Now Reading
Jaga Kesehatan Jiwa Saat Physical Distancing dengan Medsos

Jaga Kesehatan Jiwa Saat Physical Distancing dengan Medsos

Oleh Luky Maulana Firmansyah

Jakarta, Lokadata – Kegiatan jaga jarak (physical distancing) selama pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) dapat berbahaya bagi kesehatan jiwa. Karena itu, masyarakat diimbau tetap menjalin interaksi selama physical distancing memanfaatkan teknologi yang ada.

Bahaya jaga jarak yang tidak terkontrol diungkap Psikolog Klinis dan Forensik Kasandra Putranto. Menurutnya, jika seseorang mengisolasi diri tanpa interaksi sama sekali, maka ia bisa merasakan efek samping berupa kesepian disertai perasaan cemas dan khawatir.

Jika rasa kesepian tersebut bertahan lama, imunitas diri orang terkait akan terpengaruh. Alhasil, potensi orang tersebut tertular penyakit pun meningkat dengan sendirinya.

“Kecemasan berlebihan yang ditandai dengan perilaku gelisah terus menerus dalam waktu yang cukup panjang, dan perilaku panik, dapat menurunkan imunitas yang bisa meningkatkan potensi resiko penularan korona,” kata Sandra kepada Lokadata.id, Jumat (27/4/2020).

Sandra menyebut, ancaman timbulnya rasa cemas karena kesepian berlarut bisa menimpa siapa saja, tanpa batasan usia pun jenis kelamin. Karena itu, Sandra menyarankan setiap orang untuk aktif memanfaatkan berbagai media sosial agar tetap berinteraksi dengan sesama manusia.

“Banyak fitur media sosial yang mengakomodasi untuk berinteraksi. Asal jangan berbagi hoaks,” katanya.

Pengaruh isolasi diri yang tak terkontrol dengan kesehatan jiwa juga diakui Julianne Holt-Luntasd, seorang Profesor Psikologi dan Ilmu Saraf dari Universitas Brigham Young, Amerika Serikat.

Julianne mengatakan, orang yang menjalani isolasi sosial dalam jangka panjang berpotensi lebih tinggi mengalami gangguan tekanan darah, detak jantung, dan peradangan.

“Kesepian meningkatkan risiko kematian dini sebesar 26 persen, isolasi sosial sebesar 29 persen, dan hidup sendirian sebesar 32 persen,” kata Julianne, seperti dikutip dari The Guardian.

Efek sosial yang tinggi

Ketakutan meluasnya dampak negatif akibat jaga jarak selama pandemi Covid-19 juga telah dipikirkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Lembaga ini bahkan sampai mengubah istilah pembatasan sosial (social distancing) menjadi pembatasan jarak (physical distancing).

“Kami berubah untuk menggunakan (istikah)pembatasan jarak karena kami ingin orang-orang tetap terhubung. Jadi temukan cara itu melalui internet dan media sosial untuk tetap terhubung karena kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik,” kata Kepala Unit Penyakit dan Zoonosis WHO Dr Maria Van Kerkhove.

Perubahan ini dilakukan karena bukan tidak mungkin pandemi Covid-19 akan menyebabkan resesi sosial. Istilah itu merujuk pada peristiwa berkurangnya kontak sosial, akibat isolasi yang terjadi dalam waktu lama.

Guru Besar Sosiologi Universitas Airlangga, Bagong Suyanto, mengatakan implementasi pembatasan sosial juga berakibat pada masyarakat yang kini cenderung hidup secara soliter (menyendiri).

“Sekarang masyarakat tidak hanya soliter secara fisik, tapi juga soliter secara sosial. Jadi sekarang masyarakat cenderung tidak mudah percaya sama orang lain dan itu efeknya bahaya,” ujar Bagong kepada Lokadata.id.

Selain itu, pandemi Covid-19 dianggap berkontribusi meningkatnya perasaan curiga antar-warga. Dia mengatakan, kecurigaan bisa muncul antara orang yang sehat dengan mereka para terduga (suspect) infeksi Covid-19.

Lebih lanjut, Bagong mengatakan pandemi Covid-19 ini juga membuka tabir persoalan masyarakat berdasarkan kelas ekonominya.

Dia menyebut, kendati masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah merupakan kelas sosial yang paling menderita secara ekonomi akibat pandemi ini, namun mereka belum menganggap Covid-19 sebagai persoalan yang serius. Hal berbeda dialami masyarakat yang tingkat penghasilannya menengah ke atas.

“Ya memang masyarakat ini kan tarik ulur gak akan bisa diajak bersikap rasional karena bahaya ini. Apalagi mereka merasa ini penyakitnya kelas atas kok, ini penyakitnya orang yang sedang bepergian dan pejabat, karena pemberitaannya juga (kelas masyarakat) itu yang kena,” ujarnya.

Akan tetapi, Bagong optimistik pasca pandemi Covid-19 mereda kehidupan sosial masyarakat akan kembali pulih.

“Saya masih optimis ketika sudah lewat anti klimaks wabah ini saya kira prejudice dan hidup masyarakat yang semula soliter, kembali dirajut kekompakannya. Ini juga menjadi pelaharan berharga,” paparnya.

Sumber : Lokadata.id

Foto : Freepik

What's Your Reaction?
Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0
View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 Bersama Lawan Covid19 | Didukung oleh Cipendawa Rent Bus

Scroll To Top