Now Reading
Falla Adinda: Cerita Pasien Covid-19 di Wisma Atlet dan Kritikan untuk Media

Falla Adinda: Cerita Pasien Covid-19 di Wisma Atlet dan Kritikan untuk Media

Jakarta – Falla Adinda menjadi salah satu dokter yang turut berperan bersama ribuan tenaga kesehatan di rumah sakit darurat Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta Pusat. Ia pun bekerja antusias bersama para dokter lainnya, bahkan tak jarang turut berbagi pengetahuan di akun twitter miliknya. Walaupun, tak jarang ia juga mengkritisi kalangan media yang dinilai berlebihan dalam mengangkat berita.

Ia berterus terang bahwa dirinya dan dokter-dokter di Wisma Atlet sama sekali tidak ingin dipuja berlebihan.

Bahkan ia tak ingin melebih-lebihkan keputusannya membantu di Wisma Atlet. Baginya ini bukan pengorbanan, walaupun ia dan para tenaga kesehatan hampir 24 jam berada di Wisma Atlet untuk menangani pasien Covid-19. Menurutnya, ini sudah seharusnya dilakukan karena para dokter belajar memang untuk membantu pasien.

Meski begitu, ia juga berharap agar kalangan media jangan sampai berlebihan dalam mengangkat berita-berita seputar Covid-19. Cukup mengabarkan informasi yang benar diyakini memang bermanfaat untuk masyarakat.

Baru-baru ini Falla digusarkan dengan pemberitaan Tirto karena me-highlight bahwa Wisma Atlet menolak penyandang disabilitas. Di sisi lain, media online tersebut luput menggarisbawahi bahwa pasien yang bisa ditampung di Wisma Atlet memang pasien yang bisa dikarantina mandiri. Berbeda dengan difabel yang membutuhkan pendampingan.

Dokter Falla menilai pemberitaan media tersebut cenderung menjurus ke framing, yang semestinya tidak perlu dilakukan di tengah kondisi wabah. Maka itu, di sela kesibukannya pun, ia berusaha menjelaskan bagaimana Wisma Atlet saat ini melalui akun twitter-nya.

Bahkan, ia pun membuka kesempatan untuk diwawancara mengenai aktivitas medis hingga pengalamannya terusik berita media. Berikut wawancara tim BLC bersama dokter yang kini bertugas di Wisma Atlet, Falla Adinda.

Ada kabar baru dari Wisma Atlet?
Per hari ini dibuka tower baru. Karena, ada dua kapal yang baru merapat, jadi ada 600 ABK (anak buah kapal). Data pastinya, saya belum tahu berapanya, terutama berapa yang dipastikan positif (Covid-19) dan berapa yang negatif. Intinya, hari ini sudah dibuka tower baru.

Artinya, pasien bertambah. Apakah ini tidak menyulitkan tim medis di Wisma Atlet?
Untuk jumlah tim medis, sejauh ini dibilang cukup, memang cukup sih. Tapi kalau mau dibilang kurang, juga kurang. Tapi, kalau ada dokter umum yang mau masuk, monggo hubungi Ikatan Dokter Indonesia (IDI), siapa tahu, kan, ada yang merasa terpanggil untuk datang ke sini. Ini pasti sangat kami apresiasi.

Soal jumlah pasien bertambah?
So far sih, alhamdulillah, kepegang. Jadi mungkin karena kami semangat untuk melakukan ini. Sebab orang-orang di sini, kalau menurut saya sih, tidak menganggap kami di sini tuh berkorban, tapi di sini itu untuk melakukan sesuatu hal yang memang sudah seharusnya kita (sebagai dokter) lakukan. Kita melakukan hal yang sepatutnya kita lakukan, untuk negara, untuk kemanusiaan, semuanya. Jadi kami lakukan ini semua dengan niat yang tulus untuk bisa menolong. Sebab kita punya ilmunya, punya kemampuannya. We’ve to do that, jadi itu yang bikin kami semangat.

