Now Reading
Kiat Pangkas Rambut Kala Pandemi Korona

Kiat Pangkas Rambut Kala Pandemi Korona

Pangkas rambut saat pandemi Covid-19 bisa jadi urusan yang ribet. Tidak terbayangkan harus bagaimana menata ”mahkota manusia” dengan menjaga jarak ideal.

Sementara mengabaikan jarak fisik dengan pemangkas rambut bisa berisiko tertular virus mematikan saat sebaran virus belum melandai. Kita tidak pernah tahu, apakah semua pelanggan bebas dari virus atau malah ada sudah menjadi pembawa virus.

Lalu, harus bagaimana? Minimnya penjelasan tentang hal kecil ini membuat warga gamang. Sebagian dari mereka mengurungkan niatnya ke salon. Entah kapan niat memangkas rambut itu diwujudkan. Untuk menunggu pandemi ini mereda, rambut keburu gondrong karena tidak terpangkas rapi. Namun, ada yang nekat berangkat ke tukang pangkas rambut demi menjaga penampilan.

Ahmad Nawawi (26) memilih menahan diri. Penampilannya berbeda dengan kebiasaannya menjaga rambut cepak ala tentara. Kini rambutnya kian gondrong karena tidak dipangkas sejak Februari lalu. Warga Ciledug, Kota Tangerang, Banten, ini takut terpapar SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 saat pangkas rambut di salon.

Pekerja salah satu percetakan ini menghindari tempat umum dan keramaian karena sudah ada kasus positif korona di Ciledug. ”Saya takut ke salon. Biarin gondrong saja. Saya juga tidak punya keahlian dan kenalan yang bisa pangkas rambut,” ucap Ahmad, Jumat (17/4/2020).

Stenly Ardison (28) juga membiarkan rambutnya memanjang hingga menutup dahi. Ia urung memangkas rambut karena takut terpapar virus. Padahal salon langganannya di Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, masih beroperasi.

”Walaupun tukang pangkas pakai masker, belum tentu tangannya bebas virus,” ujar Stenly. Ia tetap takut sekalipun tukang cukur mengenakan sarung tangan dan mendisinfeksi peralatannya.

Pramusaji ini berencana memangkas sendiri bagian ujung rambutnya jika pandemi sudah berlangsung enam bulan. Ia tidak akan peduli hasil pemangkasannya seperti apa karena dia tidak memiliki keterampilan memangkas.

”Nanti pangkas sendiri supaya pendek walaupun acak-acakan. (Saya) ragu-ragu minta tolong teman untuk pangkas. Takut orang tanpa gejala atau bisa jadi perantara virus,” tuturnya.

Harus disiplin

Sebenarnya, warga masih bisa memangkas rambut di salon selama memperhatikan protokol kesehatan. Menurut ahli epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Syahrizal Syarif, pangkas rambut tidak menjadi soal selama tukang pangkas dan pelanggan tertib mengenakan masker, hanya memakai gunting, tidak memakai pisau untuk mencukur kumis dan janggut, mendisinfeksi peralatan serta tidak berbicara selama proses pemangkasan. Tidak lupa membawa antiseptik pencuci tangan supaya digunakan setelah memangkas rambut atau mencuci tangan dengan sabun di air mengalir.

”Jangan ngobrol karena partikel virus masuk melalui hidung dan mulut kalau terhirup, termasuk mengusap wajah, hidung, dan mata,” ucap Syahrizal. Obrolan selama lima menit menghasilkan sekitar 3.000 partikel droplet. Partikel-partikel tersebut berukuran 10-12 mikrogram sehingga setiap orang sangat rentan terpapar virus.

Protokol kesehatan selama memangkas rambut terjadi saat Kompas memangkas rambut di salah satu salon di Kelurahan Gelora, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Tukang pangkas hanya membolehkan satu pelanggan di dalam salon. Sementara pelanggan lain menunggu di luar ruang.

Pendingin ruangan tidak dinyalakan dan pintu salon dibuka lebar. Tukang pangkas mengenakan masker kain. Ia hanya mengenakan gunting dan gunting listrik. Kedua alat tersebut didisinfeksi sebelum dan sesudah digunakan.

Selama proses pangkas, ia tidak mengusap bagian hidung, mulut, dan pipi dengan spons untuk membersihkan rambut yang sudah dipangkas. Ia juga tidak melayani cukur kumis dan janggut. Menurut dia, pisau cukur dapat menjadi perantara virus dan jarak tukang cukur dan pelanggan terlalu dekat kalau harus mencukur kumis dan janggut.

Pangkas sendiri

Warga lain memutuskan untuk memangkas rambutnya sendiri di rumah. Caranya belajar dari berbagai sumber di internet. Nadya (25), diaspora Indonesia di Jerman, salah satunya. Ia tidak punya pilihan lain karena salon di kawasannya bermukim tutup selama pandemi.

”Nonton di Youtube beberapa video tentang cara memangkas rambut sendiri. Setelah itu beli alat-alat yang diperlukan, seperti gunting gerigi, gunting rambut salon,” ucap Nadya.

Pengalamannya memangkas poni sejak sekolah menengah atas dan mewarnai rambut sendiri selama bertahun-tahun memudahkan proses belajarnya. Akhirnya berbekal dua cermin, sisir brush, sisir gepeng, ikat rambut, jepit rambut, semprotan air, gunting gerigi, dan gunting salon kegiatan pangkas rambut sendiri terwujud.

Bahkan, sang suami meminta dipangkas rambutnya setelah melihat rambut hasil pangkasannya. ”Kalau pembatasan sosial ini lama, suami saya bisa gondrong kaya Kurt Cobain. Saya senang saja, tetapi dia tidak nyaman. Ya, sudah saya pangkas,” ucapnya. Ia tidak memungkiri bahwa setiap orang tetap memerlukan pemangkas rambut profesional karena sebagai amatir belum bisa memakai banyak teknik untuk beragam model rambut.

Jadi, tidak perlu khawatir untuk pangkas rambut selama pandemi. Asalkan, Anda dan pemangkas rambut disiplin menjaga agar tidak ada peluang penularan virus. Berani mencoba?

Sumber : Kompas.id
Foto : Kristianto Purnomo/Kompas

What's Your Reaction?
Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0
View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 Bersama Lawan Covid19 | Didukung oleh Cipendawa Rent Bus

Scroll To Top