Now Reading
Kembali Kuat Saat Hadapi Lawan Tak Terlihat

Kembali Kuat Saat Hadapi Lawan Tak Terlihat

Kembali Kuat Saat Hadapi Lawan Tak Terlihat 1

Berabad-abad silam, masyarakat Cirebon, Jawa Barat, tidak hanya melawan penjajah, tetapi juga wabah penyakit. Berkat kerja sama warga dan pemimpinnya, Cirebon pernah menang dalam pertarungan itu. Sekarang, serangan pandemi Covid-19 kembali menguji Cirebon.

Belasan siswa Sekolah Alam Wangsakerta di Kampung Karangdawa, Desa Setupatok, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, sibuk menyiapkan lahan aneka sayuran, Rabu (8/4/2020). Ada yang menanam timun, buncis, kangkung, daun bawang, kacang hijau, kentang, dan bayam.

Setiap siswa bertanggung jawab terhadap tanamannya hingga panen sekitar sebulan ke depan. Agar tumbuh, sayuran itu disiram serta diberi pupuk organik dari kotoran hewan dan obat berbahan bawang putih busuk yang kerap dibuang warga ke pinggir jalan bersama sampah plastik.

Sembari menanam, mereka berjemur di bawah terik matahari seperti yang dilakukan banyak orang di tengah wabah Covid-19. Mereka juga berlomba menghabiskan ramuan berbahan temulawak, temuhitam, dan pasak bumi yang rasanya pahit. ”Jadi, sebelum mencangkul, mereka sudah minum jamu. Khasiatnya, pengin makan terus. Berat badan naik,” kata Farida Mahri, pendiri SA Wangsakerta.

Begitulah cara siswa yang putus sekolah formal itu melawan Covid-19, selain membatasi tamu berkunjung. Kebun dan saung tempat belajar hanya berjarak beberapa langkah dari rumah mereka. Jika banyak orang lain panik dan belanja berlebih akibat wabah Covid-19, mereka tetap tenang. Tinggal ke pekarangan atau kebun sekolah, kangkung, terong, dan daun bawang siap dipetik, bahkan dijual.

Lahan tidur yang dipinjamkan warga seluas 7.000 meter persegi menjadi ”laboratorium” sekaligus sumber sayur bagi mereka. ”Kami mencoba membangun kedaulatan pangan. Kami akan terus menanam,” ujar Farida. Apalagi, dari pemetaan SA Wangsakerta, belanja pangan di kampung berpenduduk 2.695 jiwa itu mencapai Rp 1,1 miliar per tahun. Sebagian besar warga bekerja sebagai buruh rempah, asisten rumah tangga di perumahan, dan pedagang cobek.

Dengan kondisi wabah saat ini, banyak warga menganggur. Sayur yang mereka tanam setidaknya bisa mengurangi ongkos harian meskipun tidak besar. ”Ibu saya senang sekali dapat kangkung dan terong hasil panen di sekolah. Jadi, ada lauk untuk makan. Sekarang, saya menanam rosela. Bisa dibuat obat untuk bapak yang sedang sakit,” ujar Aisyah (17), siswa SA Wangsakerta, anak penarik becak.

Berbagi

Lalu, bagaimana dengan pekerja informal yang tak sempat memikirkan ketahanan pangan karena sibuk mencari sesuap nasi di tengah pandemi? Yayasan Cirebon Rerewang (YCR) mencoba mencari jawabannya. Seperti kata rerewang (saling bantu), yayasan ini membagikan sekitar 2 kuintal beras kepada pengemudi ojek daring, tukang becak, dan sopir angkot.

”Mereka paling terdampak wabah Covid-19. Penghasilannya menurun. Padahal, enggak punya gaji bulanan,” ujar Agus Gineer, pendiri YCR. Selain beras, yayasan ini juga sempat memberikan makan siang gratis, masker, dan alat pelindung diri bagi tenaga medis. Bantuan itu berasal dari donasi warga senilai lebih dari Rp 20 juta.

Bagi Rusmono (66), tukang becak, bantuan beras 5 kilogram tersebut bisa menjawab kebutuhan pangan keluarganya tiga hari ke depan. ”Sekarang, paling dapat Rp 15.000. Itu juga sudah keliling dari pagi sampai jam 11 malam. Sebelum ada korona, sudah dapat Rp 40.000 hanya sampai sore,” kata kakek dua anak ini.

Imbauan pemerintah agar warga di rumah saja demi mencegah penyebaran Covid-19 telah menggerus penghasilannya. Jujur, ia waswas dengan virus yang telah membunuh banyak warga Indonesia itu. ”Ari aja mettu, kita mangan sing endi (kalau dilarang keluar rumah, saya makannya bagaimana)?” katanya.

