Now Reading
Lumbung Jagung, Antibingung dan Antilimbung

Lumbung Jagung, Antibingung dan Antilimbung

Memenuhi permintaan Nasibah (50) ibunya, Hervan Effendi (14) mengambil sejumlah jagung dari lumbung keluarga. Tak ia hitung berapa jumlah jagung itu. Ia hanya menakar hingga keranjang anyaman bambunya penuh.

Sore itu, Nasibah hendak membagi-bagikan puluhan jagung kepada tetangganya. Ini bukan pertama kali ia lakukan. ”Beberapa minggu lalu juga ada puluhan jagung diletakkan begitu saja di depan rumah kami. Lumayan bisa untuk persediaan pangan sebulan,” ujar Widi Nurmahmudi, tetangga depan rumahnya.

Jagung memang masih menjadi makanan pokok pendamping nasi bagi masyarakat di Lingkungan Papring, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi. Kampung ini berjarak 15 km dari pusat kota Banyuwangi dan berbatasan langsung dengan hutan yang dikelola Perhutani.

Akhir-akhir ini, lumbung jagung seperti yang dimiliki keluarga Nasibah kembali dihidupkan masyarakat Lingkungan Papring. Lumbung ini membuat warga tidak lagi bingung terhadap persediaan pangan. Terlebih pada masa pandemi Covid-19, mereka juga tak akan limbung berkat lumbung jagung.

Lumbung jagung biasanya ditempatkan di area dapur. Jagung-jagung tersebut ditumpuk di atas anyaman bambu di atas perapian. Jarak ketinggian lumbung dari lantai sekitar 2 meter sehingga aktivitas memasak di dapur tidak terganggu.

”Jagung disimpan di atas perapian agar kering dan tidak berjamur. Kalau lembab, jagungnya ’berkeringat’. Kalau dibiarkan terus berkeringat, justru tumbuh tunas baru. Malah tidak bisa dimakan,” ujar Asnawi (74), salah satu petani jagung di Papring.

Tahun ini Asnawi menyimpan sekitar 900 bonggol jagung di lumbungnya. Jagung tersebut merupakan hasil panen dari ladang miliknya.

Ia sengaja tidak menjual jagung panennya karena merasa hasil panen itu cukup atau bahkan berlebih jika hanya dikonsumsi dirinya dan istrinya, Sutinah (72). Bila ia menjualnya, ia justru khawatir tidak mampu membeli kembali jagung atau beras untuk makanan sehari-hari.

”Iki nek tak dol, gur diregani Rp 3.500. Lha sesuk nek meh tuku regane wes Rp 8.500. Mending tak simpen dewe, tak pangan dewe. Dari pada didol murah, tapi pas butuh ra kuat tuku. (Kalau dijual hanya dihargai Rp 3.500. Besok kalau mau beli, harganya sudah Rp 8.500. Lebih baik saya simpan sendiri, saya makan sendiri. Daripada dijual murah, tetapi saat butuh tidak mampu beli),” tutur Asnawi.

Atas dasar itu, Asnawi dan Sutinah memilih menyimpan sendiri jagung hasil panenan mereka. Untuk dua orang, jagung sebanyak itu bisa digunakan hingga setengah tahun.

Cara yang sama dilakukan pasangan suami-istri Ahmadun (60) dan Muasnah (50). Tahun ini, mereka menyimpan 4.000 bonggol jagung dari hasil panenan seluas 1/2 hektar. Ahmadun mengatakan, simpanan tersebut mampu digunakan hingga setahun.

Saat ditemui Kompas, Sabtu (9/5/2020), Ahmadun baru saja mengangkut sejumlah jagung yang dijemur untuk digiling jadi beras jagung keesokan harinya. Sementara Muasnah menyiapkan hidangan berbuka puasa dengan sajian nasi jagung (beras dicampur beras jagung) lengkap dengan sayur daun kelor dan sambal terasi.

Jagung memang menjadi makanan pokok alternatif warga di Lingkungan Papring. Selain dijadikan beras untuk menggantikan atau mendampingi nasi, jagung juga diolah sebagai kudapan yang cukup mengenyangkan.

Jagung yang sudah dipipil, dikukus hingga merekah dan empuk. Lalu, jagung tersebut dicampur parutan kelapa, gula, dan sedikit garam. Orang Jawa mengenal kudapan tersebut dengan nama grontol.

”Makan jagung lebih enak. Nasi jagung rasanya lebih manis dan tahan lama kenyangnya. Kalau nasi biasanya sarapan jam 06.00 nanti pukul 10.00 sudah terasa lapar. Nah, kalau makan nasi jagung, pukul 12.00 masih terasa kenyang,” ujar Muasnah.

Jagung memang dapat dijadikan makanan pokok pengganti nasi. Pemanfaatan lumbung jagung juga sangat layak diandalkan menghadapi kondisi pandemi saat ini. Sistem lumbung tidak hanya membuat pasokan pangan keluarga aman, tetapi juga menjadi tameng ancaman kelaparan bagi masyarakat.

Pemilik lumbung biasanya memiliki tradisi membagi-bagikan hasil panennya kepada tetangga di sekitarnya. Konsep lumbung lumbung bukanlah konsep menimbun bahan pokok seperti yang terjadi di kota-kota besar. Ada nilai-nilai sosial yang tumbuh di tengah masyarakat desa.

