Now Reading
Catatan Harian Dokter Pot: Terpaksa Pipis Saat Pakai APD Demi Pasien Coronavirus

Catatan Harian Dokter Pot: Terpaksa Pipis Saat Pakai APD Demi Pasien Coronavirus

Relawan Medis RS Wisma Atlit

Dokter Pot – yang punya nama lengkap dr. Otto Rajasa – rela berpisah jauh dari anak, istri, dan klinik kecantikan tempatnya berpraktek sehari-hari di Balikpapan, Kalimantan Timur, demi memenuhi panggilan tugas negara!

Dokter lulusan tahun 2002 dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur ini ditugaskan negara untuk membantu menangani pasien-pasien yang positif terinfeksi coronavirus (Covid-19) di RS Darurat Covid-19 Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta Pusat, sejak 6 April 2020 lalu.

Ayah seorang anak laki-laki ini – hasil pernikahannya dengan dr. Alia Shahnaz, seorang dokter spesialis kandungan yang teman seangkatan kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga – bangga dan senang selama bertugas di Wisma Atlet. Apalagi semua pasien yang ditanganinya banyak yang sembuh dan belum ada seorang pun yang meninggal dunia.

“Badai (wabah coronavirus) pasti berlalu. Semua musibah akan terasa ringan jika kita mau saling bergandeng tangan, bahu-membahu, saling peduli.”

Begitu keyakinan dan harapan Dokter Pot dalam catatan hariannya khusus ia kirim hanya untuk para pembaca BersamaLawanCovid-19 yang ia himbau untuk tetap berada di rumah saja selama ada wabah coronavirus.

Berikut catatan harian lengkap dokter kelahiran Karanganyar, Surakarta, Jawa Tengah, pada 13 September 1976 – yang betah menetap di Balikpapan setelah lulus kuliah tahun 2002 – selama bertugas di RS Darurat Covid-19 Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta Pusat:

Saat pemerintah menyatakan membutuhkan relawan medis dan non-medis untuk menangani Covid-19 saya tergerak untuk ikut ambil bagian sebagai seorang dokter.

Saya daftar di aplikasi docquity dan dipanggil satu minggu kemudian untuk berangkat, saat RS Darurat Covid-19 Wisma Atlet baru buka satu minggu. Hari Minggu 5 April 2020 saya berangkat dari Balikpapan dengan membeli tiket pesawat sendiri.

Saat saya mendaftar untuk jadi relawan medis Covid-19 sudah ada dokter meninggal dunia karena terinfeksi virus baru ini saat bertugas. Sebenarnya saya juga khawatir mengingat usia sudah 44 tahun. Namun panggilan nurani untuk maju berperang di garis depan membuat saya berani untuk kemudian meminta izin pada istri dan anak saya.

Saat berangkat mau ke Jakarta suasana Bandara Sepinggan, Balikpapan, sangat sepi. Pesawat saya digabung dengan penerbangan sore. Melihat sedikit penumpang ke Jakarta ada rasa tidak nyaman juga di hati.

Di saat seharusnya saya diam mengamankan diri di rumah saya justru berangkat ke area epicentrum Covid-19.

Istri saya sebenarnya awalnya juga khawatir. Demikian juga anak saya. Tetapi saya yakinkan bahwa saya akan kembali dengan selamat. Akhirnya saya pun diizinkan. Saudara-saudara di kampung baru tahu saya jadi relawan dari media sosial. Mereka khawatir tetapi juga bangga dan mendoakan.

Masa tugas saya di Wisma Atlet awalnya cuma satu bulan tetapi bisa diperpanjang sesuai kebutuhan. Kemungkinan tercepat saya akan bertugas di sini dua tiga bulan. Dari 6 April sampai 6 Juni 2020.

Ketika hari keberangkatan, Minggu 5 April 2020, saya dari rumah pagi hari ke Bandara Sepinggan diantar istri. Karena anak saya satu-satunya, Raul Ilma Rajasa, harus stay at home untuk mengurangi resiko terinfeksi coronavirus.

