Now Reading
Kegotongroyongan Terus Digaungkan

Kegotongroyongan Terus Digaungkan

Presiden kembali memberikan pesan dari Istana Bogor, Sabtu sore. Ia mengingatkan kembali warga terus tingkatkan kedisiplinan menjaga jarak, hindari kerumunan, dan gunakan masker. Langkah itu harus bersama-sama.

Menanggulangi wabah COVID-19 tak bisa ditangani pemerintah sendiri. Solidaritas dan kegotongroyongan sangat diperlukan. Di sisi lain, disiplin diri untuk menggunakan masker, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan juga menjadi kunci untuk memutus penyebaran virus korona baru, penyebab COVID-19.

Presiden Joko Widodo dalam pesan yang direkam dari Istana Kepresidenan Bogor, Sabtu (18/4/2020) sore, mengingatkan kembali warga untuk terus meningkatkan kedisiplinan dalam menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan menggunakan masker saat keluar rumah. Hal ini perlu dilakukan secara bersama-sama, terus-menerus, tidak terputus. Dengan demikian, penyebaran virus korona baru, SARS-COV2, bisa diputus.

Baca Juga: PRESIDEN JOKOWI: HINDARI AKTIVITAS DI LUAR

Sampai saat ini obat spesifik untuk mengatasi COVID-19 belum ada, sementara penyakit ini sudah melanda 213 negara. Di Indonesia, per 18 April, sudah 6.248 pasien positif COVID-19. Kini, pasien yang sembuh sudah mencapai 631 orang, atau bertambah 24 orang dari sehari sebelumnya, sedangkan pasien yang meninggal sudah 535 orang. Tingkat fatalitas penyakit ini di Indonesia mencapai lebih dari delapan persen. Namun, tingkat kematian akibat Covid-19 di Indonesia per 1 juta penduduk tercatat 2 orang atau lebih rendah dibandingkan dengan negara lainnya.

“Warga  terus meningkatkan kedisiplinan dalam menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan menggunakan masker saat keluar rumah. Hal ini perlu dilakukan secara bersama-sama,  tidak terputus. Dengan demikian, penyebaran virus korona baru, SARS-COV2, bisa diputus”

Kendati sebagian besar warga saat ini bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan beribadah di rumah, Presiden menghargai tumbuhnya solidaritas dan kepedulian warga dengan sesamanya. Kepedulian warga ditunjukkan di berbagai upaya mengatasi dampak COVID-19, baik upaya mengatasi pandemi, menjaga roda ekonomi masyarakat, dan membantu sesama yang kesulitan akibat COVID-19.

Salah satu kisah warga positif COVID-19 yang mengisolasi diri di rumah dan tetap dibantu para tetangganya, bukan malah dikucilkan, seharusnya ditiru. Kepedulian ini juga muncul di bidang ekonomi, misalnya warga membantu tetangganya dengan membeli produk-produk dari tetangganya. Presiden pun berharap gerakan-gerakan yang menginspirasi itu terus dimunculkan ke permukaan untuk menjaga harapan dan bisa ditiru secara massif.

“Kegotongroyongan harus terus kita gaungkan,” kata Presiden Jokowi.
Aksi solidaritas ini menunjukkan Bangsa Indonesia adalah bangsa yang selalu bergotong-royong dan bangsa pejuang yang selalu menemukan kekuatan dan solusi lokal di tengah berbagai krisis. Masyarakat pun semakin perduli dengan sesamanya kendati kebanyakan beraktivitas di rumah dan mengurangi interaksi.

Solidaritas dan kegotongroyongan ini juga sangat diperlukan. Presiden Jokowi pun mengakui, pemerintah tidak bisa bekerja sendirian. “Tidak bisa. Peran serta seluruh lapisan masyarakat sangatlah penting. Semua ini bukan hal yang mudah untuk kita semua. Tapi saya percaya jika kita mampu melalui kesulitan ini bersama kita justru akan menjadi bangsa yang semakin kuat dan siap menyongsong masa depan yang lebih sejahtera,” tambahnya.

Di sisi lain, Presiden juga meminta pemerintah daerah untuk meningkatkan pengujian sampel secara massif, melacak orang-orang yang diduga berinteraksi dengan pasien COVID-19 secara agresif, serta mengisolasi secara ketat. “Segera dan terus siagakan satuan gugus tugas di tingkat kecamatan kelurahan RW dan RT sesuai kewenangannya. Jika ada warga yang bergejala virus korona dan ada yang membutuhkan uluran tangan harus segera dibantu. Ini semua bertujuan agar penanganannya terpadu dan terkoordinasi dan tidak ada yang terabaikan,” tutur Presiden.

Orang Tanpa Gejala

Sementara Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo yang dihubungi Sabtu malam menyatakan, tingkat fatalitas penyakit Covid-19 di Indonesia memang relatif tinggi di sekitar 8 persen lebih jika dihitung pasien yang meninggal dengan jumlah konfirmasi positif Covid-19.  Namun, tingkat kematian per 1 juta penduduk di Indonesia juga hanya 2 orang, lebih rendah dibandingkan negara lainnya seperti China atau Iran dan lainnya.

“Salah satu penyebab cepatnya penularan virus korona  yang paling sulit diantisipasi sekarang ini adalah orang tanpa gejala (OTG), selain juga karena ketidakdisiplinan dan kepatuhan warga”

Salah satu penyebab cepatnya penularan virus korona  yang paling sulit diantisipasi sekarang ini adalah orang tanpa gejala (OTG), selain juga karena ketidakdisiplinan dan kepatuhan warga.

See Also

Baca Juga: DONI MONARDO: KITA BUTUH DISIPLIN

OTG merupakan orang yang sudah terinfeksi Covid-19 namun tidak menunjukkan gejala sakit. “OTG sekarang ini bagaikan penyebar maut yang  bisa menjadi pembunuh potensial dan mengancam setiap orang yang kontak dengannya, terutama kelompok rentan, yaitu usia lanjut dan orang dengan penyakit bawaan. Oleh karena itu, mau tak mau, siapapun  harus terus mengupayakan menghentikan penyebaran penularan virus korona dengan selalu menjaga jarak aman antar orang dan cuci tangan dengan sabun secara disiplin, selain pakai masker,” kata Doni.

Menurut Doni, jika tidak disiplin dan patuh, korban Covid-19 akan terus bertambah banyak. “Upaya penyembuhan kita terus lakukan, meskipun hari demi hari angka yang sembuh semakin bertambah, tetapi kita tidak boleh lengah. Kita juga tidak boleh bekerja sendiri-sendiri melainkan dengan budayakan gotong royong yang merupakan warisan bangsa Indonesia, seperti disampaikan Presiden Jokowi,” kata Doni menambahkan.

NINA SUSILO – Kompas.id

Foto : Okky Lukmansyah – Antara

Foto Pasar Bengkok Tangerang : Kompas

What's Your Reaction?
Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0
View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 Bersama Lawan Covid19 | Didukung oleh Cipendawa Rent Bus

Scroll To Top