Now Reading
Korona Menulis Kematian, Kita Menghapusnya

Korona Menulis Kematian, Kita Menghapusnya

Korona menulis kematian di penjuru jagat. Dengan digdaya ia melumpuhkan sel-sel sehat, menghancurkan daya tahan tubuh. Infeksi pun meruyak. Demam, sesak napas, dan kematian menjadi narasi jejak-jejak korona, yang dituliskan korona dengan dingin dan arogan.

Dengan berbagai cara, umat manusia menghapus narasi-narasi kematian yang dituliskan korona. Solidaritas jadi kata kunci gerakan. Kecerdasan dan ketepatan dalam analisis dan jawaban medik jadi andalan. Juga, perhitungan sosial dan ekonomi yang tepat untuk menyelamatkan hajat hidup masyarakat.

Korona, entitas virus itu, adalah mimpi buruk kemanusiaan dan peradaban. Mimpi buruk itu kini nyata. Aktivitas sosial, ekonomi, politik, dan budaya terganggu. Kalau toh bergerak, sangat lamban. Di beberapa bidang usaha bahkan terjadi kemacetan.

Masyarakat yang terurai

Masyarakat juga terurai, dipaksa harus melakukan penjarakan sosial dengan membangun koloni sendiri-sendiri. Berbagai aktivitas kolektif profan dan sakral pun dipaksa memasuki ruang jeda. Termasuk peribadatan agama. Kesendirian dan pengucilan diri jadi jalan keselamatan, ketika kebersamaan jadi lahan subur penyebaran korona.

Korona mengepung kita. Serupa maut menyeringai, mereka mengintai sel-sel di dalam darah kita. Saat kita lengah dan saat daya tahan kita ambrol, mereka merusak sel-sel kita dengan pucuk-pucuk runcing mahkota. Ketika tentara-tentara darah kita gagal melawannya, pertarungan dimenangkan. Korban pun berjatuhan.

Negara yang pontang-panting menghadapi korona kemudian hadir sebagai pencatat. Mereka serupa mesin statistik, di mana nyawa manusia hanyalah angka. Hanya angka! Manusia dilepaskan dari nilai eksistensialnya, lalu direduksi jadi data. Tak ada lagi emosi, kecuali ketidakberdayaan menerima kenyataan.

Lalu, data kematian itu dipublikasikan secara dingin setiap hari. Jumlah kasus sekian, jumlah korban sekian, jumlah orang sembuh sekian, jumlah orang dalam pantauan (ODP) sekian. Kita membacanya dengan perasaan miris di dada. Miris, karena tidak seorang pun mampu menjamin dirinya terbebas dari korona yang tak kasatmata dan selalu berseliweran di sekitar kita.

Tatkala banyak korban jatuh, korona merayakan kemenangan. Mereka menulis narasi dan puisi kematian di nisan-nisan nasib buruk manusia. Narasi dan puisi kematian itu kita baca. Kita tangkap pesannya: korona tak pernah ciut nyali menantang kita.

Imbauan normatif

Negara dan masyarakat pun dipaksa hadir dalam kurusetra korona. Kebijakan politik muncul sebagai tandingan narasi korona. Negara tampak ambigu, antara memilih total mengunci pintu dan pembatasan sosial. Akhirnya, dengan dukungan fasilitas kesehatan yang belum sepenuhnya memadai, pemerintah memilih pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Dalam PSBB muncul pelbagai aturan: jangan keluar rumah, bekerja dan belajar dari rumah. Kalau terpaksa keluar, harus pakai masker, rajin cuci tangan, jangan menyentuh wajah, mata, hidung, jangan bersalaman, jangan berkerumun, minum vitamin, usahakan tubuh selalu sehat dan berdaya tahan tinggi.

Masyarakat pun galau. Dengan caranya sendiri mereka mengatasi korona. Ada model lockdown lokal, dari tingkat kabupaten/kota sampai desa-desa dan pedukuhan. Komunitas masing-masing membentuk koloni demi menghindari korona yang bisa saja ditularkan oleh orang luar atau orang dalam sendiri. Kecurigaan komunal pun merebak. Setiap tatapan bisa dimaknai orang lain membawa petaka.

Ketakutan akan korona pelan-pelan menumbuhkan paranoia dalam setiap pribadi. Orang selalu mencurigai tubuhnya dan barang-barangnya tak steril dari virus yang mematikan itu.

Paranoia ini juga dipompa oleh model pemberitaan yang cenderung menakuti masyarakat, seolah-olah pandemi korona adalah episode akhir kehidupan manusia. Dalam kekalutan itu, tidak sedikit orang iseng atau punya kepentingan tertentu memublikasikan berita-berita bohong sehingga teror korona semakin mencekam.

Menghapus kematian

Dalam keterceraiberaian sosial, masih beruntung masyarakat mampu menghidupkan api solidaritas dan kegotongroyongan. Terjadi banyak sinergi dan cuatan-cuatan filantropi dari masyarakat. Semua membantu sesama. Dengan daya tahan dan solidaritas itu, kita berupaya menghapus narasi-narasi dan puisi kematian korona.

Kita menghapus narasi kematian itu karena alasan mendasar: memilih hidup jauh lebih mulia dan terhormat daripada menyerah dikoyak-koyak virus. Memilih hidup adalah jalan membangun kebudayaan dan peradaban yang tidak bisa dihentikan oleh apa dan siapa pun, termasuk bedebah korona. Kita memilih jalan hidup demi menyelamatkan generasi yang akan melanjutkan sejarah kita, sejarah umat manusia.

Kita percaya, setiap krisis selalu melahirkan perubahan menuju kebaikan karena manusia mampu menjawab krisis itu dengan kecerdasan dan inovasi. Pertarungan menghadapi virus adalah pertarungan total, pertarungan hidup dan mati. Daya hidup harus selalu dipompa agar muncul energi rohani, intelektual, dan biologis yang membuka kesadaran berpikir dan bertindak.

Sikap rendah hati, tidak rakus menguasai alam, dan selalu menjaga ekologi kehidupan pun layak untuk dijadikan tumpuan. Dengan cara itu, kita persilakan virus-virus itu pergi dari habibat kita.

(Indra Tranggono, Praktisi Budaya dan Aktivis Kesenian)

Sumber : Kompas Cetak (9 Mei 2020)

What's Your Reaction?
Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0
View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 Bersama Lawan Covid19 | Didukung oleh Cipendawa Rent Bus

Scroll To Top