Ada keluhan?
Sejujurnya sejauh ini sama sekali tidak ada keluhan. Apalagi TNI dan Polri yang menjadi tuan rumah di Wisma Atlet ini, saya mengakui sangat hormat pada bagaimana mereka bekerja. Juga semua yang mereka lakukan dan mereka dedikasikan terutama dokter-dokter militer, mereka bekerja sangat lelah, tidak pulang, dan lama tidak pulang. Mereka sudah berada di sini sejak menangani warga Indonesia yang baru pulang dari Wuhan.


Mereka sudah lama sekali bekerja untuk menangani pasien Covid-19. Mereka masih semangat, dan wajah mereka masih cerah, ini juga yang bikin kami para dokter lain (non-militer) merasa lebih semangat.

Oya, soal berita di media selama ini terkait berita seputar corona?
Media itu seharusnya berada pada posisi yang memberitakan hal yang aktual dan kredibel. Semestinya mereka tetap berperan sebagai penyampai informasi, terutama apa yang terjadi namun tidak terlihat oleh khalayak.

Jadi masyarakat mengetahui secara secara tepat dan pasti apa yang sebenarnya yang sudah terjadi, dan potensi yang akan terjadi. Kredibilitas media menjadi hal yang sangat penting, baik untuk tenaga kesehatan di sini, atau juga bagi pemerintah, termasuk TNI/Polri yang bertugas. Media memiliki porsi strategis di tengah pandemi ini karena mereka bisa diakses dengan mudah oleh masyarakat.

Jadi sebaiknya …
Mereka memberitakan berita-berita yang memang penting untuk diberitakan. Penting bukan hanya hal-hal yang menyenangkan, tapi apa saja yang patut diketahui oleh masyarakat, hingga aware apa sebenarnya yang terjadi.

See Also

Soal anak difabel yang dikabarkan oleh Tirto tidak diterima di Wisma Atlet?
Untuk berita Tirto, sebenarnya saya tidak mau membantah ini terlalu panjang. Sebab saya tidak tahu apa yang terjadi di dapur media ini, termasuk mungkin agar media mereka tetap jalan. Hal-hal seperti itu (berita clickbait) seharusnya tidak terjadi, karena memperkeruh suasana. Sebab di saat sekarang kita ini butuh informasi yang tepat dan benar.

Jadi kesan Anda?
Bagi saya pribadi hanya menyayangkan saja. Kalau saran saya terhadap media, ketika ingin membuat sebuah berita, lakukanlah wawancara yang komprehensif dari banyak sumber. Jangan sampai ketika ada yang bicara sesuatu lalu tidak dilakukan cross-check.

Apakah para dokter bisa leluasa dihubungi di saat begini?
Kami di Wisma Atlet memang berada di gedung yang tertutup, tetapi kami pun sangat terbuka kok. Bisa banget jika mau ditanya, karena dengan ini kita bisa kerja bareng–bekerja sama antara pers dan tenaga kesehatan.

Ada pesan untuk masyarakat luas terkait berbagai berita seputar Covid-19?
Covid-19 ini sebenarnya diperparah dengan arus informasi–yang tidak benar–di berbagai media. Informasi menjadi sangat liar. Bahkan berita bisa didapat dari mana saja, bahkan dengan gampang didapat dari grup WhatsApp.

Bahkan juga dari media-media yang mungkin mengangkat sumber yang tidak kredibel. Jadi, pesan saya untuk masyarakat di tengah wabah ini adalah be sceptical. Skeptis saja dulu hingga bukti bahwa artikel atau tips dibaca bisa dipastikan benar, terutama untuk artikel yang diterima melalui WA. Perlu dipastikan ketika sebuah informasi diterima, itu sudah valid atau tidak, karena sudah ada verifikasi. Jika tidak skeptis saja dulu.

Kadang-kadang, redaksi sebuah media, terkadang terlihat ilmiah sehingga banyak orang mudah percaya, terpedaya. Satu lagi, stop over-sharing! (jangan sharing berlebihan).***

Editor: Zulfikar Akbar

What's Your Reaction?
Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0
View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 Bersama Lawan Covid19 | Didukung oleh Cipendawa Rent Bus

Scroll To Top