Now Reading
Kisah Simon Nainggolan Bersama Istri Mengalahkan Covid-19

Kisah Simon Nainggolan Bersama Istri Mengalahkan Covid-19

Kesaksian tertulis Simon Naingolan mendadak viral. “Kisah Mantan Positif Covid-19”, begitu judul tulisan itu, menyebar di berbagai WhatsApp Group dan media sosial.  Siapa sebenarnya Simon Nainggolan? Ternyata, istri Simon pun juga sempat dinyatakan positif Covid-19.  Bahkan ibu mertua Simon sudah berpulang lebih dulu akibat virus Corona. Bagaimana mereka dapat melalui badai yang luar biasa ini? Berikut hasil wawancara dengan suami dari Lokadita Brahmana ini.

Boleh disebutkan nama dan pekerjaan Bang Simon saat ini? Usia dan tempat lahir jika berkenan. Berapa putra/putri saat ini?

Saya seorang pengusaha, kelahiran 31 Maret 1970. Memiliki seorang putri.

Ketika pertama kali mendengar berita tentang Covid-19, apa yang terbersit di benak Anda?

Pertama mendengarnya biasa-biasa saja. Agak berkesan meremehkan. Saya pikir kurang lebih sama lah seperti flu-flu lainnya.

Almarhum ibu mertua diketahui lebih dulu positif Covid-19, apakah beliau punya riwayat perjalanan dari luar kota? Atau menghadiri acara tertentu?

Almarhumah terkena Covid-19 setelah menghadiri acara pemakaman saudara. Banyak yang terkena juga setelah acara itu.

Semua bermula dari ibu mertua Simon yang  demam dan sesak nafas sejak 14 Maret 2020. Kemudian tanggal 18 dirawat di RSU Bunda. Langsung diisolasi ruang IGD yang sudah diubah  menjadi ruang isolasi bagi penderita Covid-19. Pada 20 Maret 2020 Simon mulai merasakan demam. Karena masih demam terus, pada 23 Maret dia memutuskan ke dokter spesialis paru di RSU Bunda.  Hari itu Simon dan istri menjalani test swab dan menjalani foto rontgen paru-paru. Esoknya, hasil rontgen memperlihatkan bercak pada paru-paru kanan. Dia ditetapkan sebagai suspect dan diminta mengisolasi diri.

Anda menjalani karantina mandiri di rumah? Apakah ada alasan khusus?

Saya melakukan isolasi mandiri di rumah. Kebetulan ada kamar kosong di lantai 2. Saya di situ selama 14 hari.

Ketika Anda dinyatakan positif, bagaimana dengan istri?

Kami test swab di RSU Bunda tanggal 23 Maret 2020. Hasilnya keluar tanggal 30 Maret. Kami berdua positif Covid-19. Tapi saya yang mengalami demam, sedangkan istri saya tidak. Dengan begitu dia dapat menyiapkan semua keperluan saya.

Selama karantina mandiri, apa yang Anda lakukan untuk mengisi kejenuhan?

Saya demam selama 12 hari. Hari-hari saya selama itu hanya berkisar antara minum obat, tidur, makan, dan pagi hari berjemur.

Dalam kesaksiannya, Simon menyebutkan, “Setiap pagi saya sudah bangun jam 4 pagi, langsung makan sepotong roti dan minum vitamin. Jam 8 pagi saya sarapan dan minum vitamin-vitamin lagi. Dalam sehari saya bisa meminum vitamin C hingga 2000 mg,  tetapi saya banyak minum air putih hingga lebih dari 3 liter per hari.” Selama menjalani karantina mandiri, Simon tidak bertemu siapapun. Makanan dan minuman beserta obat-obatan diletakkan di depan pintu kamar. Bahkan dia mencuci semua peralatan makannya sendiri.

Simon banyak minum vitamin C, D, dan E, juga jus buah-buahan. Sudah pasti juga meminum semua obat dari dokter, serta parasetamol, sebab demamnya tidak kunjung turun.

Selama itu, apakah Anda merasa optimis bisa sembuh? Jika ya, apa rahasianya?

