Now Reading
Antisipasi Dampak Buruk Menatap Gawai Terlalu Lama Saat Pembatasan Sosial

Antisipasi Dampak Buruk Menatap Gawai Terlalu Lama Saat Pembatasan Sosial

Azka Putri (27) mencermati petunjuk jam di layar laptopnya. Di sela-sela waktu bekerja, dia memastikan diri agar tidak terus terpaku di depan laptop. Rabu (29/4/2020) siang menjelang pukul 12.00, perempuan ini berusaha mengalihkan pandangan dari laptop, sesekali melihat ke arah jendela.

Dia menyempatkan waktu sedikitnya lima menit setiap setengah jam untuk berpaling dari laptop. Hal itu dilakukan untuk mengurangi aktivitasnya di depan gawai. Kecenderungan itu ia sadari beberapa pekan lalu, setelah ponselnya menampilkan indikator waktu penggunaan gawai yang lebih dari sembilan jam.

“Awalnya memang aku merasa terlalu berkutat sama gawai, mulai dari garap kerjaan di laptop, menjauh dari layar monitor pun masih lihat ponsel untuk cek media sosial dan lain-lain. Lalu, tahu-tahu muncul notifikasi pemakaian ponsel yang ternyata cukup lama, padahal biasanya enggak selama itu,” ujar pekerja staf komunikasi pemasaran sebuah perusahaan telekomunikasi tersebut.

Warga Klender, Jakarta Timur, ini semakin hati-hati dalam memakai gawai saat bekerja dari rumah. Belakangan, dia menentukan agar laptop menyala mulai pukul 08.00 hingga pukul 19.00. Dia semakin ketat membatasi durasi berkutat di depan laptop, sembari mengurangi durasi menatap ponsel.

Kondisi Azka yang kian bergantung dengan gawai turut dipicu kebingungan di rumah saat pandemi Covid-19. Ketika pekerjaannya tidak menuntut banyak aktivitas fisik di rumah, dia mesti berpikir keras untuk menyelingi kegiatan di luar penggunaan gawai.

Pengalaman Azka mungkin dialami sebagian orang selama pandemi Covid-19 saat ini. Durasi menatap gawai atau lebih umum disebut screen time belakangan kian mendera warga saat pembatasan sosial.

Gracia Adiati (25), pekerja di Jakarta Pusat, juga mengalami hal serupa selama pembatasan sosial di rumah. Dia kebingungan mencari variasi aktivitas lain setelah hampir genap sebulan bekerja di rumah. Dia akui, kebiasaan menengok gawai jadi jalan pintas kala kebosanan melanda. “Selama hampir sebulan, agak bingung juga cari variasi kegiatan saat bekerja di rumah. Kalau bingung mau ngapain, ya, larinya ke gawai. Coba-coba nonton apa gitu mungkin,” ucap warga Menteng, Jakarta Pusat, ini.

Kondisi mendesak

Peningkatan durasi menatap gawai atau screen time menjadi kondisi keterpaksaan yang bersifat mendesak di kala pandemi Covid-19. Psikolog Universitas Gadjah Mada, Galang Lufityanto, menilai, durasi screen time terpengaruh berbagai kebutuhan saat bekerja di rumah. Fitur seperti telekonferensi, pesan instan, surel, serta penyimpanan berbasis internet kini semakin dibutuhkan untuk mempercepat koordinasi pekerjaan.

Galang menambahkan, definisi screen time yang tadinya lebih terasosiasi pada kegiatan konsumsi konten digital, bermain gim, dan mengakses media sosial, kini menjadi sedikit bergeser. Kini, pembahasan screen time juga berkaitan dengan hal-hal produktif untuk koordinasi pekerjaan.

“Kondisi pandemi Covid-19 kini memengaruhi makna screen time yang merujuk pada kegiatan bersifat konsumsi konten digital. Untuk sejumlah kegiatan produktif saat work from home, penggunaan gawai turut mengatasi kebutuhan interaksi sosial yang hilang karena situasi pandemi,” tutur Galang.

Meski begitu, Galang menjelaskan, penggunaan gawai terlalu lama dapat berdampak secara fisik dan psikis. Dia merujuk studi Jean M Twenge dan Keith Campbell, peneliti dari San Diego State University, terkait hubungan antara durasi menatap gawai dengan kondisi psikologis anak usia belia dan remaja.

