Now Reading
Kunci Sukses Bernie Melawan Covid-19: Pro Aktif & Jalani Semua Tes!

Kunci Sukses Bernie Melawan Covid-19: Pro Aktif & Jalani Semua Tes!

Terus bersikap pro aktif, jangan terlambat, dan selalu ngotot untuk menjalani berbagai tes. Sikap itulah yang membuat Bernardus Djonoputro meraih kemenangan melawan virus Corona alias Covid-19. Suami dari Aprillisa Madewa ini mengaku stres adalah pemicu utama merajalelanya virus ini dalam tubuh. “Untuk saya, kehilangan teman dekat almarhum Djuhara Ketua IAI, dan sorang diri berada di ruang ICU melihat kematian setiap saat, merupakan tekanan stres yang luar biasa,” ungkap Bernie, begitu panggilan akrabnya.

Berikut hasil bincang-bincang ditambah kesaksian ayah dua putra melalui WhatsApp (WA).

Apa profesi Anda saat ini?

Konsultan Ahli Senior Pembiayaan Infrastruktur dan Perencanaan Kota.

Bisa diceritakan bagaimana Anda bisa terpapar Covid-19?

Awal Maret, melihat perkembangan diluar dan anjuran pemerintah, kami sekeluarga memutuskan untuk melakukan social distancing, berjaga-jaga. Istri dan mertua (beliau memiliki riwayat sakit jantung) tinggal di Bandung. Saya masih harus bekerja di Jakarta, sehingga masih riskan. Dan betul. Walaupun kami sudah proaktif, ternyata kami harus mengalami terpapar.

20 Maret 2020, saya merasa tidak enak menelan dan agak demam 37,2 derajad C. Saya ke dokter saya di Siloam Semanggi, hanya boleh ke IGD. Diperiksa, katanya radang amandel (tonsil), sementara paru-paru di check pakai stetoskop, menurut dokter tidak ada masalah. Diberi obat radang. Cefixime, Medixon, Theragran, Fluimicil.

25 Maret, radang belum hilang, tanpa demam. Saya memaksa ke RS untuk di cek, dikasih obat yg sama dg antibiotik. Cefixime, Medixon, Theragran, Fluimicil.

27 Maret, saya stress, karena berpulangnya Djuhara, Ketua IAI. Walau sudah dua bulan tidak jumpa kecuali melalui medsos, almarhum adalah teman baik berjuang dalam isu-isu arsitektur dan perkotaan kontemporer di Indonesia.

28 Maret, saya meminta istri untuk kembali ke Jakarta, tapi kita tetap hati-hati, dan dia tinggal di penginapan dekat rumah.

29 Maret,  saya memutuskan proaktif ambil darah untuk ikut rapid test di RS Mitra Keluarga Kemayoran. 

30 Maret malam – hasil rapid test, negatif. Sedikit lega. Namun, ada yang berbeda hari ini. Malam ini mulai hilang rasa dan penciuman. Bahkan minyak kayu putih dan Vicks yang keras, tidak tercium. Makanan menjadi tawar rasanya. Saya sangat curiga.

31 Maret,  walaupun hasil tes negatif, kami merasa perlu check terus, sehingga ke RS Siloam Semanggi. Kami bahkan memutuskan untuk tinggal di penginapan dekat RS, agar bisa ke dokter atau IGD setiap saat. Hal ini untuk mangatasi, karena dalam protokol Covid-19 kita tidak bisa rawat inap, hanya bisa di RS rujukan, dengan memperlihatkan surat rujukan. Nah, surat rujukan ini sangat sulit didapat, karena kita harus betul-betul bergejala ketika diperiksa di IGD.

Masih 31 Maret, kami ke Siloam, untuk check demam yang ternyata 37,5 derajad C. Kembali hanya di terima IGD. Kita ngotot minta ECG dan thorax foto. Ternyata dugaan saya benar, ada flek kabut pneumonia beberapa di paru. Kami ngotot minta semua data dan memaksa untuk dapat SURAT RUJUKAN COVID-19 malam itu, agar bisa punya pegangan untuk ke RS rujukan atau ke Wisma Atlet.

Apa keluhan yang dirasakan saat itu?

Virus mulai menyerang keras. Anxiety dan gangguan psikosomatis langsung mendominasi diri saya. Tegang, ketakutan, apriori terhadap sistem kesehatan di luar sana, tidak bisa tidur, meracau. Malam itu kami mulai keliling-keliling beberapa RS di Jakarta dan BSD, untuk bisa ketemu ahli paru. Namun tanpa sukses.

Bagaimana akhirnya bisa mendapatkan RS yang merawat Anda?

Pada 1 April 2020, kuasa Tuhan berjalan, memberikan kami jalan untuk bisa di terima di RS Pusat Pertamina (RSPP), melalui kebaikan saudara, teman dan kolega. Kami tidak bisa mendapatkan ambulan dari semua sumber resmi. Maka istri saya harus mengantar sendiri. Malam itu sesuai protokol, diperiksa IGD RSPP. Malam nya langsung masuk ruang isolasi Covid-19 RSPP.