Rahasianya berserah kepada Tuhan. Jaga hati agar bisa terus optimis, jangan negatif. Tidak usah berpolemik ini itu, cukup ikuti saja anjuran dokter.

Simon juga menurutkan bahwa dia tak lupa selalu berdoa kepada Tuhan agar diberi kesembuhan dan kekuatan. “Saya percaya kalau Tuhan di sisi kita apapun tidak bisa melawan. Saya percaya kesembuhan hanya menunggu waktu.”

Pada 26 Maret jam 3 dini hari, berita mengejutkan datang, ibu mertua Simon meninggal dunia. Sungguh sebuah pukulan yang luar biasa menyedihkan. “Saya dan istri sekuat tenaga mengurus semua keperluan penguburan, karena sesuai protap pemerintah dalam waktu jenazah harus segera dikubur sesuai ketentuan. Simon tidak bisa mendampingi, sebab masih demam tinggi dan dikarantina. Hanya istri dan anaknya, beserta seorang pendeta, yang dapat melaksanakan pemakaman. Itupun dengan prosedur social distancing atau jaga jarak. Simon hanya dapat menyaksikan melalui foto-foto saja. “Ibunda kami terkasih harus dikubur dengan plastik. Tidak ada handai taulan serta teman-teman yang mengantar kepergiannya,” tutur Simon.

Apa yang memotivasi Anda untuk semangat melawan Covid-19?

Anak dan istri saya.

See Also

Setelah kepergian ibu mertua, hari selanjutnya dijalani dengan lebih tegar. “Istri saya dengan cucuran airmata memohon agar saya dapat berjuang melawan penyakit ini. Dia mengatakan tak akan sanggup lagi kalau harus menguburkan lagi orang yang dia kasihi. Hati saya hancur mendengarnya, sekaligus mendorong saya untuk harus bangkit dan melawan virus ini,” ujar Simon.

Muzizat Tuhan itu hadir pada 1 April 2020. Demam Simon mendadak hilang. Tubuhnya mulai pulih perlahan. Dia masih terus minum vitamin dan berjemur dari jam 9 pagi sampai jam 10. Perlahan, Simon merasakan tubuhnya sehat kembali.

“Senin, 6 April, saya dan istri test swab lagi di RS Pusat Angkatan Darat (RSPAD). Dan sehari sesudahnya, keduanya dinyatakan sudah negatif Covid-19! Terima kasih Tuhan, saya bisa melewati masa-masa kritis. Terima kasih luar biasa buat istri saya yang di dalam kesedihannya terus memberi yang terbaik buat saya dan mengurus keperluan-keperluan saya, I love you so much!”

Menurut Anda, apakah semua orang yang terpapar virus ini, bisa melawannya juga?

Pasti bisa dan sangat bisa, jangan negatif thinking.

Apa pesan Anda untuk masyarakat luas yang saat ini sepertinya dicekam ketakutan oleh wabah Covid-19?

Kalau ada keluhan atau gejala, segera lakukan isolasi mandiri. Minum vitamin-vitamin sebanyak mungkin, juga makan yang banyak. Cek swab, tidak perlu tunggu hasil, langsung berobat saja. Usahakan konsultasi ke dokter paru-paru, kalau bisa ke rumah sakit rujukan. Jika memungkinkan, lakukan isolasi mandiri, mengikuti anjuran yang sudah ada, tidak perlu banyak komplain. Jangan mengurusi yang bukan urusan kita. Tidak usah nonton TV.

Simon berhenti menonton TV karena tidak mau menyaksikan berita-berita yang menakutkan dan menyedihkan tentang Covid-19. Dia ingin berkonsentrasi dengan usaha pemulihan dengan optimis.

Sungguh pengalaman luar biasa yang dialami Simon dan keluarganya. Mereka mampu melawan virus Corona dengan keteguhan hati dan motivasi. Ya, kita semua pasti bisa!

Ditulis berdasar wawancara dengan Magda Mars dan kesaksian tertulis Simon Nainggolan.

Foto: Dokumen pribadi Simon

What's Your Reaction?
Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0
View Comment (1)

Leave a Reply

© 2020 Bersama Lawan Covid19 | Didukung oleh Cipendawa Rent Bus

Scroll To Top