Now Reading
Indonesia, Bangkitlah dan Jangan Terserah

Indonesia, Bangkitlah dan Jangan Terserah

Kelelahan yang memuncak dan korban berguguran di kalangan tenaga kesehatan bertemu dengan rendahnya kesadaran sebagian masyarakat dalam menaati pembatasan sosial dan larangan mudik. Dua kontras ini bermuara pada dua kata yang sempat viral di media sosial: Indonesia terserah.

Lima hari menjelang hari Kebangkitan Nasional yang dirayakan setiap tanggal 20 Mei, dua kata tersebut berseliweran di jagat maya. Riuhnya gaung ”Indonesia Terserah” berawal dari sebuah akun media sosial yang mengunggah foto seorang tenaga medis memegang kertas dengan tulisan tersebut pada 15 Mei 2020.

Foto petugas kesehatan bersama tulisan ”Indonesia terserah” muncul setelah dua foto peristiwa yang sebelumnya beredar luas di ruang maya. Sebelumnya, muncul foto kerumunan di Sarinah dan Bandara Soekarno-Hatta. Restoran McDonald’s pertama di Indonesia yang berlokasi di Sarinah, Jakarta pusat, menggelar seremoni penutupan gerainya pada 10 Mei 2020 yang berdampak timbulnya kerumunan.

Foto antrean manusia di Bandara Soekarno-Hatta, Banten, juga beredar di media daring menjelang Lebaran. Foto tersebut menggambarkan kerumunan antrean calon penumpang pesawat di Terminal 2 Bandara Soetta. Terlepas tujuan penerbangan tidak untuk tujuan mudik, ketentuan menjaga jarak praktis telah diabaikan dalam peristiwa tersebut.

Sejak penerbangan komersial kembali dibuka, jumlah penumpang pesawat rata-rata berkisar 4.000-4.500 orang. Lebih kurang 100 hingga 130 penerbangan setiap hari beroperasi di Bandara Soetta sejak penerbangan komersial kembali dibuka (Kompas.id, 14/5/2020).

Pelanggaran PSBB

Sedikit ataupun banyak, munculnya foto-foto yang menunjukkan kerumunan di tengah pembatasan sosial menimbulkan kegundahan kalangan tenaga kesehatan yang setiap hari berjibaku dengan waktu dan kelelahan fisik memerangi Covid-19. Berbagai wujud ungkapan terserah beredar luas karena sebagian masyarakat sebenarnya ikut berupaya mendukung keberhasilan pembatasan sosial untuk mencegah meluasnya penyebaran Covid-19.

Kasus pelanggaran protokol kesehatan pencegahan penularan Covid-19 memang masih banyak terjadi di masa PSBB. Pelanggaran tersebut tidak hanya menyangkut mobilitas penduduk dalam berkegiatan sehari-hari, tetapi juga aktivitas berkerumun.

Hasil survei PSBB di Jawa Timur oleh Ikatan Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga bekerja sama dengan Perhimpunan Sarjana Kesehatan Masyarakat Indonesia (Persakmi) Jawa Timur, 4-8 Mei 2020, juga mengungkapkan hal senada. Survei kepada 2.834 responden dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur itu menunjukkan aktivitas di tempat ibadah, kantor atau pabrik, minimarket dan supermarket, tempat kongkow dan olahraga luar ruangan masih dominan dilakukan masyarakat.

Aktivitas kerumunan juga masih banyak dijumpai di DKI Jakarta yang menjadi wilayah pandemi Covid-19. Tidak sedikit kasus kerumunan masyarakat yang berlangsung selama masa PSBB di wilayah yang mencatat kasus positif Covid-19 tertinggi tersebut.

Tanggal 15 Mei 2020, terpantau berbagai titik jalan raya tetap dipadati kendaraan. Sejumlah ruas jalan, seperti Jalan Raya Condet dan Jalan Raya Kramatjati di Jakarta Timur; Jalan Raya Daan Mogot, Cengkareng, Jakarta Barat, ditemukan aktivitas warga yang menimbulkan kerumunan (Kompas.id, 16/5/2020).

Melihat situasi semacam itu, tidak mengherankan jika ”Indonesia Terserah” terus bergulir, mulai dari tagar, gambar, lelucon, hingga ungkapan berupa video lagu berjudul ”Terserah” yang dilantunkan Willy Winarko dari The Rap Up.

Jangan mudik

Willy Winarko tidak sendiri menyuarakan peristiwa di masa wabah Covid-19 dalam bentuk lagu. Grup musik Radja juga meluncurkan lagu berjudul ”Jangan Mudik” pada 14 April lalu untuk mendukung upaya mencegah penyebaran Covid-19. Risiko penyebaran Covid-19 akan semakin besar menjelang Lebaran yang biasanya identik dengan aktivitas mudik.

