Now Reading
Dunia Pasca Corona, Dunia “Normal Baru” untuk Inovasi riset

Dunia Pasca Corona, Dunia “Normal Baru” untuk Inovasi riset

Semua yang kita alami beberapa pekan terakhir ini bisa jadi adalah suatu kehidupan normal baru. Direktur Jendral WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan bahwa merupakan suatu fakta jika virus SARS-CoV-2 ini akan selalu bersama kita, seperti juga virus HIV, Influenza, maupun lainnya. Sehingga menghadapi COVID-19 akan selalu menjadi rutinitas. Sementara itu, pengembangan obat dan vaksin untuk COVID-19 memerlukan waktu yang tidak sebentar, dan investasi yang besar. Kita juga harus bersiap-siap, jika ada gelombang pandemi berikutnya. Menghadapi tantangan ini, kita perlu ‘normal baru’ dalam inovasi riset.

Normal baru atau The New Normal secara sosial adalah apapun yang terjadi dengan kelanjutan pandemi COVID-19 ke depan. Pedoman WHO mengenai social/physical distancing, cuci tangan, penggunaan masker, makan makanan bergizi, melawan infodemik/hoax dan lainnya akan tetap diterapkan oleh semua orang. Mengapa demikian? Karena kita tidak pernah yakin bahwa ke depannya tidak akan ada pandemi seperti ini lagi. 

Selain kasus pandemik COVID-19 yang diduga ditularkan dari kelelawar dan trenggiling, kasus pandemik HIV/AIDS juga ditularkan melalui primata non-manusia. Patogen seperti virus Marburg dan Ebola juga berasal dari primata non-non manusia. Jangan lupakan Flu Burung yang juga pernah terjadi di negara kita. Interaksi intens antara manusia dengan hewan liar telah melepas patogen yang selama ini berada di reservoir alami mereka, kepada populasi kita. 

Diliriknya Bioinformatika

Dari perspektif ekologis, pandemi terjadi karena eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan oleh manusia itu sendiri. Normal baru adalah lebih mencintai alam sesuai saran aktivis lingkungan dan ekologi, karena hewan liar tidak sepatutnya dikonsumsi atau dipelihara oleh kita dengan alasan demi kebaikan kita juga. Nenek moyang umat manusia membiakkan hewan ternak dan peliharaan/pet tentunya juga mempertimbangkan alasan-alasan ekologis tersebut. Normal baru adalah, semua kegiatan manusia, termasuk inovasi riset, akan selalu memperhatikan keseimbangan lingkungan atau ekologi. Produk pangan berorientasi vegan atau vegetarian, akan menjadi semakin umum. Industri pangan akan mengembangkan lebih banyak produk inovatif berbasis vegan dan vegetarian, karena pertimbangan ekologis tersebut. 

Normal baru secara sains adalah mulai diliriknya ilmu-ilmu yang selama ini, sebelum pandemi COVID-19, belum terlalu diperhatikan dalam dunia kesehatan. Mereka adalah ilmu-ilmu dasar (basic sciences) seperti bioinformatika, biomedis, dan bioteknologi kedokteran. Ilmu bioinformatika akan mulai dilirik, karena ilmu ini berhasil memberikan informasi urutan gen dan protein virus SARS-CoV-2. Selain itu, bioinformatika sukses menentukan struktur 3D protein virus mematikan tersebut. 

Informasi dari bioinformatisi tersebut menjadi basis bagi ilmu biomedis untuk mempelajari mekanisme molekular infeksi virus SARS-CoV-2, dan bagi pakar bioteknologi medis untuk memproduksi kandidat obat dan vaksinnya. Normal baru adalah dimana Industri farmasi akan semakin membutuhkan pakar dalam ketiga bidang tersebut, untuk menjadi ujung tombak inovasi riset mereka. 