Widie Nurmahmudi (41), tokoh pemuda di Papring menceritakan, pemilik lumbung biasanya akan mengklasifikasikan hasil panennya dalam tiga kelompok. Kelompok pertama atau kelas C merupakan jagung muda yang langsung akan dijemur dan dipipil untuk digiling menjadi beras jagung.

Kelompok kedua atau kelas B merupakan jagung yang setengah tua, tetapi ukurannya tidak terlalu besar. Jagung ini biasanya akan dipisahkan dari kulit pembungkus (klobot) lalu di jemur. Jagung bisa disimpan untuk persediaan selama 5 bulan.

Kelompok ketiga atau kelas A merupakan jagung tua dengan ukuran yang besar. Jagung ini disimpan tanpa dikupas untuk jangka yang lebih lama hingga 1 tahun.

”Jagung kelas B ini yang biasa dibagi-bagikan kepada tetangga sekitar. Karena sudah dikupas dan tidak bisa bertahan lebih dari lima bulan. Kadang, orang juga membagi-bagikan yang kelas A,” ujarnya.

Widie mengatakan, lumbung sempat jaya pada tahun 1980-an. Hampir setiap rumah memiliki lumbung-lumbung jagung. Namun, tahun 2000-an semakin sedikit yang memiliki lumbung. Kalaupun lumbung masih dipertahankan, tidak aktif digunakan karena warga memilih untuk menjual jagungnya.

Tahun ini, lanjut Widie, budaya lumbung jagung kembali bergairah. Dari 485 rumah tangga di lingkungan Papring, ada 188 rumah yang memiliki lumbung. Lumbung tersebut sebagian aktif, sebagian tidak aktif atau tidak digunakan.

”Tahun lalu ada 46 lumbung masih aktif digunakan menyimpan jagung tiap tahun. Tahun ini jumlahnya meningkat menjadi 57 lumbung aktif karena ada 11 rumah tangga yang kembali memfungsikan lumbungnya,” ungkap Widie.

Nawalik (39) salah satu warga yang kembali memfungsikan lumbung di rumahnya mengaku, ia melakukan hal itu sebagai upaya mewujudkan ketahanan pangan selama masa pandemi Covid-19. Selain itu, ia juga ingin mengembalikan kejayaan lumbung sebagai media penyimpanan konvensional yang lebih menguntungkan bagi para petani.

Masyarakat adat

Di lingkungan Papring, hidup secara berdampingan masyarakat dari suku Osing dan Madura. Sekretaris Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Pengurus Daerah Osing Wiwin Indarti mengatakan, menyimpan pangan di lumbung mencirikan masyarakat adat.

Lumbung, lanjut Wiwin, dimiliki masyarakat yang komunalismenya tinggi. Komunalisme tinggi ini salah satu ciri masyarakat adat. Selain menunjukkan nilai komunalisme, lumbung juga peran sangat penting bagi masyarakat.

”Lumbung pada masa lalu amatlah penting karena memiliki fungsi sebagai tempat menyimpan hasil panen dan dan bibit untuk ditanam pada musim berikutnya. Keberadaan lumbung memiliki nilai-nilai kearifan lokal berkaitan dengan ketahanan pangan dan konservasi benih pangan lokal,” ujarnya.

Th Pigeaud, seorang taal ambtenar (pegawai bahasa pada masa kolonial) yang berkunjung ke Banyuwangi periode 1928-1930, mencatat, masyarakat Osing memiliki prosesi ritual hasil panen yang dikenal dengan tradisi Labuh Limang Jalang. Padi yang baru dipanen lantas dijemur di lapangan, dikeringkan, dan diikat. Bersamaan itu diadakan pesta musik oleh para pemuda disertai selametan berupa penganan tape dan ketan.

Hasil panen lantas dikumpulkan bersama (diunjal), lalu dibawa ke lumbung. Sebagian hasil panen diambil untuk dijadikan benih (uritan) pada masa tanam berikutnya. Benih tersebut akan digantung di lumbung, pada ampik-ampik (dinding penutup yang ada di bumbungan rumah). Padi yang lain disimpan di bawah atap pondok setelah diikat, dibersihkan, dilengkapi dengan dupa, bedak, sisir, duwit bolong, dan cermin.

Wiwin mengatakan, dalam naskah kuno Lontar Yusup Banyuwangi, juga terdapat larik tembang yang berkisah pentingnya membangun lumbung. Tembang tersebut terdapat pada Pupuh Kasmaran Bab XII bait 36.

”Akaryaha lumbung gering/kêrangkèng wadhahe bêras/anggène atandhu têmbe/bêras pari depun kathah. Atau dalam bahasa Indonesia diartikan: Buatlah pula lumbung paceklik/tempat menyimpan beras/sebagai jaminan bekal untuk kelak/perbanyaklah (menyimpan) beras dan padi,” imbuh Wiwin.

Peran penting lumbung terbukti sejak lama. Kendati sempat meredup, kini kejayaan lumbung kembali bangkit. Pandemi yang terjadi saat ini membangkitkan fungsi lumbung beserta nilai-nilai budayanya.

Berkat lumbung pula, masyarakat tak perlu bingung atau limbung karena kehabisan persediaan pangan. Di Lingkungan Papring, stok pangan bukanlah isu besar yang harus diwarnai kepanikan.

Sumber : Kompas.id
Foto : Komunitas Papring Kreatif

What's Your Reaction?
Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0
View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 Bersama Lawan Covid19 | Didukung oleh Cipendawa Rent Bus

Scroll To Top