi, Surabaya. Menurut keterangan Koordinator Protokol Kesehatan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Surabaya, drg. Febria Rachmanita, dokter Berkatnu diketahui tertular dari seorang pasien yang sudah positif COVID-19 asal Pemalang, Jawa Tengah, yang tidak jujur kalau dirinya sudah dinyatakan positif COVID-19.. Di samping itu, dokter Berkatnu juga diketahui memiliki riwayat asma. Dengan riwayat asma, menjadikan almarhum rentan terhadap virus corona. Kemungkinan almarhum sering membuka masker saat merawat pasien, sehingga terpapar
  32. Dokter Anna Mari Ulina Bukit meninggal (04/05/2020 ) di RS Martha Friska Medan. Ia tidak menangani pasien, walau merupakan dokter medis lulusan Fakultas Kedokteran USU tahun 1982, namun dalam kesehariannya dia lebih menekuki bidang pendidikan tinggi, yakni mengelola Yayasana Mandiri Bina Prestasi (MBP) di Medan, Sumatera Utara. Ia juga politisi sebagai wakil ketua DPD Gerindra Sumatera Utara. Ia juga memiliki riwayat perjalanan ke Malaysia beberapa waktu lalu.
  33. Dokter Irsan Nofi Hardi Nara Lubis, Sp.S meninggal Senin ( 18/5 ) jam 12.55 WIB, di Rumah Sakit Colombia Asia, Medan. Dokter spesialis syaraf lulusan Universitas Gajah Mada ini bekerja di RS Universitas Sumatera Utara dan RS Royal Maternity. Tidak dijelaskan dimana ia terpapar virus, tapi sebagai dokter syaraf, ia tidak menangani pasien covid 19.

Untuk keenam dokter gigi, mereka terpapar covid19 karena tidak mengetahui status pasiennya. Khusus kepada dokter dokter gigi, Ketua Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), drg. Hananto Seno pernah mengimbau kepada seluruh dokter gigi yang saat ini sedang melayani pasien tetap mengutamakan dan memastikan menggunakan alat pelindung diri (APD), bahkan menunda dulu penanganan pasien yang tidak terlalu darurat.

Bahkan ketua BNPB meminta Kemenkes agar mengeluarkan edaran agar dokter gigi dan THT tidak praktek dulu selama masa pandemic, dengan pengecualian pasien yang sangat serius.

Meluruskan informasi para dokter yang gugur saat pandemi 19

Dari investigasi diatas, kemungkinan besar dari 32 dokter yang meninggal, hanya Dokter Ketty yang berhubungan langsung dengan pasien Covid19.  Sisanya terpapar dari aktivitas perjalanan dan kegiatan rumah sakit, dimana tidak mengetahui jika pasiennya membawa virus.

Selain itu ada beberapan nama nama dokter sempat beredar di media, diduga meninggal karena covid19, namun akhirnya dibantah IDI, rumah sakit atau keluarganya.

dr. Toni Daniel Silitonga yang merupakan Kepala Seksi Penanggulangan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Bandung Barat sekaligus Satgas Tim Penanggulangan COVID-19. Berdasarkan informasi yang disampaikan oleh IDI, dr. Toni sangat sibuk mempersiapkan fasilitas kesehatan khususnya untuk wilayah Kabupaten Bandung Barat agar sigap dalam menangani ancaman COVID-19.

“Adalah benar, dr. Toni Daniel Silitonga dalam wafatnya bukan disebabkan langsung oleh COVID-19. Beliau berpulang dikarenakan kelelahan dan adanya serangan jantung,” jelas Ketua umum PB-IDI, dr. Daeng M. Faqih, seperti tertulis dalam keterangan akun Instagram IDI.

Demikian juga, Universitas Diponegoro Semarang membantah jika salah satu staf pengajarnya atas nama Dr. Anneke Suparwati, MKes meninggal dunia karena infeksi virus corona Covid-19. Mendiang Anneke sendiri diketahui sudah tidak praktik sebagai dokter sejak lama dan sudah pensiun dari staff pengajar sejak empat tahun yang lalu

“Kami klarifikasi bahwa beliau meninggal bukan karena sakit (menderita) Covid-19, namun beliau sakit DM (diabetes melitus) sudah sejak lama,” tulis Dr. Budiyono, S.KM, MKes, Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro.