Penggunaan gawai, meliputi ponsel, komputer, perangkat gim, dan televisi dalam tingkat ekstrem, yakni hingga lebih dari tujuh jam, turut memicu kurangnya pengendalian diri, emosi yang tidak stabil, kekurangan empati, serta menimbulkan depresi. Pengaruh ini terjadi lebih kuat pada anak-anak usia remaja.

“Secara psikologis, dampak tersebut mungkin juga dapat berpengaruh pada orang dewasa. Justru kalangan dewasa yang lebih rentan depresi. Oleh karena itu, perlu kedisiplinan untuk mengatur waktu sehingga durasi screen time tidak berdampak ke kondisi psikis,” jelas dia.

Adaptasi

Pakar Komunikasi dari Universitas Indonesia, Firman Kurniawan berpendapat pandemi Covid-19 kini memaksa berbagai kelompok berinteraksi melalui teknologi digital. Dengan begitu, wajar bila durasi screen time gawai akan meningkat. Tidak ada cara selain beradaptasi dengan kondisi saat ini.

Firman menambahkan, peningkatan durasi screen time pada gawai mungkin juga menjadi bagian dari kondisi “The New Normal” yang diprediksi sejumlah peneliti. Kondisi ini akan merubah tatanan sosial dan perilaku di masyarakat, hanya perlu pembiasaan hingga beberapa bulan ke depan.

“Kondisi yang serba digital saat ini, bukankah telah menjadi cita-cita sebagian warga sebelumnya? Saran saya, masyarakat sebaiknya memanfaatkan gawai dengan durasi screen time se-efisien mungkin. Dengan memanfaatkan screen time secara efisien, sesungguhnya kita tengah berinvestasi waktu dan beradaptasi dengan situasi normal yang baru,” jelas Firman.

Untuk beradaptasi, Catherine Price, pemerhati masalah screen time serta penulis How to Break Up With Your Phone (2018) membagi sejumlah tips berkutat dengan gawai di masa pandemi, seperti dilaporkan The New York Times.

Pertama, yakni kategorikan kegiatan di depan gawai menjadi tiga, meliputi kegiatan produktif, konsumtif, dan interaktif. Ketiga kategori berusaha memisahkan yang mana kegiatan bekerja, konsumsi konten digital, serta kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain lewat gawai. Usahakan untuk membuat ketiganya seimbang.

Kedua, selalu amati kondisi emosi Anda ketika di depan layar. Bila Anda merasa produktif dan tenang meski berjam-jam di depan layar, sila lanjutkan aktivitas tersebut. Bila Anda dalam kondisi yang tidak baik, jangan ragu untuk berhenti menatap layar dan beralih ke hal lain.

Ketiga, hindari dampak dari stress-scrolling, yakni berjam-jam berkutat di depan gawai sambil mengusap layar ke atas dan ke bawah tanpa melakukan hal lain. Kondisi ini kerap terjadi saat Anda melihat konten media sosial, seperti Instagram dan Twitter.

Keempat, Berkegiatan dengan orientasi tujuan. Usahakan menarget tujuan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dalam sehari. Prioritaskan pekerjaan apa yang harus selesai lebih dulu, sehingga durasi screen time terasa lebih produktif.

Kelima, ambil waktu istirahat. Kondisi ini sangat diperlukan, apalagi bila pekerjaan Anda minim dengan aktivitas fisik. Ambil waktu istirahat yang menurut Anda nyaman, lebih bagus bila Anda mengurangi penggunaan ponsel saat malam. Selama waktu istirahat, jangan lupa untuk tetap banyak bergerak di masa pandemi.

Sejumlah poin tersebut dapat dijadikan pegangan untuk menjaga durasi screen time. Sebagai pengingat, tubuh dan pikiran Anda memerlukan variasi, tidak melulu berurusan dengan gawai.

Sumber : Kompas.id
Foto : Jaeyi Kim

What's Your Reaction?
Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0
View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 Bersama Lawan Covid19 | Didukung oleh Cipendawa Rent Bus

Scroll To Top