Now Reading
Ketua RW di Bandung Kompak Bareng Warga Hadapi Covid-19 Dengan Gotong-royong

Ketua RW di Bandung Kompak Bareng Warga Hadapi Covid-19 Dengan Gotong-royong

Bingung, begitulah kira-kira reaksi kebanyakan warga saat berkumandang berita tentang wabah virus Corona. Kebingungan ini tentu beralasan, karena wabah ini tak tampak wujud dampaknya, juga tak terlihat jahat serangannya. Para korban tiba-tiba saja dibuat demam, sesak nafas, lalu kondisi tubuhnya anjlok yang kemudian menyebabkan kewalahan saat penyakit bawaannya kambuh dan menjadi sangat sulit saat ditangani dokter.

Memang dalam menghadapi wabah ini, Pemerintah Pusat bersama Pemerintah Daerah jelas melakukan langkah-langkah strategis untuk mengantisipasi datangnya “hantu” wabah Corona ini, namun karena musuh yang dihadapi ini tak tampak, maka tidaklah mudah mengambil keputusan yang tepat dan jitu dalam satu langkah. Pengalaman negara-negara lain yang terpapar pun tidak ampuh jika diadaptasi sepenuhnya untuk dilakukan di Indonesia. Karena beda situasi masyarakat di Singapura, tentu beda pula dengan di Indonesia, beda di Jakarta, beda pula dengan di Bandung. Dengan kata lain yang paling paham cara dalam mengatasi masalah adalah mereka sendiri sebagai masyarakat.

Nampaknya tips terakhir barusan inilah yang menginspirasi seorang Ketua RW di Bandung dalam mengatasi kebingungan warganya dalam menghadapi ancaman wabah virus Corona ini. Namanya Ninukgagan, Ketua RW 11 Kelurahan Cikutra, Kecamatan Cibeunying Kidul Bandung. Warga lebih akrab memanggilnya Kang Ninuk atau Kang Gagan. Sebagai Ketua RW di salah satu kawasan terpadat di Bandung, ia sadar harus mengambil langkah cepat dan nyata yang dibutuhkan warganya yang mayoritas kelas bawah. Situasi di awal pun nyaris semua RW kewalahan, kebingungan, bahkan jadi ricuh. Sementara Kang Gagan lebih memilih mengambil langkah inisiatif yang langsung melibatkan warganya untuk mengetahui kebutuhan nyatanya.

Warga Kang Gagan banyak yang pekerja harian, mulai dari buruh pabrik yang sewa kontrakan petak, tukang mainan anak, sampai tukang sol sepatu. Sejak diberlakukan kebijakan #DiRumahSaja maka banyak yang terpaksa tidak bekerja dan tentu tidak mendapatkan penghasilan. Langkah awal terpenting yang dianggap paling krusial oleh Kang Gagan adalah membantu pemenuhan kebutuhan pokok dulu, kebutuhan pangan. Maka Kang Gagan langsung kasih perintah untuk membangun “lumbung” cadangan makanan. Tak perlu waktu lama, Kang Gagan langsung membentuk Satgas Ketahanan Pangan yang langsung melibatkan relawan warga. Pendataan warga yang potensial terkena krisis pun langsung dilakulan, caranya pun tidak sulit pertama Kang Gagan minta masukan dari para Ketua RT yang paling faham akan kondisi warganya. Lalu menyesuaikan dengan data daftar nama mustahiq (penerima zakat fitrah) dari DKM (Dewan Kemakmuran Mesjid). Selain itu juga disesuaikan dengan data dari BDT (Basis Data Terpadu), baik melalui program BPNT ataupun PKH Kelurahan. Kang Gagan pun mendata para janda tanpa penghasilan, warga manula yang hidup sendiri, yatim piatu, warga dengan kondisi sakit, warga yang terkena PHK, hingga warga yang usahanya bangkrut.

Gerakan Lumbung Siaga Covid-19 pun seketika tersebar ke seluruh kampung, donasi dan bantuan segera datang. Kang Gagan pun mendapat dukungan dari pihak Mesjid dan Gereja yang segera mengirimkan bantuannya secara berkesinambungan. Kekompakan warga ini memang mudah terjalin karena tingkat toleransi warga di kawasan Cicadas ini sangat baik sekali. Satgas Ketahanan Pangan tidak mengalami kesulitan dalam mengumpulkan dan mengedarkan bantuan bahan pangan ke tiap warga yang membutuhkan.

Kang Gagan – pakai topi, saat menerima donasi dari gereja

Lumbung, adalah tempat penyimpanan cadangan bahan makanan yang digunakan oleh para leluhur kita sejak jaman dulu. Lumbung diisi oleh warga, mulai dari kebutuhan pokok bahan makanan hingga kebutuhan pendukung. Di saat bencana datang, maka lumbung ini lah yang menjadi penolong warga. Begitu pun dengan gotong-royong, ini pun budaya kita yang diwariskan oleh para leluhur. Dengan gotong-royong kita saling bantu, segala kelas, segala lapisan, dan segala profesi di masyarakat semuanya bisa andil saling bantu dan memberikan dukungan. Demikianlah strategi yang dilakukan oleh Kang Ninuk dalam wawancaran singkatnya via telepon. Semua bisa mudah dan cepat dilakukan asalkan semua warga kompak. Jika tidak kompak maka satu langkah kecil pun menjadi sangat lama dan sulit untuk digerakkan.

See Also

Rasanya, kisah inspiratif Kang Ninukgagan ini bisa ditiru dan dilakukan oleh sebanyak-banyaknya warga masyarakat baik di kota, di desa, di kampung, maupun di pelosok. Mengingat masih tingginya budaya gotong-royong di masyarakat kita. Semoga kisah inspiratif dari Cicadas Bandung yang mengambil kearifan lokal ini sanggup mengatasi kesiagaan kita untuk bertahan menghadapi bencana wabah virus Corona ini.


Donasi bantuan ke Satgas Ketahanan Pangan RW-11, bisa menghubungi :
DKM Mesjid At’Taufiq – telpon : 0813-1332-2056

What's Your Reaction?
Excited
0
Happy
1
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0
View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 Bersama Lawan Covid19 | Didukung oleh Cipendawa Rent Bus

Scroll To Top