Meski demikian, kata sabar agaknya mudah menguap di kalangan sebagian masyarakat Indonesia. Larangan untuk mudik terindikasi masih dilanggar oleh sebagian orang.

Pada akhir April 2020, pihak kepolisian mendapati sebuah bus antarkota antarprovinsi berisi enam pemudik tujuan Jawa Tengah saat pemeriksaan di pos pengamanan Kedung Waringin, Kabupaten Bekasi. Mereka berupaya menghindari petugas dengan bersembunyi di dalam bus dan toilet bus tersebut (Kompas.com, 30/4/2020).

Jajaran Direktorat Lalu Lintas Kepolisian Daerah Jatim menyita 54 travel yang tidak mengantongi izin trayek pada 15 Mei 2020. Modus travel-tavel tersebut adalah menjadi kendaraan pribadi yang melakukan perjalanan mudik.

Keinginan untuk tetap mudik di tengah pandemi juga terungkap dari dua survei berbeda. Paparan hasil survei daring Balitbang Kemenhub terhadap 43.000 responden awal April lalu menunjukkan 56 persen lebih responden di Jabodetabek memilih tidak mudik Lebaran. Namun, ada 37 persen responden lain masih mempertimbangkan untuk tetap mudik dan 7 persen lainnya sudah mudik (Kontan, 5/4/2020).

Rencana sebagian masyarakat untuk mudik terungkap pula dalam survei Tim Panel Sosial untuk Kebencanaan. Tim ini merupakan kolaborasi peneliti kebencanaan dari LIPI, Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, IPB University, Politeknik Statistika Sekolah Tinggi Ilmu Statistik, U-INSPIRE, serta Jurnalis Bencana dan Krisis Indonesia. Hasil survei tersebut menunjukkan sebanyak 43,78 persen dari total 3.853 responden berencana mudik, sedangkan 56,22 persen lainnya menjawab tidak akan mudik.

Risiko wabah

Sebagian orang yang masih saja berkeras untuk mudik perlu menyadari situasi dan konsekuensi yang timbul jika mereka kembali ke kampung halaman.

Tahun lalu saja, jumlah pemudik mencapai 22,83 juta orang, atau sekitar 9 persen dari total penduduk Indonesia sebanyak lebih kurang 267 juta jiwa di tahun yang sama. Angka tersebut barulah angka pemudik, yang sangat mungkin melakukan perjalanan lagi setidaknya ke rumah kerabat masing-masing, baik di dalam kota maupun luar kota. Dampak ikutan dari aktivitas mudik itu bisa melipatgandakan mobilitas temporer masyarakat di masa mudik Lebaran.

Bukti bahwa tradisi mudik bisa berdampak signifikan pada penyebaran Covid-19 sudah terjadi sebelumnya di China. Perayaan Imlek tahun 2020 di China yang berlangsung 10 Januari-18 Februari, telah menghasilkan sekitar 3 miliar mobilitas temporer penduduk antarkota dan antarprovinsi di China. Sejak masa mudik Imlek itulah terbukti Covid-19 mewabah di China dan menyebar ke seluruh dunia.

Masyarakat yang tetap berkeras untuk mudik juga perlu mengingat bahwa bersilaturahmi adalah bagian yang melekat pada tradisi mudik. Kecenderungan yang terjadi, bersilaturahmi berarti mereka yang muda mengunjungi orang tua atau kerabat lanjut usia.

Padahal, kelompok penduduk lanjut usia termasuk bagian masyarakat yang rentan terjangkit Covid-19. Catatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendeskripsikan, orang-orang dalam kategori lanjut usia dengan kondisi tekanan darah tinggi, jantung, diabetes, dan gangguan medis lain yang sebelumnya melekat pada mereka berisiko mengalami sakit lebih berat jika terjangkit Covid-19. Paparan WHO juga mendeskripsikan, Covid-19 tetap dapat menyebabkan penyakit serius: sekitar 1 dari 5 orang yang terjangkit membutuhkan perawatan di rumah sakit.

Risiko tenaga kesehatan

Masyarakat yang tetap berkeputusan mudik juga semestinya mempertimbangkan risiko bahwa mereka mungkin saja salah satu orang tanpa gejala yang membawa Covid-19. Bukan tidak mungkin juga pemudik atau keluarga di kampung halaman tidak mendapatkan pelayanan karena keterbatasan tenaga medis.

