Now Reading
Bahasa Rakyat di Tengah Pandemi

Bahasa Rakyat di Tengah Pandemi

Bukan kebetulan bahwa Ronggawarsita dinobatkan sebagai pujangga (Jawa) di ”Zaman Akhir” atau ”Zaman Edan”. Zaman yang oleh Benedict Anderson (2000) ditandai sebagai ”saat kelam” di mana tak ada lagi ”tuntunan”, selain ”tontonan” yang memperlihatkan jungkir baliknya zaman (wolak walik ing zaman). Itulah mengapa beragam karya seni di zaman itu berciri begitu sinis, satiris, bahkan tak jarang parodis.

Kini, setelah hampir dua abad berlalu, berbagai karya seni yang dihasilkan tentu telah mengalami banyak perubahan. Salah satu cirinya adalah dominasi aroma selebritas, industrial, dan fenomenal. Karena itu, tak heran jika kebanyakan karya seni berpretensi untuk menjadi populis, bahkan milenial. Termasuk pada masa pandemi Covid-19 ini, karya seni seperti musik juga tak lepas dari hal itu.

Lagu-lagu yang diproduksi pada masa pandemi tampak lebih berintensi demi kepentingan massal daripada sekadar individual. Apalagi di tengah situasi sosial yang harus menaati sejumlah protokol kesehatan. Industri musik yang mampu menjadi viral dan kontroversial merupakan strategi ”minus malum” (memilih yang lebih sedikit buruknya di antara yang terburuk) dan masuk akal untuk dijalankan.

Kontroversi itu, misalnya, dialami oleh penyanyi dangdut perempuan yang menjadi viral dengan lagu koronanya. Lagu berjudul ”Corona” yang singkatan ”Comunitas Rondo Merana” yang didendangkan oleh biduan muda Alvi Ananta asal Banyuwangi menuai protes masyarakat termasuk warganet, pada awal Maret 2020. Judul dan lirik lagu tersebut dipandang terlalu dipaksakan dan seolah menari di atas penderitaan kaum pekerja migran atau Tenaga Kerja Indonesia (TKI)”.

Boleh jadi judul lagu yang bernada ”plesetan” itu memang tampak direkayasa. Namun, bukankah hal itu adalah bagian dari berbahasa yang bukan sekadar karena latah (Geertz, 1968), melainkan lantaran gelisah?

Dalam konteks ini, menarik untuk mengajukan tulisan-tulisan di pojok-pojok jalan atau portal penghalang masuk di gang-gang perkampungan pada masa pandemi ini sebagai kajian perbandingan. Beragam tulisan seperti ”Lockdown atau smackdown”, ”Corona negatif istri positif”, atau ”Corona jahat kayak mantan #dirumahaja” menunjukkan bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi dan akan menjelang ketika negeri ini dinyatakan terdampak virus Covid-19.

Hanya karena belum jelas apa yang perlu dikerjakan, aksi-aksi reaktif, khususnya dalam bahasa tulisan itu adalah penampakan dari pengalaman gelisah. Maka bukan kebetulan jika gaya bahasanya senada dengan yang sedang viral dan populer, terutama di laman-laman medsos. Dengan demikian, pesan-pesan yang dibahasakan secara guyonan atau ”ambyar” itu sesungguhnya menggaungkan beragam rasa, yaitu anxious (cemas), trembling (gemetar), unmoored (tanpa pegangan), expectant (menanti-nanti), (Anderson, 2015).

Berbeda dengan bahasa resmi, semisal dari pemerintah atau raja, bahasa yang gelisah itu tampak steril dari jargon-jargon. Sebab bahasa itu ibarat sapaan agar tidak lupa dan mudah abai terhadap sesama yang ada di samping kiri dan kanan kita. Maka sapaan itu bukan sekadar simbol, tetapi aksi nyata yang mengingatkan agar kita tidak hanya gemar berbahasa “adi-luhung”, sementara di sekitar kita sedang dilanda fenomena “adi-linglung”.

Hal itulah yang telah dikerjakan oleh seniman musik campursari ternama, Didi Kempot. Karena itu, belum genap sebulan, penyanyi dengan julukan ”The Godfather of Broken Heart” itu, yang sempat menggelar konser amal dari rumah bersama Kompas TV untuk mereka yang terdampak pandemi ini, telah berpulang pada Yang Maha Kuasa.

Kepulangannya yang serba mendadak pada awal Mei 2020 ini tentu membuat banyak pihak merasa kaget dan juga ”kagol” (kecewa), termasuk para Sobat Ambyar. Namun, segala karya seninya telah memberi pelajaran bahwa bahasa musik atau lagunya yang menggaungkan spirit ”ambyar” justru mampu menggerakkan banyak orang untuk berempati dan berdonasi sejumlah 7,6 milyar.  Heboh sekali bukan?

Kenyataan ini mirip dengan apa yang pernah dikaji oleh Takashi Shiraishi terhadap aksi kerakyatan di Jawa pada awal abad ke-20. Dalam bukunya yang berjudul Zaman Bergerak (1997), Shiraishi menunjukkan bahwa bahasa Ratu Adil justru digerakkan oleh aksi para petani dari desa yang buta huruf, tetapi merasa takjub dan bangga ketika menghadiri rapat-rapat akbar (vergadeering) serta mendengarkan pidato/ceramah (voordracht).

Mereka seperti menemukan dunia baru yang luar biasa dan menggairah saat menyaksikan para pemimpin dari organisasi Sarekat Islam (SI) dapat duduk dan berbicara sejajar dengan para pejabat kolonial Belanda. Kesaksian itu dicatat sebagai pengalaman yang aneh dan tidak lazim serta membuktikan bahwa aksi nyata dari rakyat kecil dapat menghasilkan kuasa-kata yang mengarah pada perwujudan harapan-harapan ”milenarian” atau ”mesianik”.

Pada titik itulah gaung dari tulisan-tulisan di spanduk atau konser amal ala Didi Kempot memberikan semacam ”iluminasi” (Benjamin, 1923/1968) yang menuntut pihak-pihak yang berkuasa, baik umara maupun ulama, untuk segera berjuang menangani pandemi global ini. Dalam konteks ini, iluminasi dari seni(man) yang saat ini tengah berada di ”Zaman Ambyar” menjadi amat penting dan menentukan demi menggaungkan apa yang sedang digelisahkan oleh rakyat di bawah.

Hal ini pernah ditegaskan oleh pianis Ananda Sukarlan yang memandang bahwa seni bukan sekadar untuk meramaikan pasar. Akan tetapi, seni dapat menjadi produk dari pasar asalkan bukan melulu sebagai ”karya latar belakang” atau ”karya smartphone” belaka. Itu artinya, seni tetap dapat menjadi hiburan, namun mampu bergaung sebagai kunci rahasia kegagalan yang hanya berintensi membuat semua orang senang.

Inilah sesungguhnya seni(man) yang mampu membaca (kegelisahan) para penonton, pendengar dan pembacanya di ”Zaman Ambyar”. Seniman Zaman Ambyar, bersatulah!

(Anicetus Windarto, Peneliti di Lembaga Studi Realino, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta)

Sumber : Kompas.id

What's Your Reaction?
Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0
View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 Bersama Lawan Covid19 | Didukung oleh Cipendawa Rent Bus

Scroll To Top