Apa saja prosedur yang dilakukan dan yang Anda alami di sana?

Test scan thorax, menunjukan pneumonia sudah memenuhi paru saya, hanya dalam waktu dua hari sejak rontgen sebelumnya! Pada 3 April schwaab test positif. Rupanya hasil ini memicu stres saya, dan menurunkan kondisi saya.

5 April tengah malam masuk ICU karena kesulitan bernafas. Yang Maha Tahu menuntun tim perawat untuk mengevakuasi saya ke ICU. Saya masuk ICU di Minggu Palma subuh, awal dari rangkaian Minggu Suci Paskah.

6 dan 7 April kritis, tidak bisa bernafas. Badan sakit semua, dari ujung jari kaki sampai kepala. Semua otot-otot terasa seperti dipaksa kerja, kelelahan luar biasa, demam dan tidak mau makan.

Istri sudah diberitahu bahwa perlu dilakukan tindakan terminal, inkubasi ventilator dan lain-lain. Pada saat ini saturasi oksigen sudah turun sekali dan tekanan oksigen 60 dan turun terus. Ternyata dokter sudah melihat kesempatan survive saya 50:50, bahkan kurang.

Sungguh hanya komunikasi spiritual dengan Yesus yang menjadi penguat saya. Karena pengetahuan saya sangat terbatas, yang saya tahu ventilator adalah betul-betul ikhtiar terakhir manusia. Jadi dalam pikiran saya, ventilator tidak alami. Sejak saya masuk ICU, doa-doa saya penuh dengan mohon ampunan, bimbingan dan keselamatan. Saya memohon, biarlah semua berjalan dan berakhir alamiah, dan tidak mau inkubasi buatan.

Hari pertama kritis, saya sempat tidak sadar 4 jam. Tim medis mencoba inkubasi ventilator, melalui operasi inkubasi di tenggorokan saya. Setelah tiga jam tidak berhasil, inkubasi dihentikan. Terima kasih Yesus karena Engkau menentukan yang terbaik.

Oksigen bertekanan terus dimasukan. Kritis hari kedua, seluruh badan sangat sakit, jiwa ini rasanya antara berdoa dan menghilang, terus mendera. Mulut saya dan tenggorokan sakit luar biasa. Seluruh tenaga seperti terkuras habis meregang, nafas amat pendek 1 atau 2 detik dan badan berkeringat sepanjang hari.

Bagaimana dengan hari selanjutnya?

Hari ke dua, keadaan masih buruk. Tapi ada satu hal yang berbeda, saya merasa terbangun dari tidur panjang, dan diantara kesakitan tenggorokan bisa merasakan masuk nya oksigen pada setiap tarikan nafas saya. Terima kasih Bapa atas nafas baru ku. Kesempatan hidup baru. Terima kasih Tuhan Yesus hamba-Mu bisa merasakan mukjizat mu yang menghidupkan.

Selama di ICU, semua protokol dijalankan, termasuk memasang arteries line untuk ambil darah permanen, infus berpindah-pindah. Obat-obatan masuk banyak sekali pagi, siang, malam, baik anti viral drugs Avigan, Chloroquine, tapi juga segala macam obat untuk mengurung dan melindungi organ lain, lambung, ginjal, jantung, anti darah tinggi, protein tinggi, vitamin. Selama 9 hari Bernie tidur hanya bisa satu atau dua jam. Rupanya menurut dokter, imsonia dan sulit tidur terus menerus merupakan khas kondisi pasien Covid-19.

“Tingkat stress di ICU sangat tinggi, karena pemandangan konstan melihat tetangga-tetangga yang tidak survive harus pulang dalam bungkus plastik dan peti khusus Covid-19. Sungguh hati saya hancur membayangkan keluarga mereka yang tidak pernah melihat dan tidak akan lagi bertemu sejak mengantar ke isolasi. May they all rest in peace,” ungkap Bernie dalam testimoninya yang viral di WhatsApp.

Dapat diceritakan bagaimana akhirnya kondisi Anda membaik?

Hari-hari saya di ICU ketika tidak tidur, diisi doa, dengan mendengarkan piano concerto Chopin di pagi hari, lagu-lagu Queen sepanjang hari. Berbagi rasa dengan para medik dan tim ICU! Gembira membawa semangat. Kamis Putih, Jumat Agung, keajaiban demi keajaiban, perbaikan demi perbaikan saya rasakan. Saturasi oksigen sudah selalu di 96-98.

12 April, hari Minggu Paskah, kebangkitan Yesus Kristus dari mati. Saya diperbolehkan keluar ICU, kembali masuk ke ruang Isolasi Covid-19 Schwaab test masih positif. Sehingga semua obat kecuali Avigan dan Chloroquine, masih full.

