Now Reading
Dua Alumni SMA 34 Jakarta Berbagi Sarapan untuk “Pejuang Keluarga”

Dua Alumni SMA 34 Jakarta Berbagi Sarapan untuk “Pejuang Keluarga”

Rocker juga manusia. Punya rasa punya hati.

Begitulah yang dialami Ernita Sari, alumni SMA 34 Jakarta lulusan tahun 1990 yang biasa dipanggil Iyek.

Ibu dua anak yang pernah ikut satu grup band beraliran rock saat duduk di bangku SMA ini hatinya trenyuh melihat banyaknya para pekerja informal harian, terutama pengemudi ojol atau taksi, yang harus tetap mencari nafkah di saat wabah coronavirus (Covid-19) meski sudah ada larangan pemerintah untuk melakukan social distancing dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

“Saya merasa resah lihat informasi di berbagai media, terutama sosmed dan WAG, bagaimana kondisi tukang ojek/ojol saat Covid-19 merebak. Puncaknya pas ada postingan tentang supir taksi yang drop sekali pendapatannya,” ungkap Iyek yang penampilannya kini tidak seperti rocker lagi.

Usai sholat Subuh, Jumat (27/3) dua pekan lalu, Iyek menghubungi seorang teman seangkatannya di SMA 34 Jakarta, Irvan Arryawan yang biasa dipanggil Ipank. Ia sampaikan ide berbagi sarapan untuk para pengemudi ojol dan taksi. Ipank, yang punya usaha kuliner, menyanggupi ajakan itu.

Lewat percakapan di WA sekitar dua jam ide untuk berbagi sarapan itu langsung dieksekusi. Iyek bertugas cari donatur dan Ipank yang menyediakan sarapannya. Yang masak dan mengemas sarapan sampai siap saji dilakukan istrinya Ipank.

Jumat sorenya langsung pesan spanduk yang akan dipasang di pagar rumah Ipank. Isinya pemberitahuan jam dan tempat untuk para pengemudi ojol dan taksi ambil sarapan di rumah Ipank. Cara ini dilakukan supaya Ipank tetap social distancing berada di rumah dan agar mengindari terkena coronavirus.

“Hari Sabtu (28/3) itu ternyata tak ada pengemudi ojol dan taksi yang mampir ke rumah Ipank,” kata Iyek.

Lalu Ipank usul bagaimana kalau ia yang mendatangi para pengemudi ojol atau taksi di kawasan yang tak terlalu jauh dari rumahnya di daerah Gandul, Cinere. Tentu saja ia menggunakan masker dan pakaian sesuai ketentuan agar tak terinfeksi coronavirus. Iyek setuju.

Akhirnya sejak hari Minggu (29/3) ide berbagi sarapan bisa berjalan sesuai rencana. Hingga hari Kamis (9/4) ini sudah memasuki hari keduabelas.

Awal berbagi sarapan tadinya cuma siap dengan 24 paket sarapan. Tapi sejak hari kedua dan seterusnya sudah siap 36 sarapan. Oh, ya, menu sarapannya ada tiga macam: bubur ayam, mie ayam, dan ayam bakar. Dibagikan antara jam 8 pagi sampai jam 9 pagi. Sampai Kamis pagi tadi total sudah ada 420 paket sarapan yang dibagikan.

Mengapa saat sarapan yang dipilih?

“Saya kepikiran para pengemudi ojol atau taksi, saya sebut mereka sebagai ‘pejuang keluarga’, ketika keluar rumah dari pagi, tuh, dalam kondisi perut kosong. Kasihan banget. Mungkin menahan laparnya malah dari malamnya. Berbagi sarapan tentu akan dapat menolong mereka,” ungkap Iyek.

Rupanya kegiatan berbagi sarapan yang disebarkan Iyek di media sosial miliknya, Facebook dan Instagram, dan WAG Alumni angkatannya mendapatkan respon bagus. Saat ini ada 40 Alumni SMA 34 Tahun 1990 tercatat menjadi donatur dan ada 7 orang di luar alumni angkatannya juga menjadi donatur.

Beberapa alumni yang saat ini berada di luar negeri seperti dari Singapura, Thailand, dan Taiwan ikut menyumbang.

Tak ada batasan bentuk dan jumlah donasi yang ditetapkan kepada teman-teman alumni. Semuanya atas dasar sukarela semata.

“Ada yang menyumbang Rp 25.000, ada juga yang menyumbang Rp 6.000.000. Ada yang sumbang kotak makanan dan air mineral. Bukan soal jumlah uangnya. Yang penting kita semua peduli untuk berbagi kepada para ‘pejuang keluarga’ yang terpaksa cari nafkah di jalan,” jelas Iyek, lulusan FMIPA UI, yang hobi naik gunung sejak aktif jadi anggota Mapala UI sampai sekarang.

See Also

Menurut Iyek kegiatan berbagi sarapan ini akan terus dilakukan selama masa social distancing dan PSBB ditetapkan oleh pemerintah. Cuma selama bulan puasa Ramadhan, antara 24 April sampai 23 Mei 2020, mungkin waktunya berubah. Belum diputuskan akan dibagikan sebagai makanan untuk berbuka puasa atau sahur.

Untuk akuntabilitas dan bentuk pertanggungjawaban kepada alumni yang jadi donatur tiap sore Iyek, setelah dapat laporan kegiatan dari Ipank, mengumumkan di account Facebook dan Instagram miliknya. Khusus untuk laporan keuangan ia infokan di WAG Alumni.

“Saya berterima kasih sekali kepada teman-teman Alumni 34-90 yang bersama-sama dapat mewujudkan ide ini. Tanpa partisipasi teman-teman semua ide ini tak akan bisa berjalan sejauh ini,” tutur Iyek.

Iyek dan Ipank, dua Alumni SMA 34 Jakarta, bisa jadi contoh nyata partisipasi warga untuk membantu meringankan beban yang dialami warga lainnya yang sedang kesusahan selama wabah coronavirus ini. Mereka langsung berbuat sesuatu. Mereka juga tak berteriak-teriak menyalahkan pemerintah. Sebab masalah kemanusiaan, seperti wabah coronavirus ini, merupakan tanggungjawab kita bersama. (*)

What's Your Reaction?
Excited
0
Happy
1
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0
View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 Bersama Lawan Covid19 | Didukung oleh Cipendawa Rent Bus

Scroll To Top