Now Reading
Curhat Ibu Hamil yang Pulih dari Corona

Curhat Ibu Hamil yang Pulih dari Corona

Nama ibu rumah tangga asal Herne Bay, London, bernama Karen Mannering menjadi sorotan media internasional di tengah wabah Corona atau COVID-19. Pasalnya, ia mengalami infeksi Corona persis saat dirinya dalam kondisi hamil.

Karen mengalami infeksi Corona pada bulan Maret lalu, diawali dengan batuk dan demam. Ia sempat mengambil inisiatif untuk mengisolasi dirinya di rumah, tapi setelah melewati sepuluh hari, kondisinya justru semakin memburuk.

Ia menelepon ambulans persis ketika dirinya sudah mulai merasakan sesak napas. Setelah dicek, Karen dinyatakan positif Corona, selain juga mengalami infeksi di kantung udara (pneumonia) pada kedua paru-parunya.

Alhasil, ia pun harus menjalani perawatan dan diisolasi di rumah sakit dalam kondisi hamil, selama sepekan. Saat itu, usia kehamilannya sudah memasuki enam bulan.

Karen mengaku takkan melupakan momen ketika ia terengah-engah menghubungi ambulans. “Saya sampai tersengal-sengal, dan tim medis langsung memasangkan oksigen,” ia bercerita.

Ia berterus terang sempat terpukul dengan pengalaman tersebut. Bagaimana tidak, perawatan yang dilakukan atasnya akibat Corona membuatnya tak dapat berkomunikasi dengan siapa-siapa.

Keluarganya yang ingin menjenguknya di rumah sakit pun tidak diperkenankan untuk datang. Alhasil dia harus menghabiskan waktunya sendiri, bersama para dokter, perawat, dan obat-obatan.

“Itu menjadi saat yang terasa sangat sulit bagi saya. Ada perasaan kelam karena kesepian,” ibu hamil tersebut bercerita. “Selama lebih kurang tiga hari saya cuma bisa menghabiskan waktu di tempat tidur.”

Sedangkan ketika ia ingin ke toilet pun, tak bisa dia lakukan karena harus tetap di tempat tidur. Jadi, jika ingin buang air besar dan air kecil cuma bisa dilakukan di ranjang. “Termasuk saat mereka ingin mengganti seprai, saya tetap di tempat tidur, dan para perawat akan memiringkan tubuh saya,” ia mengenang.

Ia mengaku tidak mudah, memang, berada di ruang perawatan tersebut. Bahkan saat ia mengalami sesak dan membutuhkan bantuan, harus lebih dulu menunggu para staf medis memakai pakaian pelindung.

“Dalam keadaan begitu, saya sama sekali tidak bisa bertemu keluarga,” katanya.

Namun ia mengaku beruntung karena masih bisa menggunakan telepon genggam dan berbicara dengan keluarga lewat gawainya.

See Also

Kegelisahan dan kesepian yang dialami membuatnya berkali-kali menelepon keluarga. Terlebih diakuinya sempat ada perasaan takut mati saat masih dalam perawatan.

“Makanya, saya sering menelepon keluarga. Ini membantu saya merasa lebih tenang,” ia menambahkan. “Benar, saya takut mati, namun keluarga saya sendiri sudah bersiap merelakan jika kemungkinan terburuk itu harus terjadi.”

Di sisi lain, ada sesuatu yang juga membangkitkan semangatnya untuk tidak mau kalah oleh penyakit yang menderanya. Setiap kali ia bernapas ia merasakan setiap napas menuntut perjuangannya. “Sebab saya berjuang bukan hanya untuk saya sendiri, melainkan juga untuk bayi yang masih dalam kandungan saya,” katanya lagi.

Sekarang, Karen merasakan kelegaan yang luar biasa. Ia bercerita juga bagaimana ketika dia keluar dari rumah sakit, duduk di mobil sambil meresapi setiap embusan angin yang masuk lewat jendela mobil yang dibiarkan terbuka.

“Bisa merasakan embusan angin saja terasa luar biasa sekali,” ia berterus terang. “Saya jadi semakin mensyukuri bahkan hal-hal terkecil.”

Hal lain yang juga melegakan baginya adalah kondisi kandungannya ternyata baik-baik saja. Namun ia sendiri masih harus menunggu batuknya pulih, walaupun dirinya sudah terbebas dari COVID-19. Menurut dokter, ia membutuhkan waktu beberapa bulan untuk bebas dari batuk tersebut. Setidaknya, terbebas dari virus tersebut membuatnya merasakan kegembiraan luar biasa.*** (Sumber: ITV)

What's Your Reaction?
Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0
View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 Bersama Lawan Covid19 | Didukung oleh Cipendawa Rent Bus

Scroll To Top