Now Reading
Gerakan Tinggal di Rumah Vs Covid-19

Gerakan Tinggal di Rumah Vs Covid-19

Gerakan karantina jaga jarak ”tinggal dirumah saja” secara serentak dan konsisten selama tanggap darurat sangat menentukan keberhasilan mengakhiri wabah Covid-19. Hal ini layak mendapat dukungan bersama. Tulisan ini upaya memberi inspirasi, motivasi, agar gerakan ”tinggal di rumah-jaga jarak” betul-betul dilaksanakan.

Virus dengue

Allah menciptakan media habitat siklus hidup virus dengue lewat air ludah nyamuk Aedes dan darah manusia. Sementara nyamuk Aedes diciptakan berhabitat hidup digenangan air bersih terbuka yang di saat fase reproduksinya membutuhkan konsumsi darah manusia; itu pun diberi keterbatasan kekuatan daya jelajah terbang maksimal sekitar 500 meter.

Secara ilmiah rasional dipahami bahwa populasi nyamuk Aedes akan relatif cepat berkembang di musim hujan, musim banyak berdekatan genangan air; demikian halnya dapat dipahami konsep penanggulangan penularannya lewat gerakan 3M: Menutup Mengubur Menguras genangan air plus obat pembunuh pemutus rantai penyebaran nyamuk (bukan virusnya). Jika siklus hidup virus dari nyamuk ke manusia khususnya pasien ini dapat kita putus, virusnya akan mati punah.

Diyakini, ”hanya” dengan cara inilah wabah penyakit Dengue dapat dikendalikan; di samping, di luar musim hujan akan terjadi regresi alami. Pola pikir rasional inilah yang perlu kita akselerasikan untuk penanggulangan wabah Covid-19 yang memang lebih berbahaya.

Virus korona Covid-19

Allah menciptakan Covid-19 dengan habitat hewan ”zoonosis” yang bisa pindah hidup kereseptor mukosa pernafasan-paru manusia (bukan ke darah). Selanjutnya siklus estafet hidup regenerasi disebarkan ”ditularkan” lewat droplet bersin batuk, air ludah, partikel aerosol, dan kontak benda-benda sekitar yang terkontaminasi.

Satu-satunya cara memutus mata rantai penyebaran ”penularan” virusnya harus dengan karantina-jaga jarak dengan pasien positif Covid-19 dan menyemprot-membunuh virus yang ”kemungkinan” ada di media kontak termasuk tangan kita.

Bandingkan dengan cara 3M plus yang sasarannya nyamuk Aedes. Sekaligus harus dipahami untuk Covid-19 tidak ada regresi alami sehingga di masa tanggap darurat ini harus fokus all out jaga jarak-tinggal di rumah, desinfektanisasi, dan penggunaan APD secara proporsional.

Untuk itu, pemetaan kasus harus betul-betul fokus akurat transparan; publikasi nama dan domisili kasus tidak perlu dirahasiakan (bukan AIBS) demi kepentingan umum, namun privacy isolasi pengobatannya dirumah sakit harus diutamakan.

Hal ini sekaligus harus diluruskan kesimpulan yang salah bahwa kalau ”Menteri, profesor, dokter saja bisa kena, apalagi rakyat biasa; dirasionalisasi-dikonversi menjadi siapa saja yang bertugas berkegiatan sehari-hari di tempat umum khususnya rumah sakit dan pejabat publik memang memiliki risiko yang lebih tinggi”.

Masa tanggap darurat ditetapkan minimal 14 hari sesuai daya potensi inkubasi virus sampai waktu prediktif sesuai wilayah kasuistik pemetaan (beberapa bulan). Kalau selama masa ini setiap kasus positif diisolasi, diobati, serta gerakan jaga jarak-tinggal dirumah karantina mandiri dilakukan massal, virus yang ada (termasuk yang tanpa gejala) tidak akan mendapatkan reseptor (manusia) baru, akan mati; demikian halnya (maaf) virus di dalam tubuh pasien yang meninggal.

Di dalam konteks ini harus dipahami bahwa karantina di rumah tidak mendatangi tempat-tempat berkumpul orang banyak atau kegiatan-kegiatan masal, didasari kesadaran bahwa bertemu berdekatan dengan orang banyak yang belum dikenal, apalagi rekam jejak resikonya harus dihindari! Pemakaman jenazah yang disterilkan secara spiritual maunusiawi terhormat dengan jumlah pelayat terbatas sesuai prosedur tetap dipertimbangkan.

Jaga jarak di rumah sakit

Harus dipahami dan saling didukung bersama bahwa karyawan rumah sakit dan faskes pada umumnya  sebagai ujung tombak tempur melawan Covid-19 justru harus masuk dan bekerja lebih intensif 24 jam sehingga membutuhkan akselerasi standar jaga jarak dan penggunaan APD yang spesial ketat.

Rumah sakit-faskes tidak membatasi, apalagi ”menolak” datangnya orang sakit, namun membatasi orang umum yang ”menjenguk” pasien. Diperlakukan skrining khusus untuk pasien dan orang yang berkunjung; pemilahan pelayanan pasien umum, yang perlu diobservasi, orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP), pasien terduga Covid-19, sistem rujukan, isolasi, diagnostik, pengobatan, dan pemakaian APD yang optimal.

Tujuannya, semua pasien bisa diatasi, tidak terjadi penularan antar pasien-penjenguk-karyawan-keluarganya-masyarakat sekitarnya yang semuanya menjadi lebih berisiko, sekaligus tidak melumpuhkan tenaga rumah sakit; yang semuanya bisa menghambat suksesnya penanganan masa darurat, karena ukuran utamanya adalah tidak bertambahnya kasus baru.

Didukung temuan ilmiah tentang variasi kegawat daruratan dan belum diketemukannya vaksin-obat pilihan, tenaga kesehatan tidak perlu terlalu merasa bersalah kurang profesional kalau membatasi kontak intervensi karena terapi trial and error all out berlebihan justru dapat ”berdampak negatif” semua pihak, menambah beban yang mungkin ”tidak perlu”. Demikian juga persentase kasus yang sembuh versus meninggal tidak perlu menjadi beban pemikiran polemik di saat tanggap darurat.

Saat ini beban kerja segenap karyawan rumah sakit-faskes sebagai ujung tombak tempur memang sangat berat, melelahkan, dan penuh risiko. Diharapkan, alokasi dana darurat pelunasan tunggakan BPJS, subsidi khusus untuk pengadaan keperluan-keperluan di atas sebagai konsekuensi utama status tanggap darurat yang diyakini sekaligus sebagai investasi sistemik bermanfaat jangka panjang akan mengurangi beban secara rasional manusiawi.

Ujian tanggap darurat Covid-19 memang lebih berat karena menghadapi virus langsung dibanding virus Dengue menghadapi nyamuknya. Dengan keyakinan bahwa ini semua adalah ujian hidup, maka harus kita hadapi bersama dengan tenang, eling, waspada dalam tanggung jawab kemandirian-kebersamaan Ilahi…. Badai akan berlalu!

(JB Soebroto, Spesialis Patologi Lab Waskitha, RS Puri Husada, Dosen Agama Kedokteran Yogyakarta)

Sumber : Kompas.id
Foto : Beawiharta/Kompas

What's Your Reaction?
Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0
View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 Bersama Lawan Covid19 | Didukung oleh Cipendawa Rent Bus

Scroll To Top