Itu pula yang dikemukakan oleh dr. Diah Kartika, anak dari dr Adi Santoso. Ia menjelaskan bahwa ayahnya meninggal, karena stroke.

“Penyebab ayah saya meninggal dikarenakan serangan stroke yang kedua kalinya. Subarachnoid Hemorragik (SAH) yang pertama terjadi pada bulan Januari 2020. Setelah itu sudah tidak praktek lagi “ ungkap dr. Diah.

Dari nama nama dokter yang gugur terselip nama dr. Maas Musa Sp.A, hal ini juga dibantah puteri almarhum yang mengatakan ayahnya memiliki riwayat penyakit parkinson dan tidak bisa berjalan sejak 2019.  Pada 31 Maret 2020 pukul 23.30 WIB, dr. Maas dilarikan ke UGD RS Bethsaida, Serpong, Tangerang.

See Also
Menggugah Asa Bangsa 17

Pada tanggal 1 April 2020 pukul 02.00 WIB, hasil CT Scan dan cek darah mengindikasikan bahwa dr. Maas menderita stroke dan dipindahkan ke ICU pada pukul 04.30 WIB untuk diberikan obat penurun tekanan darah. Namun pukul 09.30 WIB pagi, dr. Maas dinyatakan meninggal dunia karena serangan jantung.

Eddy Supriyadi, Sp. PA Konsultan Hematologi-Ongkologi Pediatrik yang menyukai fotografi ini meninggal setelah dirawat di RS. Ia telah terkonfirmasi penyebab kematiannya karena kanker  lympoma, bukan karena Covid-19.

Terakhir dikabarkan melalui IDI bahwa dr Prijambodo Miloredjo, SpP dari Bengkulu meninggal dengan status pasien dalam pengawasan (PDP) Corona (COVID-19). Berita itu dibantah dr Ismir Fahri yang juga menjabat sebagai Wakil Direktur (Wadir) RSUD M Yunus Bengkulu. Menurut dr Ismir yang juga sebagai rekan kerjanya, almarhum meninggal dunia disebabkan karena penyakit tua dan meninggal di Jakarta.

Dijelaskan bahwa Almarhum dr Prijambodo ini merupakan pensiunan dokter di RSUD M Yunus Bengkulu yang telah lama tidak lagi berpraktek di Bengkulu, namun telah menetap di Jakarta. Selain itu, menurut informasi yang diterima dari pihak keluarga, almarhum meninggal bukan karena Covid-19.

Kita terus mendukung langkah progresif untuk memastikan semua tenaga kesehatan mendapatkan APD sesuai standar, agar tidak terpapar virus.  Namun ada yang juga penting, yakni mengatasi kepanikan dan rasa takut masyarakat karena ekses pemberitaan dari media massa atau media sosial. Agus Sudibyo, anggota dewan pers menulis dalam opininya di Kompas ( 20 April 2020 )

“ Berpegang teguh pada prinsip-prinsip verifikasi juga perlu ditekankan di sini agar masyarakat memperoleh informasi yang proporsional atau memadai. Media harus mengupayakan konfirmasi sumber resmi pemerintah untuk informasi yang memiliki dampak publik. Namun secara resiprokal juga sebaliknya, keterangan resmi pemerintah perlu dapat opini pembanding dari para ahli “

Berita kematian dokter dalam situasi pandemi bisa berpotensi untuk dipolitisasi menjadi kepanikan masyarakat. Informasi yang jernih, lurus dan jujur  – sepahit apapun – bisa menjadi bagian proses keterbukaan. Dengan kata lain, kita membutuhkan sikap waspada dan juga hati hati dalam menyampaikan pesan atau berita.

Iman Brotoseno ( Alumni Internasional Visitor Leadership Program USA – New Media 2013 )

Foto : Getty Images

What's Your Reaction?
Excited
8
Happy
18
In Love
1
Not Sure
9
Silly
2
View Comment (1)

Leave a Reply

© 2020 Bersama Lawan Covid19 | Didukung oleh Cipendawa Rent Bus

Scroll To Top