Salah satu contoh adalah gambaran tenaga medis di Jawa Tengah, salah satu provinsi kantong pemudik merujuk survei Balitbang Kemenhub. Dalam perhitungan rasio per 100.000 penduduk di Jawa Tengah, di Provinsi ini hanya ada 17 dokter umum. Artinya, 17 dokter umum yang ada harus melayani 100.000 penduduk di Jawa Tengah.

Sementara, rasio dokter spesialis lebih rendah lagi, yakni 14 dokter yang melayani 100.000 penduduk. Rasio perawat juga terbatas, hanya 133 orang yang harus melayani 100.000 penduduk.

Salah satu contoh ini setidaknya menggambarkan betapa tenaga kesehatan yang jumlahnya terbatas akan bekerja semakin keras. Sementara, menjadi tenaga kesehatan di masa pandemi adalah sebuah karya yang jauh dari kata menarik untuk dijalani karena mereka sangat riskan terjangkit Covid-19.

Sejauh ini, tenaga kesehatan menjadi salah satu kelompok berisiko tinggi terjangkit Covid-19. Statistik atas kasus terkonfirmasi Covid-19 di sejumlah provinsi menunjukkan besarnya kerentanan mereka.

Provinsi Kalimantan Barat, misalnya, mencatat sebanyak seperlima dari total kasus 118 orang positif Covid-19 di provinsi itu dialami oleh tenaga kesehatan. Data per 9 mei 2020 itu menunjukkan sebanyak 24 tenaga kesehatan di Kalbar positif Covid-19, 11 di antaranya adalah dokter dan selebihnya paramedis. Kasus tenaga kesehatan yang terjangkit Covid-19 di Provinsi Sumatera Selatan bahkan mencapai sekitar 30 persen dari total kasus positif, berjumlah 458 orang.

Dua hari lalu, seorang dokter spesialis saraf di Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara (USU) meninggal setelah dinyatakan positif Covid-19. Informasi ini secara resmi disampaikan Manajer Humas RS USU dua hari lalu (Kompas, 19/5/2020).

Kasus yang terjadi di RS USU kian menambah panjang daftar peristiwa serupa yang dialami tenaga kesehatan di berbagai lini, baik dokter umum atau spesialis, dokter gigi, perawat hingga tenaga pendukung kesehatan lainnya.

Paling tidak ada lebih kurang 350 kasus tenaga kesehatan tercatat positif terkena Covid-19 selama hampir lebih dari sebulan terakhir. Jika dirata-rata, data dari penelusuran pemberitaan ini saja menunjukkan paling tidak ada sekitar 8 tenaga kesehatan yang tercatat positif mengidap Covid-19 setiap harinya.

Angka ini baru memberikan gambaran permukaan saja. Angka tersebut bisa jauh lebih besar karena kemungkinan kasus-kasus serupa yang tidak terpublikasikan di media massa.

Jangan terserah

Tenaga medis yang jumlahnya terbatas dan rentan terpapar Covid-19 seharusnya mendapatkan dukungan dari masyarakat. Tetap mematuhi protokol kesehatan, seperti menjaga jarak antarorang, berusaha tetap di rumah, tidak mudik, adalah bagian konkret dari dukungan.

Tidak kalah penting, sikap positif dan saling mendukung juga berperan besar, termasuk kerja sama antara pasien dan tenaga kesehatan. Cerita empat pasien yang harus dirawat di RSUD KRMT Wongsonegoro Semarang karena terjangkit Covid-19 adalah salah satu contoh kerja sama yang baik dengan petugas kesehatan. Keempat pasien menaati semua prosedur dan mendapatkan penghiburan dari perawat sehingga kondisi psikis mereka membaik dan imunitas meningkat.

Pengalaman Rian, vokalis Grup Musik D’Masiv, saat berjumpa dengan pasien kanker dalam konser amal di Rumah Sakit Dharmais tahun 2008, juga menginspirasi pentingnya sikap positif dan berusaha bersama. Lagu berjudul ”Jangan Menyerah” lahir dari semangat pasien kanker yang tetap positif melihat hidupnya sehingga mendukung kerja tenaga kesehatan yang merawatnya.

Sepenggal lirik lagu D’Masiv rasanya tepat merangkum semua tekanan situasi, khususnya bagi tenaga kesehatan dan sebagian masyarakat yang tetap mematuhi aturan pemerintah. ”Tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik. Jangan menyerah, jangan menyerah, jangan menyerah…”. Indonesia, bangkitlah, jangan terserah, dan jangan mudik.

Sumber : Kompas.id
Foto : Priyombodo/Kompas

What's Your Reaction?
Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0
View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 Bersama Lawan Covid19 | Didukung oleh Cipendawa Rent Bus

Scroll To Top