Now Reading
Hadapi COVID-19 dengan Belajar dari Asia Timur

Hadapi COVID-19 dengan Belajar dari Asia Timur

Ada beberapa pendekatan tata kelola mitigasi risiko pandemi COVID-19, namun arus utamanya terkonsentrasi pada negara-negara barat (Amerika Utara dan Eropa Barat), maupun negara-negara Asia Timur. Berdasarkan data dari John Hopkins University dan WHO, Amerika Serikat adalah episenter dari pandemi COVID-19, dan negara-negara eropa seperti UK, Perancis, dan Italia juga termasuk parah prevalensinya. Sementara negara-negara asia timur, seperti Korea Selatan dan Taiwan, sudah menurut prevalensinya. Mengapa demikian? 

Kebangkitan Korea Selatan dan Taiwan dalam Menghadapi Pandemi COVID-19

“Kita harus berusaha keras mengakhiri kemiskinan di Korea, sehingga generasi mendatang tidak mengalami apa yang kita alami sekarang.” -Jenderal Park Chung Hee, Presiden Korea Selatan 1963 -1979-

Seakan statemen Presiden Park hanya sekedar normatif belaka seperti yang dikatakan politisi secara umum. Namun berbeda dengan kebanyakan politisi lain di zamannya, Presiden Park benar-benar konsisten melaksanakan apa yang beliau katakan, terutama dalam konteks pendidikan tinggi, riset dan inovasi. Beliau sangat sadar kalau suatu negara hanya bisa menjadi kaya jika memiliki pendidikan tinggi dan riset yang kuat. Sewaktu Presiden Park diangkat menjadi pemimpin negara tersebut, Korea Selatan adalah negara miskin, bahkan lebih miskin daripada Indonesia. Kemudian, setelah beberapa lama sepeninggal Presiden Park, Korsel menjadi raksasa riset dan inovasi dunia. Bahkan akhirnya mengesankan dunia dengan keberhasilan strategi ‘testing and tracing’ mereka dalam menghadapi COVID-19. Tata kelola pandemi COVID-19 Korea Selatan dipuji oleh dunia sewaktu mereka berhasil membongkar pelanggaran pembatasan sosial dari Klaster sekte shincheonji, dan menuntut mereka yang bertanggung jawab ke pengadilan.

Terlepas dari kontroversi yang ada, Presiden Park sangat peduli dengan pendidikan. Dia membangun kampus  Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST) bekerja  sama dengan Amerika Serikat (AS), dan mempersiapkannya menjadi salah satu universitas terbaik di dunia dalam riset kesehatan. Sekarang, KAIST menjadi ujung tombak Korsel dalam riset COVID-19. Karena jaringan internasionalnya sangat kuat, KAIST menjadi host berbagai forum internasional untuk kolaborasi global melawan pandemi COVID-19, dan dalam konteks hilirisasi riset, tim dari KAIST berhasil memotong waktu testing SARS-CoV-2 secara sangat signifikan dengan tetap mempertahankan keakuratan instrumen. Selain itu, Korsel punya industri biochemical yang terbilang terbaik di dunia. Salah satunya dari Samsung chemicals yang pengembangannya banyak didukung oleh Presiden Park. Sehingga punya kapasitas testing yg masif untuk COVID-19 bukan masalah bagi mereka. Fondasi inovatif yang diletakkan Presiden Park telah mempersiapkan negara tersebut menghadapi pandemi COVID-19 yang terjadi puluhan tahun setelah beliau meninggal. 

Selain Korea Selatan, beberapa negara juga memiliki kisah sukses serupa. Taiwan adalah salah satu contoh yang sangat mengagumkan. Pengalaman Taiwan menghadapi epidemi SARS dan MERS di masa lalu membuat mereka sudah siap dengan infrastruktur yang diperlukan jika terjadi pandemi. Selain itu, Taiwan diuntungkan karena Wapres Taiwan Chen-Chien Jen adalah epidemiologis profesional yang merupakan anggota task force SARS negara tersebut dulunya. Mereka termasuk negara yang pertama dalam mengembangkan aplikasi contact tracing untuk COVID-19. Yang luar biasa, Taiwan bukan anggota WHO, namun performancenya termasuk yg terbaik. Jangan lupa juga jarak geografis mereka dengan Wuhan yang sangat dekat, yang merupakan episenter pandemi pada awalnya. Mereka memiliki basis data rekam medis secara nasional, yang diperbaharui secara reguler dan teranotasi dengan sempurna. Riset informatika medis mereka termasuk yang terbaik di dunia.

Sewaktu pandemi COVID-19 terjadi, pembaharuan basis data tersebut dilakukan tanpa banyak gangguan berarti. Banyak analisis mengapa tata kelola respon pandemi COVID-19 di kedua negara tersebut bisa dilakukan dengan lancar, dan tidak ada resistensi dari rakyatnya. Salah satu teori yang populer adalah pengaruh etika Konfucian terhadap complianceterhadap otoritas negara. Implementasinya adalah mentaati pemimpin yang bijak dan nilai-nilai keluarga. Tetapi hal ini masih banyak diperdebatkan juga, karena sebelumnya Jepang, yang juga sangat terpengaruh etika Konfucian, bisa menjadi negara maju seperti barat justru karena melakukan westernisasi di era Restorasi Meiji. Kasus COVID-19 di Jepang juga cenderung bisa dikontrol, karena riset dan inovasi kesehatan mereka bukan hanya world class, namun juga sudah nobel class. 

