Now Reading
Hasil Survei: Orang Indonesia Sadar Pentingnya Jaga Jarak, Tapi…

Hasil Survei: Orang Indonesia Sadar Pentingnya Jaga Jarak, Tapi…

Tahukah Anda, masih ada orang yang menganggap metode jaga jarak alias social distancing itu tidak penting? Bahkan di antara mereka sudah positif Covid-19, PDP dan ODP? Mengejutkan bukan?

Tenang, mereka hanya sebagian kecil saja, yaitu 0,14% dari 19.654 responden yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia. Sebanyak 86,46% menganggap metode jaga jarak sangat penting, 11,25% menganggap penting, 2,09% cukup penting, dan hanya 0,07% memandangnya sangat tidak penting.

Survei yang diadakan Badan Litbangkes Kemenkes RI itu dilakukan sejak  31 maret 2020 – 5 april 2020. Responden dijaring dari media sosial Facebook, Twitter, Instagram dan WhatsApp. Dari jumlah itu, sebesar 70,4% adalah perempuan, dan 29,4% lelaki.

Dari seluruh partisipan, ada yang berstatus positif Covid-19 sebanyak 98 orang, 121 PDP, dan 501 ODP. Sangat disayangkan, masih ada responden yang mengaku positif Covid-19, PDP dan ODP yang menyatakan tidak pernah mendapat informasi dan menyatakan sulit memahami informasi terkait jaga jarak. Sebagian besar responden mengetahui informasi jaga jarak dari media sosial dan media elektronik.

Apakah sulit dalam menerapkan jaga jarak? Ya, itu diakui oleh 58,61% responden yang menyatakan sulit dalam pelaksanaan jaga jarak.

Mayoritas responden bersikap menjaga jarak pada pasien positif Covid-19. Meskipun begitu responden masih melakukan interaksi memenuhi kebutuhan pasien Covid-19 tanpa kontak fisik.

Bagaimana dengan kebiasaan untuk keluar rumah sejak diberlakukan metode jaga jarak sejak 15 Maret 2020 lalu? Ada responden yang mengaku positif Covid-19 (2 orang), PDP (4 orang) dan ODP (14 orang). Mereka mengaku menggunakan kendaraan umum pada saat keluar rumah.

Terjadi pula pergeseran perilaku terkait dengan kontak fisik ketika bertemu dengan orang lain dalam implementasi jaga jarak. Hanya sebagian kecil responden yang melakukan kontak fisik dengan bersalaman, berpelukan, cium pipi dan cium tangan.

Sementara untuk kebiasaan mencuci tangan, mayoritas responden telah mencuci tangan sesuai prosedur dan waktu yang dianjurkan,khususnya setelah beraktivitas di luar rumah. Tetapi masih cukup banyak responden yang belum mencuci tangan sebelum menyentuh wajah.

Hampir seluruh responden setuju tidak bersentuhan dengan anggota keluarga sebelum membersihkan diri, tapi masih ada yang positif Covid-19 (2), PDP (2), dan ODP (8) menyatakan tidak setuju.

See Also

Karakteristik responden terbanyak bertempat tinggal di Jawa (64,82%), perempuan (70,3%, kelompok umur 17 – 35 tahun (63,87%), pendidikan setingkat SMA, D4 dan S1 (67,3%), pekerjaan pegawai (PNS, TNI/ABRI, BUMN, swasta) dan tidak bekerja (ibu rumah tangga, pelajar/mahasiswa, belum bekerja) 89,33%.

Intinya, walaupun mayoritas partisipan cukup paham pentingnya jaga jarak, mencuci tangan, dan menghindari bersalaman, tetap masih ada sebagian kecil yang belum menyadarinya. Berarti, perlu lebih banyak kampanye dan sosialisasi terkait isu-isu tersebut.

Bagaimana dengan Anda?

Dirangkum dari hasil survei Badan Litbangkes Kemenkes RI

Foto: Tempo

What's Your Reaction?
Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0
View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 Bersama Lawan Covid19 | Didukung oleh Cipendawa Rent Bus

Scroll To Top