Now Reading
Cerita Penjual Gudeg di Yogyakarta Jualan Saat Pandemi, Tetap Laris karena Gunakan “Face Shield”

Cerita Penjual Gudeg di Yogyakarta Jualan Saat Pandemi, Tetap Laris karena Gunakan “Face Shield”

Jarum jam menunjukan pukul 06.30 WIB, beberapa warga tampak berolah raga dengan bersepeda dan ada juga yang jogging melintas di jalan Urip Sumoharjo, Kota Yogyakarta. Kendaraan bermotor juga terlihat melintas meski belum begitu ramai. Di depan sebuah toko di Jalan Urip Sumoharjo beberapa orang warga mengantre satu penjual gudeg untuk sarapan pagi.

Sebelum membeli, mereka terlebih dulu mencuci tangan di tempat yang sudah disediakan oleh penjual gudeg. Tak hanya tempat cuci tangan, penjual gudeg di depan sebuah toko ini juga menyiapkan hand sanitizer.

Sediakan hand sanitizer, cuci tangan dan pakai face shield

Dengan sabar dan ramah, ibu penjual gudeg melayani satu persatu pembeli. Gudeg ini memang tidak berbeda dengan yang ada di Yogyakarta. Hanya saja, penjual gudeg di Jalan Urip Sumoharjo ini berjualan dengan mengenakan masker dan face shield. Hal ini dilakukan karena saat ini sedang terjadi pademi Covid-19.

“Saya memakai pelindung ini (face shield) sudah sejak empat hari lalu. Kalau sebelumnya hanya pakai masker,” ujar Sudarmi (63) penjual di Jalan Urip Sumoharjo, Kota Yogyakarta saat ditemui Kompas.com, Jumat (29/05/2020).

Sudarmi mengaku mengenakan masker dan face shield karena saat ini sedang ada pademi Covid-19. Masker dan face shield ini untuk melindungi diri dari Covid-19. Tak hanya itu, masker dan face shield juga untuk melindungi para pembelinya. Sehingga pembeli merasa lebih aman dan nyaman karena penjualnya telah menjalankan prosedur kesehatan.

“Biar semua aman, biar sehat tidak kena corona. Ini (kesadaran) saya sendiri biar aman,” ungkapnya. Beli face shield Rp 15.000 untuk APD Face shield yang dikenakannya dibelinya dari seseorang seharga Rp 15.000. Masker dan face shield ini menjadi sesuatu yang wajib dikenakannya saat berjualan.

Ia pun tetap merasa nyaman menjalankan aktivitasnya berjualan meski harus mengenakan face shield. “Ini (face shield) saya lepas setelah sudah selesai jualan, kalau masker tetap pakai. Ini (face shield) kalau sampai rumah rutin saya bersihkan,” tegasnya.

Sempat tidak jualan 12 hari

Menurutnya saat awal-awal Covid-19 sempat tidak jualan selama 12 hari. Saat puasa, pun Sudarmi juga memilih untuk tutup. Setelah hari raya Idul Fitri, Ibu berusia 63 tahun ini kembali berjualan gudeg. Diakuinya, saat pandemi Covid-19 ini orang yang datang membeli gudeg hanyalah warga Yogyakarta.

Sebelum pandemi Covid-19, pembelinya banyak orang dari luar daerah yang sedang berwisata di Yogyakarta. Bahkan, turis mancanegara juga ada yang menjadi langganan gudegnya. “Kalau dulu orang Jakarta, Surabaya, Kalimantan. Ada orang Australia yang nikah dengan orang sini (Yogya) beli (gudeg) dibawa ke sana (Australia), sudah beberapa kali,” ungkapnya.

Sudarmi menceritakan dahulu ibunya yang berjualan gudeg. Kemudian Sudarmi meneruskan setelah ibunya meninggal dunia. Awal-awal saat masih muda Sudarmi yang saat ini tinggal di Desa Condongcatur, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman ini berjualan gudeg dengan berkeliling naik sepeda.

Sudarmi menjajakan gudegnya berkeliling di daerah Klitren, Kota Yogyakarta. Setelah itu, Sudarmi kemudian memilih setiap pagi untuk berjualan di depan sebuah toko di Jalan Urip Sumoharjo. Ia berjualan dengan dibantu suaminya, Sarijan (66). “Sekitar tahun 1986 saya jualan di sini, tidak keliling lagi. Dulu agak pojok di sana, setelah gempa itu bergeser ke sini,” katanya.

Selalu ingatkan pembeli untuk pakai masker

Sementara itu, salah satu pembeli gudeg, Miarto (50) warga Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta mengaku merasa nyaman karena penjual menggunakan masker dan face shield. “Ini keamanan dan kebersihannya lebih terjaga karena (penjual ) mengenakan masker dan face shield. Kalau tidak pakai masker atau pelindung yang lain, saya mau beli berpikir dua kali,” tuturnya.

Saat berjualan, Sudarmi selalu mengingatkan para pembelinya agar mengenakan masker saat keluar rumah. Karena ada saja pembeli yang tidak mengenakan masker. Sementara saat pedemi ini mengenakan masker menjadi hal yang penting untuk mencegah penularan. “Kalau ada yang tidak memakai masker selalu saya ingatkan. Saya ngomong mbok pakai masker kalau keluar,” tuturnya.

Menurutnya ada beberapa pembeli yang bisa menerima nasehatnya dan kemudian mengenakan masker. “Ya ada yang saya tanya kok nggak pakai masker? jawabnya sehat kok, gitu. Tapi ya saya pokoknya tetap terus mengingatkan saja,” pungkasnya.

Sumber : Kompas.com
Foto : Yustinus Wijaya Kusuma/Kompas

What's Your Reaction?
Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0
View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 Bersama Lawan Covid19 | Didukung oleh Cipendawa Rent Bus

Scroll To Top