Robotik Terapan

Kemudian, ilmu terapan yang selama ini tidak dibayangkan akan diterapkan di dunia kesehatan secara massal, justru menjadi sangat penting untuk menyelamatkan nyawa pasien dan nakes sekaligus. Salah satu contohnya adalah teknik robotika. ITS dan UNAIR telah berhasil menciptakan robot ‘RAISA’, yang sekarang dimanfaatkan di rumah sakit UNAIR Surabaya untuk mengantarkan obat dan makanan kepada pasien COVID-19. Tidak hanya di Surabaya, Wisma Atlet, RS Pertamina Jaya, dan lainnya telah menerapkan teknologi serupa untuk membantu nakes. Normal baru adalah semakin canggihnya robot-robot ini karena implementasi kecerdasan buatan, akan menjadi humanoid (semakin mirip manusia), sehingga baik pasien maupun nakes menjadi semakin nyaman berinteraksi dengan humanoid tersebut. 

Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sudah menjadi arus utama kehidupan kita pasca pandemi. Akan semakin banyak perusahaan yang menerapkan work from home. Ibadah virtual juga semakin umum. Selain melalui aplikasi seperti Halodoc dan Alodoc, beberapa rumah sakit sudah mulai menawarkan layanan Telemedicine dimana konsultasi dokter bisa dilakukan melalui aplikasi chat atau video call. 

Amerika VS China

Normal baru adalah semakin meruncingnya polarisasi geopolitik dunia. China dan Amerika Serikat semakin menjaga jarak, dan badan dunia seperti WHO secara khusus, dan PBB secara umum menjadi forum pergesekan kepentingan kedua raksasa tersebut beserta pengikut dan proksinya. Persaingan akademis dan sains China dan Amerika Serikat pada akhirnya akan menguntungkan dunia dalam menghadapi pandemi ke depan, selama tidak digunakan untuk kepentingan militer.

Secara singkat, persaingan inovasi riset seluruh negara di dunia telah di-rating oleh basis data SCOPUS dan Web of Science (WOS). Mereka memiliki list negara mana yang paling unggul kuantitas dan kualitas publikasi ilmiahnya, maupun negara mana yang publikasi ilmiahnya paling banyak dirujuk. Sebagai produk TIK dan sains data, SCOPUS dan WOS sudah mengimplementasikan algoritma untuk menarik data dari berbagai jurnal ilmiah bereputasi di dunia ini seperti Nature, Science, PNAS, Nucleic Acid Research, dan New England Journal of Medicine, maupun dari penerbit sains ilmiah top seperti Elsevier dan Springer. 

See Also

Inovasi riset dari China dan Amerika Serikat, beserta proksi maupun pengikutnya, akan bermanfaat bagi kita semua. Karena semua pihak memiliki musuh yang sama, yaitu Pandemi COVID-19, maupun pandemi lainnya di masa depan, perang dingin antara kedua pihak yang bersaing akan menjadikan basis data SCOPUS dan WOS sebagai medan pertempuran mereka. Negara mana yang paling berhasil mencetak publikasi ilmiah yang berkualitas sesuai kriteria basis data bereputasi tersebut, merekalah yang akan memimpin dunia dengan kekuatan inovasi risetnya. Inovasi riset negara maju tersebut akan menguntungkan kita, karena kita akan bisa banyak belajar dari mereka, dan mengadopsi inovasi tersebut demi kepentingan kita sendiri. Kita bisa belajar dari negara-negara yang mulai berhasil mengendalikan pandemi COVID-19 seperti Jerman dan Taiwan, karena mereka menggunakan inovasi riset sebagai basis landasan kebijakan mereka untuk mengatasi musuh bersama ini. Trend yang diterapkan negara-negara tersebut akan menjadi normal baru, dan kita akan diuntungkan oleh kondisi ini. 

Foto: vishalthapar.com

*Dr.rer.nat.Arli Aditya Parikesit, Dosen Departemen Bioinformatika, Fakultas Biosains, Indonesia International Institute for Life Sciences (I3L). Alumni Fakultas Matematika dan Informatika, University of Leipzig, Jerman.

What's Your Reaction?
Excited
4
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0
View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 Bersama Lawan Covid19 | Didukung oleh Cipendawa Rent Bus

Scroll To Top