Now Reading
Antropodise Wabah

Antropodise Wabah

Oleh Yonky Karman

Menjelang akhir musim semi, di Oran, sebuah kota pelabuhan utama di Aljazair (Afrika Utara), koloni Perancis di Afrika, tiba-tiba muncul fenomena tikus-tikus bergelimpangan mati di jalan-jalan. Warga kota juga mulai terjangkit demam tinggi disertai igauan dan benjolan-benjolan bernanah. Dalam 48 jam, 11 nyawa terenggut. Lebih banyak lagi korban hari-hari selanjutnya. Itulah awal novel La Peste karangan Albert Camus, sastrawan Perancis peraih Nobel, yang sebenarnya hendak menggambarkan situasi mencekam negerinya ketika dikuasai Nazi Jerman.

Memasuki musim panas, muncul suasana mencekam di kota berpenduduk sekitar dua ratus jiwa itu. Sebagian besar warga tak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Yang berpengetahuan bertanya-tanya apakah itu benar sampar yang sudah 20 tahun lenyap dari perbincangan dunia medis di Barat. Mereka mempersoalkan apakah benar efek penularan penyakit yang belum jelas itu bakal dahsyat seperti dikhawatirkan.

Orang bersikap ambigu antara khawatir (dirinya juga akan kena wabah) dan percaya (wabah irasional itu tak akan berlangsung lama). Sejak dulu, wabah adalah mimpi buruk, mimpi yang tak pernah berlalu, hanya berganti dari satu mimpi buruk ke mimpi buruk lain, dengan manusia yang berlalu karena gagal mengantisipasi.

Akhirnya, penguasa menyatakan Oran tertutup dan orang tak boleh meninggalkan kota; yang masuk pun tak boleh keluar lagi. Hukuman berat untuk upaya meninggalkan kota. Jam malam berlaku. Satu-satunya alat komunikasi dengan dunia luar dari dalam kota adalah telegram; itu pun dibatasi tak lebih dari sepuluh kata.

Warga kota yang sehat menjalani hari-hari membosankan di tengah kekurangan obat dan tenaga kesehatan. Reaksi warga beraneka ragam. Dari frustrasi dan menenggak minuman keras, menimbun makanan, mencari untung besar di tengah kelangkaan, sampai mulai datang ke gereja untuk mendengarkan khotbah. Derita terberat mereka adalah perpisahan dari kekasih dan keterisolasian.

Ambiguitas wabah

Kelompok yang memilih tak berdiam diri terbelah dua. Paneloux dengan retorika yang kuat merepresentasikan kelompok moralis. Wabah sampar dipandang sebagai hukuman Tuhan secara kolektif untuk menundukkan keangkuhan manusia, sambil merujuk kisah Firaun dari Mesir dalam kitab suci. Paneloux mencegah Tuhan dipersoalkan dan Yang Mahakuasa selalu benar (teodise). Justru, manusia harus menerima azab dan introspeksi.

Sebagai awam dalam teologi, Bernard Rieux, dokter muda yang terpisah dari istrinya yang tetirah di luar kota, tak mau terlibat perdebatan teologis dengan Paneloux. Ia menyebut Paneloux ”berbicara atas nama kebenaran”, sementara sebagai dokter ia ”mengikuti jalan kebenaran dengan berjuang” sekuat tenaga melawan wabah sebelum berbicara tujuan-tujuan moral di balik wabah.

Melawan pasrah, berkejaran dengan waktu, tanpa kenal lelah, dengan risiko tertular, ia menangani orang sakit. Perjumpaan langsung dengan orang sekarat membuat ia menyimpulkan, ”Karena dunia diatur oleh kematian, mungkin lebih baik bagi Tuhan jika orang tak percaya kepada-Nya, supaya orang berjuang sekuat tenaga melawan kematian tanpa mengangkat pandang ke langit di mana Dia berada sambil berdiam diri”.

Epidemi hanya berhenti dengan penanggulangan ketat atau berhenti sendiri setelah menelan korban dalam jumlah besar (itu berarti separuh penduduk kota bisa mati dalam dua bulan).

Rieux tak menyerah kepada wabah. Mencintai atau mati bersama, itulah motonya. Tindakan heroik Rieux menginspirasi orang lain berpartisipasi sebagai sukarelawan medis. Ada yang berusaha membuat serum untuk mengurangi pasokan yang kurang. Yang lain mencoba segala cara untuk memerangi sampar.

Solidaritas bangsa

Rieux representasi rasionalitas dan moralitas yang langsung berhadapan dengan penderitaan. Namun, rasionalitas menyikapi wabah tidak hanya antara Rieux dan Paneloux. Untuk bangsa Indonesia yang religius, tantangannya adalah untuk memiliki sikap dan laku yang tidak boleh kurang daripada yang dimiliki Rieux dan kawan-kawan.

Soalnya bukan antara takut Tuhan (Sang Pencipta) atau takut virus (bagian dari alam ciptaan). Tindakan memerangi wabah tak berarti melawan takdir atau rencana Tuhan. Terlalu sederhana kategori virus sebagai makhluk ciptaan untuk menghukum manusia. Kita sudah dikaruniai akal untuk melakukan ikhtiar, bertanggung jawab untuk kemaslahatan sendiri ataupun orang banyak.

Sudah terbukti tidak ada yang cukup tangguh menghadapi makhluk yang tak kasatmata ini. Orang kaya atau miskin, pejabat atau rakyat jelata, rohaniwan atau awam, semuanya bisa tertular. Pandemi global ini juga berdampak ekonomi luar biasa. Bukan saatnya membicarakan apa maksud Tuhan. Bukan saatnya menyalahkan siapa yang paling bertanggung jawab atas krisis ini.

Saatnya untuk berkolaborasi melawan wabah ini agar tak meluas. Hari-hari ini kita melihat tenaga kesehatan sebagai garda depan berjibaku pikiran dan jiwa untuk menyelamatkan nyawa korban terinfeksi. Pemerintah bekerja keras. Anggaran digelontorkan. Berbagai kelompok sukarelawan dadakan bermunculan untuk membatasi wabah. Ada yang membuat cairan antiseptik. Ada yang menjadi bagian mengedukasi masyarakat untuk rajin cuci tangan. Ada yang menjadi bagian menangkal hoaks.

Dengan solidaritas bangsa yang meruntuhkan sekat-sekat primordial, insya Allah, kita keluar dari krisis kemanusiaan dan bangun dari keterpurukan ekonomi. Hanya dengan solidaritas nyata, kita bisa.

(Yonky Karman Pengajar Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta)

Sumber : Kompas Cetak (13 April 2020)
Foto : Riza Fathoni/Kompas

What's Your Reaction?
Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0
View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 Bersama Lawan Covid19 | Didukung oleh Cipendawa Rent Bus

Scroll To Top