Selain pekerja formal, pengusaha juga terimbas Covid-19. Kedai kopi yang biasanya ramai kini sepi, bahkan tutup. Namun, bukan berarti mereka tak bisa berbagi. Senin (6/4), komunitas Sepengopian Cirebon Raya membagikan 150 gelas kopi susu dan 2 kilogram bubuk kopi dari Gunung Ciremai, Kuningan, hingga Gayo, Aceh.

Kopi itu diberikan cuma-cuma kepada petugas medis dan Public Safety Center 119 Cirebon yang siaga 24 jam. ”Sekitar 30 kedai kopi anggota kami juga terdampak Covid-19. Namun, saudara kami di luar sana lebih banyak terdampak. Kami cuma punya kopi untuk membantu,” kata Risma, ketua komunitas tersebut.

Hadapi wabah

Apa yang dilakukan SA Wangsakerta, Cirebon Rerewang, dan Sepengopian tidak jauh berbeda dengan cara masyarakat Cirebon tempo dulu menghadapi wabah penyakit. Abad ke-17, mereka dikepung wabah mulai malaria, kolera, dan frambusia akibat infeksi bakteri. Tidak hanya menghadapi wabah, warga dulu juga melawan penjajah yang memaksa warga kerja rodi.

Dalam buku karya Zaenal Masduqi berjudul Cirebon, ”dari Kota Tradisional ke Kota Kolonial” (2011) terungkap, sekitar 50 orang meninggal setiap hari pada 1773 dan 1775 akibat wabah. Tahun-tahun 1719, 1721, 1729, 1756, 1757, 1773, 1775, 1776, 1779, dan 1812 juga dikenal dengan bencana kelaparan.

Budayawan Cirebon, Raffan S Hasyim, mengisahkan, salah satu tokoh utama dalam menghadapi masa kelam itu adalah Pangeran Suryanegara dari Kesultanan Cirebon. Dia pergi ke desa-desa untuk mengembangkan pertanian sekaligus bersembunyi dari penjajah. ”Ini untuk membangun kedaulatan pangan. Jangan ada orang miskin,” katanya.

Tanpa pangan, warga akan menyebar ke desa lain untuk mencari makan. Padahal, wabah penyakit bisa menulari siapa saja. Itu sebabnya, hasil panen warga kala itu dibagi tiga: untuk desa, fakir miskin, dan pasukan Suryanegara, yang bertarung dengan penjajah.

Pangeran Suryanegara juga turut menanamkan rasa cinta Tanah Air kepada masyarakat. Meskipun dalam keadaan terpuruk, warga saling bantu seperti membuat alat perang, merelakan harta bahkan nyawanya. Warga juga diajari olah jurus. ”Kalau sekarang sama saja seperti warga diminta olahraga dan jaga kesehatan,” kata Raffan.

Kisah ini menunjukkan perhatian besar pemimpin kepada rakyatnya. Di rumah saja, biar kami yang memenuhi bahan pangan dan bekal hidup lain. Cara lain melawan wabah penyakit kala itu ialah menyepi, seperti yang dilakukan Sultan Matangaji, Sultan Sepuh V Keraton Kasepuhan, di Goa Sunyaragi. Cara ini mirip dengan karantina wilayah di masa wabah sekarang.

Di sana, Matangaji bertapa demi mendapatkan petujuk dari Yang Maha Kuasa untuk mengakhiri wabah sekaligus serangan penjajah. Goa yang dikunjungi ratusan ribu wisatawan per tahun itu kini sepi karena Covid-19. Para pemimpin keraton juga ada yang menyepi ke pelosok desa untuk membangun pengetahuan warga lewat pesantren. ”Kalau sekarang, masyarakat menyepi secara kolektif karena korona. Intinya, kita diminta mendekatkan diri dengan Allah,” ujarnya.

Dahulu, serangan wabah dan tindakan penjajah mencapai titik kulminasi dengan pecahnya pemberontakan yang juga dikenal sebagai Perang Kedondong 1806-1818. Warga tidak hanya berhadapan dengan Belanda, tetapi juga bangsawan setempat yang berkhianat. Akan tetapi, Cirebon tetap menang.

Pangeran Suryanegara, Ki Bagus Rangin, hingga Ki Bagus Serit membuat Belanda merugi dan kehilangan banyak pasukan. Perhatian penguasa dan kesadaran warga berbuah hasil. Wabah berhasil ditekan. Kini, perang melawan wabah kembali pecah. Covid-19 jadi lawan berat tak terlihat. Ujian berat bagi penguasa dan warga apakah bisa bekerja sama menghadapinya untuk menang di kemudian hari.

Sumber : Kompas Cetak (27 April 2020)
Foto : Muhamad Syahri Romdhon/Kompas

What's Your Reaction?
Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0
View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 Bersama Lawan Covid19 | Didukung oleh Cipendawa Rent Bus

Scroll To Top