Now Reading
Belajar dari Legenda Militer AS

Belajar dari Legenda Militer AS

Di Amerika Serikat (AS), ada sebuah tempat pelatihan militer yang berada di arah utara Washington, di area Kaniksu National Forest. Suasana di sana sungguh mencekam, karena berada di kawasan pegunungan yang juga menjadi tempat hewan-hewan buas semacam serigala sampai dengan puma bisa ditemukan di mana-mana.

Di lokasi pelatihan militer yang memiliki luas 200 ribu hektare, mereka yang dilatih di sini belajar sebenar-benar belajar tentang bagaimana bertahan hidup.

Tentu saja, karena di sana mereka yang berlatih dididik untuk memahami beberapa jurus penting untuk bertahan. Makanya ada istilah survival, evasion, resistance, and Escape. Lantaran yang mereka pelajari adalah bagaimana mempertahankan hidup, bagaimana menghindari bahaya, bagaimana bertahan di tengah kondisi genting, hingga bagaimana melarikan diri dari bahaya atau situasi yang mengancam nyawa.

Ben Sherwood, salah satu jurnalis AS, yang juga penulis buku The Survivors Club, merekam hal itu di bukunya ini. Dari pengamatannya di sana, Sherwood menemukan sebuah pesan penting dari tempat pelatihan militer yang menyeramkan itu.

“Ketika sebuah kondisi semakin terasa tidak nyaman, justru itu akan semakin baik,” katanya di buku yang rilis sembilan tahun lalu itu. “Pelatihan (militer) bekerja selayaknnya satu vaksin. Jadi, ketika tantangan kecil terhadap sistem Anda muncul, maka itu Anda mesti mempersiapkan diri dan mempertahankan diri untuk melawan siksaan yang jauh lebih berat.”

Sekilas cerita dan pesan dari buku itu terasa menyeramkan. Namun, mengutip pandangan penulis yang juga pernah menjadi produser di ABC’s Good Morning America ini, pemandangan itulah yang membuat siapa saja bisa menciptakan kekebalan di dalam dirinya, entah untuk menghadapi segala situasi terberat atau bahkan menghadapi segala tekanan.

Jika diringkas dalam kalimat lebih sederhana, semakin banyak kejutan terjadi dalam hidup, maka Anda akan semakin kuat untuk menanggung segala kejutan itu.

Lalu?

Ya, jika ditarik persamaan antara tempat pelatihan militer dengan kondisi kekinian adalah realitas hidup. Hidup sering menunjukkan wajahnya dengan berbagai keadaan yang tak selalu dapat diduga.

Covid-19 atau virus Corona yang kini membuat dunia panik, hingga berita-berita saban hari tak pernah berhenti mengangkat tentang wabah ini.

Di Jakarta, sebagaimana kota-kota lainnya, ketakutan pun tak jarang terasa lebih besar daripada ancaman itu sendiri. Satu sisi lumrah saja, karena ini juga merupakan pemandangan yang tak terduga, terlepas ada berbagai pandangan ilmuwan yang sempat “mengendus” kemungkinan ini terjadi jauh-jauh hari.

Namun ada hal yang bisa dipetik dari sini adalah tidak semua pemandangan buruk itu ada untuk sebuah tujuan buruk. Alam yang sejatinya tidak pernah diam, pasti akan selalu menciptakan berbagai pemandangan dan keadaan yang tertuju untuk sesuatu yang lebih baik.

Tampaknya ini juga yang membuat banyak pakar sampai ahli jiwa mengajak untuk melihat realitas secara apa adanya, sembari tetap membangun pikiran baik. Di sisi lain, inilah jalan untuk menciptakan manusia yang lebih kuat dan lebih baik.

Saya mengatakan begini karena menyimak ada kegandrungan sementara pihak yang merasa heroik ketika membahas realita bermuatan ketakutan hingga kebencian berlebihan. Seolah jika berbicara sudut pandang baik, maka itu tidak lebih hanya upaya mencari pembenaran.

Padahal jika menilik dari skala terkecil, diri sendiri pun, sudut pandang positif sajalah yang bisa membuat satu individu tidak kalah oleh sebuah keadaan buruk atau bahkan terburuk. Sebab dari sinilah pikiran bisa bekerja lebih baik, mental bisa terjaga lebih baik, hingga saat bertindak pun cenderung bisa bertindak lebih baik.

Toh, terlepas seberat apa pun kondisi saat ini, namun bisa dipastikan kita pun pernah menghadapi kondisi buruk. Apa yang bikin banyak orang yang menghadapi kondisi buruk dapat meloncat ke kondisi lebih baik, bisa dipastikan bukanlah pikiran buruk. Melainkan, justru karena adanya pikiran baik yang terus dijaga dan dipelihara di tengah situasi terburuk.

Sebab, sekali lagi, kondisi terburuk dapat saja menjadi cara alam memberikan sesuatu yang terbaik. Ya, jika Anda percaya bahwa alam menganut sebuah hukum tegas di tengah sejarah panjangnya; keseimbangan.

Kondisi buruk tidak hilang dengan saling mengutuk. Kondisi buruk justru dapat dihilangkan dengan lebih banyak orang yang mau berpikir, bersikap, hingga menciptakan kebiasaan baik.

See Also

Inilah yang paling mungkin untuk ditunjukkan dan ditebarkan oleh semua orang. Sebab jika berbicara tentang virus hingga dunia medis, maka masih banyak orang lain yang jauh lebih berkompeten. Sedangkan saya pribadi, misalnya, karena sehari-hari berkutat dengan media, maka yang bisa saya harapkan adalah timbulnya gairah lebih baik untuk menciptakan keadaan lebih baik. Ini saja, saya kira.

Begitu juga Anda, jika wawasan seputar virus dan dunia medis adalah dunia asing bagi Anda, setidaknya Anda masih bisa berperan untuk membantu terciptanya kemungkinan lebih baik. Lewat mana? Lewat pikiran-pikiran baik yang bisa Anda tularkan.

Sebuah pesan

Kembali mengacu ke cerita dari lokasi pelatihan Angkatan Udara AS di awal tulisan ini, ada pesan menarik dari Tom Lutyens–pelatih legendaris dalam urusan bertahan hidup di matra udara militer AS tersebut.

Tom menggarisbawahi pesannya bahwa bertahan hidup bukanlah cerita tentang apa jenis kelamin Anda. Di tengah segala situasi terburuk, apa yang sangat menentukan perilaku Anda sendiri.

Bahkan ia juga menyebutkan bahwa apa yang Anda ketahui dan sejauh mana peralatan dan perlengkapan Anda miliki, masing-masing cuma berperan sepuluh persen.

Sekarang, bagaimana Anda melihat diri sendiri di tengah pandemi saat ini? Kembali kepada Anda sendiri.

Zulfikar Akbar (Jurnalis media online, berdomisili di Jakarta Selatan, survivor operasi militer dan gempa-tsunami Aceh)

What's Your Reaction?
Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0
View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 Bersama Lawan Covid19 | Didukung oleh Cipendawa Rent Bus

Scroll To Top