Now Reading
Dokter Odwin Rayakan Waisak dengan Cinta Kasih pada Pasien

Dokter Odwin Rayakan Waisak dengan Cinta Kasih pada Pasien

Tak ada waktu libur bagi para tenaga medis di masa Covid-19 ini.
Setiap detik mereka tersita untuk penanganan wabah mematikan ini.

Di waktu hari raya, dimana warga berkumpul dengan keluarga untuk beribadah maupun silaturahmi,
para tenaga medis ini tetap bekerja.

Seperti dialami Dokter Odwin. Di Hari Raya Waisak, Dokter di Puskesmas Lolak Bolmong ini tenggelam dalam pekerjaannya yang mulia, yakni melindungi Yanah Totabuan dari Covid-19.

“Biasanya hari raya seperti ini saya kumpul keluarga, tapi kali ini tetap stay di puskesmas,” beber dia. Dikatakannya, beban pekerjaan sangat banyak sedang tenaga medis terbatas. Mereka musti senantiasa awas.

“Jika ada pelaku perjalanan dari daerah pendemi harus kami periksa,” kata penganut Buddha Tridharma ini.

Pekerjaan tersebut sangatlah berat. Tantangannya banyak. Dengan spirit welas asih sang Buddha, semua tantangan tersebut bisa dilewati dengan sabar dan berbuah terbebasnya manusia dari penderitaan.

“Saya jadi bersemangat bekerja, demi kemanusiaan,” kata dia.

Umat Buddha di Sulut mengikuti anjuran physical distancing dari pemerintah untuk tidak memperingati Waisak secara bersama sama di Vihara.

Ketua Walubi Manado Sufandi Siwi mengatakan, hanya rohaniawan yang tetap berada di Vihara.

“Selebihnya umat beribadah secara virtual di rumah,” katanya.

Ungkapnya, umat menggunakan berbagai media untuk beribadah. Dari WA, IG hingga facebook.

“Tata ibadahnya sudah ada pada kita,” katanya. Akunya, ibadah Waisak yang demikian baru pertama kali.

Meski demikian, kekhusyukan tetap terasa. “Pesan sang Buddha kami resapi dalam ibadah tersebut,” kata dia.

Dikatakannya, di Hari Raya Tri Suci Waisak, umat Buddha Sulut mendoakan agar Covid-19 segera lenyap.

“Itu yang kami pohonkan dalam doa kami, agar seluruh umat manusia terbebas dari penderitaan akibat virus covid-19,” kata dia.

See Also

Sebut dia, Covid-19 benar – benar memukul segenap sendi kehidupan manusia.

Umat Buddha yang kebanyakan bergerak di bidang jasa perdagangan juga turut terpukul.

“Ekonomi tak bergerak, usaha diambang kebangkrutan, di sisi lain para pekerja kehilangan pekerjaan,” kata dia.

Dia berharap semangat Waisak menumbuhkan rasa solidaritas antar-sesama di masa Covid-19.

Menghadapi Covid-19, tiada kata lain, semua manusia harus saling membantu, yang kaya membantu yang miskin, kuat membantu yang lemah.

“Sang Buddha mengajarkan welas asih dalam kehidupan,” kata dia.

Sumber: TribunNews

What's Your Reaction?
Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0
View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 Bersama Lawan Covid19 | Didukung oleh Cipendawa Rent Bus

Scroll To Top