Bandara sangat sepi dan saya harus pulang lagi karena ternyata penerbangan pagi digabung jadi sore hari.

Saya membawa tiga kemeja, tiga t-shirt, tiga celana panjang, underwear secukupnya, dan sepatu. Semuanya masuk dalam satu koper kecil.

Tiba di Bandara Internasional Soekarno – Hatta saya dijemput seorang sahabat, namanya Didi Wahyudi, dan langsung diantar ke Wisma Atlet.

Sebelum tiba di Wisma Atlet saya melakukan pemeriksaan kesehatan yang dilakukan di Lab Prodia, Kramat, Jakarta Pusat untuk memastikan saya sehat dengan pemeriksaan darah, rontgen, rapid test, dan juga bebas Covid-19 karena saya akan mengurus pasien Covid-19.

Tiba di Wisma Atlet saya sempat tertahan di pos pemeriksaan karena saya belum memiliki kartu badge kuning. Kartu badge kuning diberikan jika hasil chek-up kesehatan lolos.

Setelah dapat kartu badge kuning saya bersama sembilan dokter lain ditempatkan di Tower 3 Wisma Atlet sebagai Relawan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) di Lantai 22. Ada sepuluh dokter, termasuk saya, dalam tim saya. Rata-rata usia mereka kurang dari 30 tahun, dokter-dokter muda.

Tim kami dibagi lima kelompok yang tiap hari bertugas di UGD, rawat inap, triase, HCU, dan poliklinik sesuai jadwal.

See Also

Suatu malam saya jaga di UGD berpakaian lengkap tertutup dengan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai protokol kesehatan IDI dan WHO (Badan Kesehatan Dunia).

Karena ruangan ber-AC sangat dingin rasa ingin pipis sangat mendesak. Saya sudah memakai pempers dan tidak tahan lagi saya pun pipis. Ternyata pampers bocor sehingga celana basah semua hingga dalam sepatu.

Karena tidak bisa meninggalkan tugas saya pun bertahan dengan celana basah hingga pagi hari. Saya baru membuka pakaian APD setelah tugas piket saya selesai.

Untuk melindungi diri agar tak terinfeksi pasien-pasien yang memang sudah positif terinfeksi coronavirus kami memang wajib memakai pakaian APD secara lengkap. Kami meminta pasien menutup mulut menggunakan masker dengan benar dan selalu menjaga jarak.

Saat jaga ruangan saya bertanggungjawab pada sekitar 200 pasien. Selama saya bertugas di sini, di Wisma Atlet, belum ada pasien yang meninggal dunia. Saya bersyukur sebagian besar pasien yang dirawat di sini sudah sembuh.

Saat istirahat usai bertugas atau piket, selama delapan jam per hari, saya sempatkan berkomunikasi dengan keluarga, dengan anak dan istri saya, di Balikpapan. Biasanya saya melakukan video call, teleponan, dan kirim video atau foto aktivitas saya selama bertugas di Wisma Atlet. Setidaknya ini jadi sebagai obat penghilang rasa rindu saya dengan anak dan istri saya.

Pesan saya buat semua yang membaca catatan harian saya ini untuk tetap tinggal di rumah saja – kecuali untuk urusan darurat – dengan tetap menjaga jarak, menghindari kerumunan, sering cuci tangan dengan sabun minimal duapuluh detik, tetap melakukan olahraga, makan dengan gizi seimbang, dan harus tetap semangat.

Badai pasti berlalu.

Semua musibah akan terasa ringan jika kita mau saling bergandeng tangan, bahu-membahu, saling peduli. (*)

What's Your Reaction?
Excited
8
Happy
0
In Love
1
Not Sure
0
Silly
0
View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 Bersama Lawan Covid19 | Didukung oleh Cipendawa Rent Bus

Scroll To Top