Now Reading
Agar Tak Bosan di Rumah Selama PSBB

Agar Tak Bosan di Rumah Selama PSBB

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) mulai 10 April 2020. Semua kegiatan perkantoran dihentikan sementara, kegiatan keagamaan dilakukan di rumah, dan hanya beberapa sektor yang diizinkan beroperasi. Selama PSBB berlangsung, warga Jakarta harus cari akal agar tidak bosan berada di rumah selama 14 hari.

Dalam jurnal The Unengaged Mind: Defining Boredom in Term of Attention (2012), kebosanan diartikan sebagai ”pengalaman berlawanan dari keinginan untuk terlibat di kegiatan yang memuaskan, tapi tidak dapat diwujudkan.” Seperti ditulis The New York Times, kebosanan adalah bentuk fenomena perilaku yang disebut adaptasi hedonis, yakni kecenderungan untuk terbiasa dengan berbagai hal seiring berjalannya waktu.

Studi American Psychological Association pada 2016 menyatakan, kebosanan akan menyerang 63 persen orang dalam kurun waktu 10 hari. Sebanyak 2,8 persen orang dilaporkan merasa bosan dalam waktu 30 menit. Penelitian dilakukan terhadap 3.867 orang dewasa.

Rasa bosan umumnya dialami oleh laki-laki, anak muda, orang yang belum menikah, dan orang dengan penghasilan rendah. Pada akhirnya, kebosanan dapat memicu emosi negatif, seperti rasa marah, khawatir, lelah, kesepian, frustrasi, dan kesedihan.

Emosi negatif kemungkinan telah dialami sejumlah orang sebelum PSBB berlangsung. Oleh sebab itu, energi negatif perlu dikonversi. Jika dibiarkan menumpuk, energi negatif dapat memicu penurunan imunitas tubuh selama pandemi Covid-19. Berikut sejumlah ide dari Kompas untuk mencegah bosan dan emosi negatif.

Berkebun

Selama harus diam di rumah, travel blogger Sutiknyo (39) memilih berkebun untuk menyalurkan stres. Pemberitaan tentang virus korona baru membuatnya cemas hingga sulit tidur. Saat terjaga, pikirannya dipenuhi dengan pemikiran buruk.

”Aku berbicara dengan teman-teman agar kecemasanku turun. Setelahnya, aku menggunakan waktu luang untuk berkebun. Senang saat lihat ada tunas yang tumbuh. Rasanya kecemasan semakin reda. Hormon bahagia keluar,” kata Sutiknyo saat dihubungi dari Jakarta, Sabtu (11/4/2020).

Beberapa hal yang ia tanam adalah kunyit, jahe, temu kunci, stroberi, anggur, cabai, tomat, dan sayuran hijau. Tanaman itu tersebar di tiga kebun di rumahnya.

Aku berbicara dengan teman-teman agar kecemasanku turun. Setelahnya, aku menggunakan waktu luang untuk berkebun. Senang saat lihat ada tunas yang tumbuh. Rasanya kecemasan semakin reda. Hormon bahagia keluar.

Berkebun membuat Sutiknyo rajin berjemur. Hal ini sesuai dengan anjuran ahli kesehatan untuk berjemur selama 10 menit pada  pukul 09.00-10.00 pagi. Selain itu, berkebun juga membuat ketahanan pangan di rumahnya terjamin.

Berbagi konten positif di media sosial

Pengalaman berkebun selama masa karantina menjadi inspirasi untuk berbagi konten di blog dan kanal Youtube miliknya, Lostpacker. Menurut Sutiknyo, warganet kini membutuhkan konten positif. Ia pun rutin mengunggah kegiatan serta tips berkebun melalui Instagram Stories.

Salah satu video yang diunggah Sutiknyo di Youtube bercerita tentang kiat menanam kunyit. Video itu diunggah tiga hari lalu dan disaksikan lebih dari 4.000 orang. Unggahannya di media sosial pun mendapat repons positif dari para pengikut.

”Berkebun bikin aku senang banget karena bisa melampiaskan stres. Sekarang aku sudah bisa tidur dengan tenang,” katanya.

Membuat target

Warga Sorowako, Sita (28), mencegah jenuh dengan membuat target yang harus dicapai setiap hari. Selama masa isolasi diri 14 hari, ia bertekad untuk mempelajari satu materi tentang teknologi informasi. Ia berharap agar dapat bekerja di bidang tersebut.

”Ini jadi momen untuk belajar lebih lama. Materinya aku pelajari di Youtube, lalu dirangkum di buku catatan. Di hari istirahat, aku tetap membaca catatan di buku,” kata Sita.

Di penghujung masa isolasi mandiri, targetnya telah tercapai sekitar 80 persen. Ia berencana mempelajari bahasa pemrograman komputer sambil menunggu pandemi Covid-19 membaik. Sebelumnya, ia juga memanfaatkan waktu dengan belajar bahasa asing.

Rencanakan jadwal harian

Membuat jadwal kegiatan yang hendak dilakukan bisa dijadikan acuan untuk terus beraktivitas di rumah. Sita mewajibkan diri untuk memulai kesibukan di pagi hari. Setelah membasuh diri dan sarapan, ia mulai belajar mandiri pada pukul 08.00. Ia berhenti sejenak untuk makan dan beristirahat pada siang hari.

Ia menyudahi kegiatannya sebelum petang. Waktu luangnya di pagi hari ia gunakan untuk bersantai dan menjelajahi internet.

”Kalau tidak punya target seperti ini, aku pasti akan bosan sekali selama masa isolasi. Aku pasti hanya bermalas-malasan kalau tidak ada jadwal kegiatan. Lama-lama bisa stres karena waktuku terpakai untuk berpikir hal yang negatif,” katanya.

Sumber : Kompas.id

Foto : Agus Susanto/Kompas

What's Your Reaction?
Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0
View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 Bersama Lawan Covid19 | Didukung oleh Cipendawa Rent Bus

Scroll To Top