Now Reading
Jejaring solidaritas hadapi pandemi

Jejaring solidaritas hadapi pandemi

Diberbagai penjuru negeri kita melihat orang orang menangis karena wabah Pandemi Covid 19 ditambah semakin kita membuka kanal social media. Kita mencium aroma ketakutan. Berita angka kematian, pasien terlantar, tenaga medis memprovokasi dan netizen terus menganggap Pemerintah gagal. 

Padahal disisi lain ada angka kesembuhan yang semakin meningkat, pasien yang dirawat sampai sembuh, tenaga medis yang bekerja tanpa pamrih dan usaha usaha perbaikan fasilitas kesehatan dari Pemerintah. Benar yang dikatakan pakar, bahwa berita berita negative akan membuat kita semakin stress yang ujungnya membuat imunitas kita berkurang. Padahal saat ini kita membutuhkan daya tahan tubuh yang prima untuk menangkal virus.

Semangat jejaring sosial bisa untuk membuktikan kita satu dalam jejaring solidaritas. Mereka para korban dan kita yang masih sehat, memiliki satu bahasa universal yakni, Kemanusiaan. Tak dipungkiri relawan, komunitas juga menggalang bantuan serta terlibat dalam gerakan kemanusiaan ini. Semua solidaritas yang terbentuk dalam hitungan menit setelah jejaring sosial media dengan cepat menjadi medium berantai yang efektif dalam mengabarkan berita baik. Misalnya tentang daftar warteg yang memberikan makanan gratis kepada pengemudi ojol. Berita kekurangan APD di sebuah rumah sakit, dengan cepat ditanggapi berkat group Whatsap

Betapa memalukan jika kita sebagai netizen tidak bisa mengartikan sinyal sinyal ini. Bahasa kemanusiaan kita sendiri. Tidak salah jika Seseorang pernah mengatakan ‘ Semakin kita terbuka semakin mampu kita berkomunikasi, dan hal itu akan membuat dunia bersatu ‘.

Paradigma sudah bergeser menjadi satu solidaritas, tanpa melihat suku, afiliasi, bangsa, gender bahkan agama melalui jejaring sosial.

Indonesia bukan sekedar sekumpulan orang yang berkehendak bersatu atau mengutip Otto Bauer, persatuan perangai karena persamaan nasib. Indonesia menurut Soekarno ialah seluruh manusia manusia yang menurut geopolitik telah ditentukan oleh Allah swt, tinggal di kesatuan semua pulau pulau dari ujung utara Sumatera sampai ke Irian. Seluruhnya ! Karena antara manusia 70 juta orang ini sudah ada “ le desir d’eetre ensemble “. Sudah terjadi.

Komitmen kebangsaan ini barang kali yang membuat kita harus mengkonstruksikan pikiran pikiran positif untuk hari yang lebih baik. Buat apa terus terusan nyinyir, menyebarkan ketakutan dan membangun konflik di timeline.  

See Also

Sudah saatnya kita menggerakan melalui jejaring solidaritas di social media, bagaimana bersama melawan wabah ini dengan melibatkan partisipasi publik secara sukarela. Kita jangan manja serta terus berharap Pemerintah akan menyelesaikan permasalahan berat ini. Kita melihat partisipasi warga yang membangun sistem isolasi mandiri. Di beberapa tempat, secara swadaya mengadakan penyemprotan disinfektan sendiri. Beberapa sukarelawan merogoh koceknya sendiri untuk menyebarkan alkes dan APD. Membaca berita seperti ini telah membuat daya tahan tubuh kita meningkat, karena dipenuhi semangat.

Melihat keseharian vibe negatif melalui media memang menjadikan pikiran pesimis tentang bagaimana menghadapi wabah ini. Kematian membuat semuanya terasa apatis, namun kita harus tetap merekonstruksikan pikiran positif agar bersama sama melawan covid 19. Kita pasti bisa.

Bima Soekarno

What's Your Reaction?
Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0
View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 Bersama Lawan Covid19 | Didukung oleh Cipendawa Rent Bus

Scroll To Top