Quo Vadis Indonesia dan COVID-19

Indonesia memang cukup unik. Berbeda dgn di umumnya barat, compliance dgn otoritas negara masih kuat. Aparat seperti polisi dan tentara masih disegani. Namun berbeda dgn negara-negara maju asia timur, industri bioteknologi kita belum sekuat mereka. Kita masih mengimpor banyak regen biokimia, dan banyak inden. Ideologi kita sebenarnya selaras dengan negara asia timur yg utamakan compliance kepada negara sesuai etika konfucian. Hanya infrastruktur industri, inovasi, dan riset kita masih harus ditingkatkan. Walau pemerintah kita sangat selektif dalam mendengarkan aspirasi ilmuwan, pemecatan dan persekusi sistematis terhadap ilmuwan seperti yang terjadi di Amerika Serikat tidak terjadi. Ilmuwan masih bisa menjalankan tugas-tugasnya seperti biasa, baik yang di pemerintahan, maupun di swasta. 

Kemudian, disisi lain, di dunia akademik, insentif untuk jabatan struktural seperti Kaprodi, Dekan, Ketua LPPM, dan Rektor masih jauh lebih baik daripada insentif sebagai peneliti utama sebuah grup riset. Ini berbeda dengan beberapa negara maju, yang justru utamakan insentif bagi peneliti. Hal ini yg sebabkan kita kewalahan juga hadapi dinamika riset COVID-19 karena terlalu banyak peneliti yang sibuk di struktural. 

Disini Ristek/BRIN berperan kunci untuk menjadi regulator dan fasilitator riset dan inovasi terhadap masalah COVID-19. Misalnya kompetisi Ideathon dan refocusing anggaran untuk penelitian COVID-19 adalah kebijakan yang patut diapresiasi. Beberapa terobosan yg didukung Ristek, seperti robot raisa, ventilator, dan pengembangan test kit sebagainya adalah bukti pemerintah kita bukan anti sains. Sebab ada kebijakan yg sudah diimplementasikan. Hanya saja, dibanding apa yang sudah dicapai oleh negara-negara asia timur, termasuk Tiongkok, tentu masih jauh. Terutama dalam konteks dukungan dana dan infrastruktur. Sebagai contoh, karena Korea Selatan memiliki bandwith internet tercepat di dunia, dan itu mendukung riset kecerdasan buatan mereka bahkan setara dengan yg dimiliki barat. Tiongkok memiliki top 500 supercomputer, sehingga riset bioinformatika mereka bisa kejar-kejaran dengan AS. Infrastruktur riset mereka sangat bermanfaat dalam hadapi pandemi. Semua itu masih belum bisa kita nikmati.

See Also

Peran swasta dalam riset kesehatan memang masih terbatas, shg pengaruhi respon terhadap covid. Berbeda dgn Korsel misalnya yg didukung habis2an oleh chaebol-chaebol ‘raksasa’ seperti Samsung, LG, Hyundai, dan sebagainya. Di kita sudah ada PT Kalbe Farma Tbk yang sudah lama bekerjasama dgn Ristek dan DIKTI, maupun PT prodia untuk hibah penelitian biomedis untuk penelitian. Juga sejumlah perusahaan lainnya sangat aktif unit CSR dan R&D nya. Namun perusahaan lain belum banyak terlibat semasif seperti yang bisa dilihat di negara-negara maju asia timur. 

Mari Belajar ke Asia Timur

Presiden Park adalah divisive figure di Korea Selatan terkait dugaan pelanggaran HAM semasa beliau berkuasa dengan pendekatan militeristik. Itu tidak lepas dari latar belakang beliau yang didikan junta militer Jepang di era kolonial dulu. Kita harus menjaga jarak dengan junta militer, karena itu bukan kondisi ideal untuk pengembangan riset dan inovasi, karena akhirnya sekarang Korea Selatan justru berevolusi menjadi negara demokrasi sepenuhnya. Namun kita bisa belajar hal-hal yang baik dari beliau, termasuk visi beliau yang jauh ke depan sehingga mempersiapkan bangsanya untuk menghadapi musibah tingkat dunia ini. 

Resiliensi Taiwan dalam menghadapi pandemi COVID-19 sangat luar biasa, walaupun kondisi mereka yang diisolasi oleh WHO karena ‘one China policy’. Pemerintah kita sudah berada di jalur yang benar seperti yang diambil negara-negara Asia Timur karena mendorong Kemenristek/BRIN untuk melakukan riset dan inovasi terkait COVID-19. Wewenang Ristek/BRIN bahkan sudah diperluas dengan membina jabatan fungsional untuk ilmuwan di luar lembaga pendidikan, termasuk terutama rekan-rekan peneliti bidang kesehatan yang sekarang berjibaku di garis depan menghadapi pandemi COVID-19. Namun pekerjaan rumah masih sangat banyak, terutama dalam mengoptimalkan pendanaan, insentif, tata kelola, peran swasta, dan lain-lain. 

Ilustrasi: straitstimes.com

What's Your Reaction?
Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0
View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 Bersama Lawan Covid19 | Didukung oleh Cipendawa Rent Bus

Scroll To Top