Now Reading
Corona dan Cerita dari Warung Tegal

Corona dan Cerita dari Warung Tegal

Persis di seberang kampus Universitas Bina Nusantara (Binus), Jakarta Barat, terdapat salah satu warung tegal (warteg) di pinggir jalanan Rawabelong. Biasanya, warteg berukuran 3×6 meter ini ramai dengan pengunjung dari kalangan mahasiswa atau pekerja dan penduduk sekitar. Namun hari itu, Sabtu (4 April 2020), hanya ada beberapa pengunjung yang datang.

Terlihat, beberapa pengunjung yang ingin masuk cenderung memilih sampai pengunjung yang ada di dalamnya keluar lebih dulu. Setelahnya, barulah pengunjung lain masuk, entah untuk makan di tempat atau untuk dibungkus dan dibawa pulang.

Tampaknya, pemilik dan pengunjung warung sama-sama sudah sangat memahami imbauan pemerintah untuk menjaga jarak dan tidak menciptakan kerumunan.

Selain itu, di warung ini pun sudah disediakan hand sanitizer untuk pemilik yang merangkap pekerja warung, dan juga untuk pengunjung warung.

Melegakan, tentunya. Sebab, kepedulian untuk saling menjaga agar wabah Corona tidak semakin merajalela sudah muncul dan sangat diperhatikan oleh pemilik hingga pengunjung warung ini.

Rina Dwi Andriyani, 29 tahun, pemilik warteg ini berterus terang bahwa wabah Corona memang mengkhawatirkan dirinya dan juga keluarganya. Terlebih pendapatan sehari-hari keluarganya memang berasal dari warung ini semata.

“Sebelum ini, dalam sehari kami bisa mendapatkan penghasilan sekitar Rp 2 juta dalam sehari. Sekarang, untuk bisa mendapatkan Rp 1 juta saja susah,” kata ibu dua anak tersebut.

Namun dia juga menggarisbawahi bahwa dia sendiri bersama suami dan mertuanya berusaha berpikir positif, dan menghindari stres. “Dokter-dokter pun banyak bilang supaya kami tidak sampai tertekan atau stres. Kalau stres malah daya tahan kita melemah dan gampang sakit. Jadi, sebisa mungkin kami sekeluarga berusaha tetap berpikir positif,” kata Rina panjang lebar.

Di sisi lain, ada hal yang juga meringankannya dalam mengelola warung tersebut karena tidak mempekerjakan orang luar. Untuk memasak sampai melayani pembeli dilakukan secara bergantian antara dirinya, suami, dan ibu mertuanya. “Jadi tidak merasa terbeban dengan nasib pekerja,” katanya lagi.

Sekarang, kata Rina, yang sempat membebani pikirannya cuma soal kesempatan mudik.

See Also

Menurutnya, memang ada keinginan untuk mudik ke Tegal, Jawa Tengah, namun ia menegaskan hanya bisa mengikuti imbauan pemerintah.

“Kan pemerintah memberikan imbauan itu buat kebaikan kita juga dan orang-orang di kampung. Jangan sampai kita jadi pembawa penyakit ke kampung kita sendiri,” Rina menambahkan.

“Jadi, kalau memang pemerintah mengimbau untuk tidak mudik karena alasan itu (mencegah penyebaran Corona) kami pasti akan ikut-ikut saja.”***

Penulis: Zulfikar Akbar

What's Your Reaction?
Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0
View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 Bersama Lawan Covid19 | Didukung oleh Cipendawa Rent Bus

Scroll To Top