Now Reading
Kisah Afrianti di RS Darurat, Tinggalkan Palembang Demi Pasien Corona

Kisah Afrianti di RS Darurat, Tinggalkan Palembang Demi Pasien Corona

Jakarta – Di antara ribuan tenaga kesehatan yang berkutat menangani pasien Covid-19 di Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta Pusat, terdapat gadis bernama Afrianti Franiti (26 tahun). Ners asal Palembang ini menjadi salah satu tenaga kesehatan (nakes) yang sangat antusias mengabdi di Wisma Atlet.

Pengalamannya di salah satu rumah sakit daerah di Sumatra, memacunya untuk dapat mengabdikan ilmunya dalam penanganan corona. Di saat sebagian orang mengalami ketakutan, Apri (sapaannya) justru tertantang. Baginya, manfaat ilmunya lebih terasa justru ketika menghadapi tantangan.

Sebelumnya, ia memang sudah mendapatkan kabar bagaimana kesibukan di Wisma Atlet yang sangat menguras tenaga, dengan pasien yang silih berganti berdatangan. Namun ia sama sekali tidak gentar.

Apa yang ada di benaknya adalah keinginan untuk mengabdi, sebab inilah alasannya menempuh pendidikan keperawatan hingga ke jenjang pascasarjana.

“Kebetulan kuliah saya (di magister keperawatan) di Kota Padang, sedang libur. Jadi, ini memotivasi saya untuk mengisi waktu sekaligus mengabdi,” kata Apri saat diwawancara tim BLC, Minggu (3 Mei 2020).

Afri bersama para nakes di Wisma Atlet, Kemayoran

Orang tua pun memberikan dukungan kepadanya. Begitu ia mendengar rekrutmen relawan yang dilakukan Kementerian Kesehatan, ia segera menghubungi sang ayah. Sekalipun ayahnya sempat cemas, namun akhirnya mengizinkan Apri untuk mendaftar, datang ke Jakarta, dan diterima.

Maklum, rekam jejak Apri di dunia kesehatan di Sumatra, dan pendidikannya, menguatkan bahwa ia memang dibutuhkan RS Darurat Wisma Atlet. Inilah tampaknya membuat Apri nyaris tidak menemui halangan berarti untuk mewujudkan impiannya mengabdikan ilmunya di tengah wabah Covid-19.

Walaupun memang ada keputusan berat juga yang harus ia ambil. Lantaran dengan keputusan bergabung di tim relawan, ia harus resign dari rumah sakit di mana ia mengabdi sebelumnya. Namun baginya tidak masalah, terlebih karena ia merasa di RS Darurat Wisma Atlet, tenaganya lebih dibutuhkan.

“Di sini pun kami para perawat, ners, dan para dokter di wisma atlet bisa bekerja dengan gembira. Di sini kami saling mendukung, dan sama-sama berangkat dari keinginan untuk berbakti,” kata Apri, menambahkan.

Makanya, kata dia, sekalipun selama di Wisma Atlet tak bisa ke mana-mana kecuali di seputaran RS Darurat itu saja, ia sama sekali tidak merasakan kejenuhan. Ia bisa menikmati kesibukan di sana dengan gembira.

Terlebih lagi, ia juga menyadari sekali bahwa kalaupun keluar dari lokasi, justru membahayakan mereka yang di luar lokasi. Makanya, ia dan rekan-rekannya tidak merasakan keberatan menghabiskan waktu siang dan malam di Wisma Atlet.

Saat ditanyakan tentang bagaimana pengalaman menangani pasien Covid-19 di Wisma Atlet, Apri pun memberikan catatan khusus. “Pasien di sini tuh menurut Apri sangat menyenangkan. Mereka tidak bikin ulah, dan selalu patuh pada anjuran nakes yang menangani mereka,” katanya, terharu. “Inilah yang juga bikin pekerjaan kami di sini hampir tidak ada masalah berarti.”

Kalaupun ada sedikit masalah, kata dia, cuma karena harus mengenakan pakaian hazmat saat harus bekerja. Namun ini pun lama kelamaan menjadi terbiasa, dan tak lagi terasa sebagai sebuah kendala.

Menurutnya, pengalaman mengabdi di Wisma Atlet menangani pasien Covid-19 memang terasa istimewa. Terlebih lagi, wabah tersebut sudah menjadi masalah mendunia, dan mendapatkan kesempatan berperan, baginya terasa sebagai sebuah kebanggaan. “Inilah yang bikin ilmu yang selama ini Apri kejar terasa tidak sia-sia, dan bermanfaat untuk banyak orang,” kata Apri, tegas.

Hal lain yang juga tak kalah menggembirakan, kata dia, adalah dukungan keluarga. Bahkan tak sedikit dari keluarganya yang memasang fotonya dengan bangga di profil WhatsApp.

“Ini membahagiakan banget. Semakin terasa bahwa keluarga besar Apri tuh ternyata sangat mendukung pilihan Apri mengabdi di sini,” katanya lagi. “Apri kuliah S2 saja direspons biasa-biasa saja oleh keluarga besar. Tapi saat Apri mengabdi ke sini (Wisma Atlet) mereka sangat mendukung. Ini mengharukan banget.”

See Also

Dia mengakui, dukungan besar dari keluarga dan teman-temannya itu juga yang bikin dirinya tidak terbeban bertarung di garis depan menghadapi wabah Covid-19.

Bahkan, dukungan tersebut membuatnya merasa mendapatkan lebih banyak tenaga. Terlepas pekerjaannya di tengah para pasien memang melelahkan, namun dukungan dari keluarga itu membuatnya nyaris tak menggubris kelelahan itu.

Keluarganya juga sama-sama saling menguatkan saat Apri sendiri mengalami kerisauan, apakah warga di sekitar rumahnya akan menerimanya nanti sekembali dari Wisma Atlet atau tidak? Sebab, ia membaca berita ada perawat yang bahkan disisihkan hanya karena bekerja menangani pasien Covid-19.

“Beruntungnya, keluarga juga membantu memberikan penjelasan hingga ke tetangga-tetangga, agar mereka paham bahwa siapa pun nakes yang membantu pasien Covid-19, tidak akan menjadi pembawa virus. Ini melegakan sekali, walaupun Apri masih di sini,” katanya.

Maka itu, di sela-sela kesibukan, atau saat beristirahat, Apri mengakui menyempatkan diri untuk tetap berkomunikasi dengan keluarga. “Mereka bikin Apri di sini semakin bersemangat untuk bisa membantu para pasien yang ada,” kata Apri. Selamat berjuang Apri!

Editor: Zulfikar Akbar

What's Your Reaction?
Excited
1
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0
View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 Bersama Lawan Covid19 | Didukung oleh Cipendawa Rent Bus

Scroll To Top