13 April, mulai program pemulihan di ruang isolasi. Selama pemulihan, masih belum bisa makan, tapi terus memaksakan diri. Hanya madu, buah-buahan, susu formula yang bisa saya makan dan minum. Selama masa isolasi, saya mulai diberikan terapi dengan alat latihan pernafasan. Selain itu saya mulai melakukan gerakan-gerakan ringan dan mandi sebagai exercise.

Latihan nafas saya gabung dengan meditasi, dan menyanyi karaoke lagu-lagu daerah Batak, Ambon, dan lagu daerah lain. Ini saya lakukan pagi, siang, sore. Saya rasakan energi positif dan kegembiraan, dan ini sangat membantu kekuatan saya. 

See Also

18 April, dokter mengabarkan schwab test ke-3 hasilnya sudah NEGATIF! 

20 April, dilakukan schwab test ke 4. Tim dokter RSPP mengabarkan bahwa saya diijinkan untuk isolasi mandiri, dengan full obat-obatan di preskripsi. Clearance free of Covid-19 akan diberikan setelah test ke 4 negatif (atau 2 kali schwab terakhir negatif).

Sungguh kekuatan dahsyat doa-doa dan support istri, anak-anak, sahabat, handai taulan sungguh menjadi obat paling mujarab dalam menghadapi kesendirian diisolasi dan mengalahkan virus ini. Terima kasih.

20 April , Tuhan Yesus baik sekali kepada kami sekeluarga. Malam ini saya bisa pulang ke rumah untuk isolasi 3 mingguan. 

Apa kesan Anda mengenai Covid-19?

Virus ini sangat bahaya. Jadi sebenarnya sejak 20 Maret ke 31Maret (12 hari) gejala sebenarnya sudah terasa, yaitu infeksi tonsil, hilang penciuman dan rasa. Walaupun saya sendiri sudah curiga dan pro aktif, namun semua diagnosa, tidak mengarah ke Covid-19. Ini lah sumber keterlambatan. Ketika gejala mulai lebih nyata, adalah ketika akan memasuki tahap kritis. Hanya dalam hitungan hari pneumonia sudah menguasai paru-paru kita. 

Apa kendala utama dalam menangani virus ini?

Pada saat saya terpapar, rumah sakit kita masih sulit proses administrasinya, sulit nya mendapat kan test, dan hampir mustahil nya mendapat surat rujukan. 

Apa yang menjadi motivasi utama untuk bangkit melawan Covid-19?

Saya percaya ada Tuhan Yang Maha Mengetahui, mencintai umat-Nya sebagai bagian dari alam yang sedang berproses. Proses alam ini harus bisa kita hadapi dengan optimisme. Keyakinan itu ditambah kepercayaan saya kepada pencapaian ilmu kedokteran dan kehandalan para tenaga medis modern.

Menurut bapak, apakah langkah pemerintah Indonesia kini sudah tepat dalam menangani Covid-19?

Semua negara-negara terdampak harus melalui proses penanganan secara bertahap. Saya sangat bangga dan mengapresiasi kepemimpinan bapak Presiden Jokowi, yang membuat penanganan Indonesia di lapangan dan pelaksanaan standard penanganan di rumah sakit cepat membaik dan tanggap.

Penanganan RS pemerintah (dalam hal ini RSP Pertamina) dan tim medisnya sangat andal dalam melaksanakan prosesur medik Covid-19. Tantangan kita adalah secepatnya melandaikan kurva pandemi kita. Sebagai konsultan infrastruktur dan perencana kota, saya melihat tantangan berat harus hadapi di level kota dan kabupaten, terutama di kantung kawasan padat penduduk.  Ke masa depan, pengalaman penanganan pandemi Covid-19 ini harus bisa mengubah beberapa standar teknis untuk perencanaan kota-kota Indonesia masa depan yang layak huni dan memiliki ketahanan terhadap epidemi atau pandemi.

Proses sosialisasi yang sudah cukup baik memerlukan fokus prioritas ke kawasan-kawasan padat penduduk. Nanti setelah terciptanya normal baru nanti, dibutuhkan rekonstruksi tatanan sosial kemasyarakatan melalui kehidupan bertetangga dan kesetiakawanan sosial agar lebih baik. Serta dapat berjalannya infrastruktur kesehatan level akar rumput seperti Posyandu yang harus siap mengahadapi kejadian epidemi.

Kini Bernie sedang berusaha terus memulihkan diri, terutama menaikkan kembali berat badannya yang dalam 3 pekan merosot sebanyak 15 kilo.  Penyuka musik klasik dan group musik Queen ini optimis dapat kembali pulih, sehingga bisa segera menekuni hobinya lagi, yaitu hiking, adventure sport dan trail biking.

Ditulis berdasar wawancara dengan Magda Mars dan testimoni tertulis Bernie di WhatsApp.

Foto: Dokumen pribadi Bernie

What's Your Reaction?
Excited
0
Happy
1
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0
View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 Bersama Lawan Covid19 | Didukung oleh Cipendawa Rent Bus

Scroll To Top